tanda-kecanduan-media-sosial
By Ahmad Jumaili

Gadget dan Budaya Digital

Qalama.com – Yang sezaman dengan saya, tentu maklum, dulu sekitar tahun 90-an, di rumah, di sekolah, di kampus, di jalan, tak akan kita temukan orang-orang, berdiri atau duduk mengantri, sibuk sendiri sambil kulik-kulik hp, tak saling sapa.

Jaman begitu cepat berubah, sekarang kebalikannya. Kita menyaksikan itu terjadi dimana-mana dan sudah dianggap biasa pula. Dijaman ini gadget mengganti teman ngobrol dan kencan bahkan diskusi. Orang-orang sibuk sendiri. Demi teman setia ini, banyak orang saya liat lebih mementingkan gadgetnya daripada nyawanya sendiri. Ini berlaku buat teman saya yang suka baca pesan Whatsapp sambil mengemudi sepeda motornya.

Gadget adalah fenomena dunia yang menjadi kanal informasi paling private. Kita di paksa menggunakan media ini sebagai jalan satu-satunya komunikasi ditengah kemalasan kita bersilaturrahim. Bahkan di majelis silaturrahim saja, akhirnya kitapun sibuk sendiri dengan Gadget.

Terlalu banyak Media Sosial yang menyita waktu kita. Akhirnya kita lupa bersosial sesungguhnya dengan teman dan kerabat.

Akibatnya, kualitas otak manusia jaman now berkurang drastis. Generasi yang lahir pasca 2000-an menjadi kecanduan. Ini dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk meraih keuntungan.

Siapa yang untung, ya perusahaan handphone, perusahaan operator seluler, pengusaha iklan.

Kita saat ini lebih mementingkan Quota data daripada makan enak direstoran. Generasi kita saat ini tak perlu baju mahal karena narsis di sosial media tidak real time dan bisa di manipulasi secara digital. Cewek yang idungnya pesek bisa saja membuat dirinya mancung dan terlihat cantik bagi pengguna medsos yang lain. begitupula pria.

Para pebisnis juga lebih memilih memasarkan produknya dengan cara ini. Sebuah perusahaan yang tak punya kantor, tak memiliki karyawan, kredibilitas perusahaannya belum teruji, bisa saja menampilkan segala yang dia mau dengan citra terbaik. walaupun sebenarnya tak sebegitu amat.

Dus, kita sedang berada di budaya digital. Satu sisi sebuah kemajuan, disisi lain meresahkan. Satu sisi bisa meretas waktu dan jarak dengan sangat mudah, disisi lain kualitas hidup kita menjadi dibatasi Quota dan Sinyal 4G.

Belajar-merdeka
By Qalama Institute

Merdeka Belajar

Seorang senior ketika ospek dulu, sok pintar dan sok bijak, dia memberi motivasi begini :
“Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru”. Saya tau, senior ini sebetulnya sedang membual saja untuk melegitimasi dirinya yang lebih suka seminar yang ada duit daripada berlama-lama duduk dikelas.

Hey, tapi bener juga. Karena saya baca di buku Roem Topatimasang, konon sebelum sekolah dilembagakan kayak sekarang, orang-orang dulu belajarnya di bawah-bawah pohon, di pinggir-pinggir sungai, di tepi-tepi pantai, tak ada gedung-gedung seperti sekarang ini. Sembari menikmati udara sepoi-sepoi, gemericik air atau cicit burung. Kala itu, siapapun boleh dan bebas belajar, belajar apa saja, dimana saja, pada siapa saja. Benar-benar belajar merdeka, tak ada tata tertib, tak ada bayar-bayar, tak ada kemdikbud yang ngatur-ngatur. Pokoknya belajar bebas merdeka….hehe betapa senangnya, atau malah amburadul he

Tapi Begitulah dulu, benar tidaknya, saya tidak yakin. Tapi okelah. Begitulah gambaran sekolah di awal-awal berkembangnya ilmu pengetahuan. Kembali ke hakikat belajar sepanjang hayat, menyebarkan kebaikan dengan memberi petunjuk baik buat orang lain.

Sekarang, ketika sekolah sudah melembaga, ada gedungnya, ada pemerintahnya. Bahkan pemerintahnya mengatur ketat harus gini, harus gitu, semangat merdeka belajar ini menjadi penting. Dalam pendidikan yang katanya Modern, guru berada di posisi terbawah yang menerima kebijakan dan isntruksi dari pusat.

Istilah yang sering terucap dari pemilu ke pemilu, ganti presiden ganti kebijakan, ganti menteri ganti aturan. Belum saja kebijakan lama berhasil dilaksanakan, muncul lagi kebijakan baru. Kurikulum sudah berkali-kali ganti. Aplikasi pendataan bahkan lebih sering, puluhan mungkin ratusan.

Sialnya, semua kebijakan-kebijakan itu seperti Kitab Suci yang sudah paten gag bisa diubah-ubah. Persetan dengan kondisi daerah yang tidak sesuai dengan yang ada di pusat. Yang jelas kebijakan itu harus terlaksana, jika tidak, maka guru itu buruk, sekolah itu buruk, penddikan itu buruk. Selesai dengan laporan-laporan baik yang bisa membuat mereka tersenyum.

Mengikuti alur birokrasi seperti membuat guru terengah-engah. Konsentrasi mengajar sudah jauh melayang kemana-mana. Guru sibuk bikin silabus dan rencana pembelajaran, sibuk dengan kelengkapan akreditasi sekolah, sibuk dengan ulangan dan ujian nasional. Akhirnya 3 tahun anak-anak kita sekolah dengan muka kusut, terakhir mereka diapresiasi dengan selembar kertas berisi angka-angka “Bodoh”, begitupun guru. Pembelajaran, lingkungan sekolah, guru dan murid belajar dalam kondisi Nir kebahagiaan, Nir Kemerdekaan!!

Melepas diri dari semua problem itulah diisebut-sebut Belajar Merdeka. Guru Merdeka, Murid Juga Merdeka. Pun lingkungan sekolah juga dengan situasi merdeka. Apakah semudah itu? Tidak! Situasi ini sudah telalu lama membeku. Belenggunya terlalu kuat sehingga menebar ketakutan sampai hilangnya kepercayaan diri. Itulah kondisi saat ini.

Tapi masih bisakah berubah? Bisa! Dengan apa? Dengan meretas tiga hal dibawah ini.

Pertama, meretas belenggu rasa takut. Rasa takut membuat guru takut salah, siswa takut keliru, sekolah takut ditegur, pejabat takut dipecat. Ketakutan telah membuat kita tak bisa berbuat banyak. Kreatifitas yang menjadi pintu masuk sudah tertutup rapat.-rapat. Guru sibuk dengan tugas, siswa sibuk dengan PR, para pejabat sibuk dengan laporan. Pendidika seperti penjara.

Kedua, meretas banyak harap. Karena terlalu lama kita dalam kondisi begini, akhirnya semua kita betumpu pada banyaknya ekspektasi alias harapan. Siswa berharap lulus dan mendapat pekerjaan baik, guru berharap diapresiasi dengan gaji, piagam dan prestasi, pejabat berharap dinilai baik atasan dan diangkat ke jabatan-jabatan yang lebih basah. Banyak harap menjadikan semua pekerjaan pendidikan sudah kehilangan ruhnya. Proses keteladanan dan menularkan rasa ingin tahu sudah hilang.

Ketiga, meretas belenggu dari fikirannya sendiri. Tujuan (Goal) pendidikan yang ingin dicapai, secara tidak sadar telah membuat fikiran kita tak bebas menentukan pilihan. Guru sibuk mengejar prestasi, lupa berkolaborasi dan bersinergi. Siswa sibuk mengejar nilai, lupa dengan potensinya yang besar dibidang lain.

Dengan meretas 3 hal inilah, merdeka belajar bisa dihasilkan. Jika masih dilanda ketakutan, masih banyak harap dan fikiran masih terbelenggu, jalan menuju Pendidikan Merdeka itu masih panjang.

Paok Dandak, 29 Okt 2017