Tgb-jokowi-politik-212
By Qalama Institute

Membaca Dukungan TGB Untuk Jokowi & Arah Baru Pembangunan NTB

Tgb-jokowi-politik-212
Paox Iben Mudhaffar
Budayawan, Pengamat Sosial dan Pedagang Kopi

Qalama.com – Publik di NTB heboh dengan pemberitaan TGB yang menyatakan bahwa Jokowi layak memimpin Indonesia 5 tahun lagi. Pernyataan itu seperti menganulir pendapat yang selama ini menempatkan TGB sebagai pendukung “musuh” bebuyutan Jokowi.

Namun beberapa militan menyebut itu berita hoax meskipun link-nya cukup jelas. Ada juga yang menganggap bahwa TGB sedang khilaf saja. Sebagian yang lain mengatakan, ” TGB itu ulama, orangnya santun dan halus. Jadi wajar jika Beliau memuji Jokowi. Bukan berarti mendukung Jokowi,” kata salah satu pendukungnya melalui pesan massanger.

Sementara, beberapa yang mulai kecewa menyebut jika langkah itu dilakukan karena TGB cari aman. Seperti di lansir sebuah portal berita di portal-islam.id.

Terlepas pro dan kontra tersebut, banyak yang meyakini jika “meluluhnya” sikap TGB itu karena faktor DR. Zulkieflimansyah setelah terpilih menjadi Gubernur NTB menggantikan TGB. DR Zul, begitu sapaan pria kelahiran Sumbawa tersebut yang merupakan kader PKS itu merupakan politisi yang cukup cerdik dan pelobi yang sangat ulung.

Meskipun secara garis politik PKS sering berseberangan dengan pemerintahan Jokowi, namun DR Zul cukup dekat dengan lingkaran istana. Sebut saja Luhut Binsar Panjaitan, Ketum Golkar Erlangga Hartarto dan pengusaha Surya Paloh yang menjadi dedengkot partai Nasdem.

Kemenangan PKS di NTB di satu sisi seperti oase ditengah merosotnya perolehan suara para kandidat kepala daerah yang diusung partai “Tuhan” tersebut, khususnya di Jawa.

Di sisi lain tentu ini sedikit “mengkhawatirkan” kubu-kubu pro pemerintah. Situasi ini dalam kacamata politik tentu bagai buah simalakama bagi NTB. Maju kena, mundur gak dapat apa-apa. Apalagi banyak kepala daerah yang terlibat dalam aksi 212 banyak yang akhirnya di”gangguin” oleh KPK.

Seperti tak ingin berspekulasi tentang masa depan/kesinambungan pembangunan daerah, DR Zul yang akan menggantikan TGB-pun bergerak cepat dengan merangkul pihak-pihak yang berkomprten untuk “mengamankan”NTB. Langkah itu bahkan dilakukan sebelum pengumuman resmi oleh KPU tentang siapa pemenang Pilgub NTB.

Seperti diketahui, oleh pemerintah Jokowi daerah NTB di tetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata dunia. Beberapa mega proyek pemerintah pusat seperti KEK Mandalika, Global Hub dan proyek pengembangan infrastruktur pulau Sumbawa tengah bergulir di daerah ini.

Tengarai saya, untuk meyakinkan para pihak bahwa NTB masih cukup kondusif dan koperatif, DR Zul mengajak TGB untuk bersilaturahmi kepada para tokoh dan membuat pernyataan yang cukup menghebohkan itu.

Jadi apakah pernyataan dukungan TGB itu sebuah sinyal beliau akan digandeng Jokowi dalam pilpres mendatang? Saya kira masih cukup jauh.

Tapi setidaknya untuk sementara waktu itu akan meredam “ketegangan” banyak pihak, baik di pusat maupun di NTB. Mereka yang biasa berseteru akan bisa bernafas sedikit lega. Tinggal garis keras TGB dan mereka yang memandang politik itu hitam putih yang masih kebingungan.

Candra-malik-gusdur
By Qalama Institute

Gus Dur, Musuh Bersama, dan Kita

Qalama.com  ~ Ketika semakin banyak yang merindukan Gus Dur, saya akhirnya mengatakan, “Kau, aku, dia, kalian, mereka, kita adalah Gus Dur. Ya, kita semua yang seharusnya jadi Gus Dur, bukan hanya meneriakkan rindu dan menunggu.”

Itu pula yang saya seru kepada anak-anak muda di Cirebon dalam dialog publik bertajuk Begadang Inshomniyah, beberapa malam yang lalu. Tapi, sebenarnya mengapa kita rindu pada sosok KH Abdurrahman Wahid?

Saya yakin, kita memiliki jawaban masing-masing. Namun, sadarkah kita bahwa tak hanya beliau yang kita rindukan? Di alam bawah sadar, kita merindukan pula sosok musuh bersama. Karena musuh bersama itulah, kita bersatu dan bersama melawan.

Ya, memang tidak semua maju melawan. Tapi, setidaknya, terang terlihat musuh bersama kita ialah penguasa yang zalim. Nah, selepas era Reformasi, sudah tidak jelas lagi siapa musuh siapa kawan. Tapi, nanti dulu.

Siapakah sesungguhnya musuh bersama yang kita rindukan kini untuk menstimulan persatuan? Apakah penguasa yang zalim? Atau, kebencian yang menjadikan kita berbuat tidak adil?

Di Subang, dalam Begadang Inshomniyah pula, seorang pemerhati sosial mengatakan, “Kita perlu hati-hati, kini agama-agama lokal bangkit lagi dan lembaga-lembaga adat dijadikan kedok.” Terlepas dari benar atau tidaknya sinyalemen itu, saya kira kita perlu kritis.

Tahukah apa beda antara kita dan Gus Dur? Saya menanggapi, “Tapi, mengapa Gus Dur bahkan sampai dielu-elukan dan sangat dicintai para pemeluk agama lokal, penganut kepercayaan, dan masyarakat adat?”

Orang-orang tercenung. “Karena Gus Dur mampu mengambil batas antara wilayah privat dan publik. Dia membela hak beragama dan berkeyakinan setiap orang seraya berpesan: mari kita jaga bersama Tanah Air dan bangsa Indonesia.”

Petuah Ali bin Abu Thalib RA memang kontekstual. “Ia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan,” teguhnya. Kurang lebih, itulah yang diperjuangkan Gus Dur hingga beliau teramat dicintai banyak kalangan.

Gus Dur memperjuangkan hak hidup manusia, yang di dalamnya terkandung hak hidup sesuai agama dan keyakinan, dengan mengikatkan rasa persaudaraan.

Pada masa kepresidenannya, Gus Dur berjasa memperjuangkan Kong Hu Chu hingga mendapatkan pengakuan dari negara sebagai agama resmi. Hingga akhir hayatnya, Gus Dur bahkan masih mempraktikkan seni silaturahmi paling tinggi, yaitu tidak memusuhi siapa pun yang memusuhinya.

Beliau mengerti benar adagium “seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.”

Kini, hari-hari ini, justru kita sendiri yang terus-menerus mengembangkan rasa curiga dan kebencian. Mengutuk ujaran kebencian dan permusuhan dengan cara menunjukkan kebencian dan permusuhan pula. Melawan caci-maki dengan olok-olok. Menganggap siapa yang jatuh ke jurang kehinaan karena pernah salah, tak akan pernah bisa bangkit lagi untuk berbuat benar.

Kita suka menghukum seumur hidup. Sekali lagi, siapa sesungguhnya musuh bersama kita? Apakah penguasa yang zalim ataukah kebencian yang menjadikan kita berbuat tidak adil? Mungkin terlalu berlebihan menjadikan seseorang sebagai teladan dalam segala hal, apalagi jika itu justru menimbulkan fanatisme dogmatis.

Sebab, bukan hanya kita yang menyebut musuh sebagai bigot, mereka juga sah-sah saja menjuluki kita demikian, bukan? Atau, jangan-jangan, musuh bersama kita adalah ketidakjujuran?

Holland Taylor, sahabat Gus Dur, mengentak batin saya dalam Halaqah Internasional Gerakan Pemuda Ansor di Ponpes Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, yang mengangkat tema “Islam untuk Kemanusiaan”, pekan terakhir Mei lalu. Holland menegaskan,”Kita harus mengerti pokok masalah dan jujur terhadap masalah.” Sudahkah kita jujur?

Soal perang, misalnya. Sebagian dari kita menganggap perang sebagai perang belaka –dengan segala syak wasangka yang diyakininya– dan, tentu saya tulis ini dengan empati mendalam atas penderitaan para korban perang. Sebagian lagi berjuang melawan perang, bahkan dengan mengorbankan jiwa dan raga, serta harta benda –dan, saya tulis ini dengan penghormatan yang setinggi-tingginya pada pejuang dan syuhada.

Sebagian lainnya terus mengampanyekan perdamaian dengan mengupayakan aksi gencatan senjata dan aksi-aksi diplomasi lain. Sisanya memperjualbelikan senjata dan amunisi. Rasanya, kita bisa menebak siapa yang mengerti pokok masalah tapi tidak jujur terhadap masalah, yang bisa jadi malah berpura-pura tidak memahami akar persoalan.

Tapi, toh selalu ada yang mengail di air keruh, atau mengolah air keruh untuk dijual sebagai air minum.

Jika musuh bersama itu adalah penguasa zalim atau kebencian yang menjadikan kita berbuat tidak adil atau ketidakjujuran, benarkah kita rindu kepada salah satu di antara ketiganya? Bukankah selayaknya kita merindukan pemimpin yang adil dan berpihak pada keadilan, kasih sayang yang peduli dan tidak memecah-belah, serta kejujuran?

Benarkah kita sudah benar-benar memahami pangkal persoalan, dan jujur terhadap persoalan bangsa dan negara ini?

Alih-alih terus-menerus menyalahkan setan sebagai musuh yang nyata, kita sebaiknya memohon perlindungan pada Allah dari godaan dan keburukan nafsu-nafsu kita sendiri. Sebab, kezaliman, kebencian, dan ketidakjujuran, bahkan masih ditambah dengan kesombongan, bisa berkumpul pada diri seseorang.

Duh, jangan-jangan orang itu adalah kita. Na’udzu billahi min dzalik. Jangan!

Candra Malik budayawan sufi

Sumber : detik.com

dawam-rahardjo-gusdur-wahid
By Ahmad Jumaili

Saya dan Gusdur: Perseteruan dan Persahabatan

~ M. Dawam Rahardjo

Saya bukanlah orang yang pada awalnya berseteru dengan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, pertama kali mengenal namanya yang asli, Abdurrahman adDakhil, Abdurrahman Sang Pendobrak-dari buku biografi dan dokumentasi K.H. Wahid Hasyim, karya seorang cendekiawan sekaligus ulama, H. Abubakar Aceh-saya sudah menaruh perhatian dan harapan terhadap putra berdarah biru pesantren itu. Ketika itu saya berharap, orang muda itu kelak menjadi pemimpin Islam yang besar. Dalam jangka waktu yang cukup lama, saya tidak pernah berjumpa dengan orang muda itu, sampai pada suatu hari namanya saya kenal melalui tulisannya di halaman 3 Harian Kompas tentang peta kesusasteraan Arab modern, dunia sastra yang saya ingin mengenal lebih banyak, sebagai seorang peminat sastra.

Saya baru berkenalan secara pribadi dengan Gus Dur, melalui Abdullah Sarwani, ketika saya menjadi Wakil Direktur LP3ES proyek pengembangan pesantren. Ketika itu Gus Dur masih tinggal di Pondok Tebuireng sebagai Sekretaris Pondok dan saya memintanya untuk mengusulkan daftar nama para kiai yang bisa diundang untuk ikut serta dalam musyawarah besar pesantren di Hotel Tugu, Puncak. Dari forum itulah saya
berkenalan dengan para kiai besar, misalnya Kiai Ilyas Ruchyat, Kiai Sahal Mahfudz, Kiai Maimun Zubair, atau kiai penggemar keroncong, Kiai Najih Ahmad dari Pesantren Maskumambang.

Dari forum itulah lahir proyek-proyek pengembangan pesantren yang di era 70-an rawan dicurigai, baik dari kalangan pesantren maupun pemerintah. Ketika itu NU yang berbasis pesantren adalah sebuah kekuatan oposisi dalam Pemilu 1971, terutama karena tokohnya Pak Ud atau Yusuf Hasyim, paman Gus Dur, berasal dari dunia pesantren dan menjadi tokoh PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Program ini dicurigai bukan saja oleh pihak pesantren sebagai proyek kooptasi Orde Baru, begitu pun pemerintah mencurigainya sebagai alat PPP dalam melakukan oposisi, karena ternyata PPP dalam Pemilu 1971 memperoleh dukungan yang cukup kuat dari umat Islam dan keluar sebagai pemenang kedua dalam Pemilu sesudah Golkar.

Padahal, saya menempatkan diri sebagai agen pembaru mengikuti Cak Nur yang mencanangkan pembaruan pemikiran keagamaan dalam Islam pada tahun 1970, walaupun dalam program pesantren saya mengutamakan pembaruan sosial dan bukan keagamaan. Dalam kaitan ini, Gus Dur dan Pak Ud menjembatani saya dengan dunia pesantren.

Gur Dur maupun Pak Ud tampaknya percaya pada saya karena secara konkret saya turut mendidik kader-kader pesantren dalam pengembangan masyarakat. Metode yang saya pilih adalah membiarkan pesantren dikembangkan oleh orang-orang pesantren sendiri, saya tidak peduli bahwa mereka itu adalah kader-kader NU. Saya sebagai orang Muhammadiyah justru secara sengaja membina kader-kader NU agar NU menjadi organisasi kemasyarakatan yang kuat dalam melakukan modernisasi dunia pesantren yang dikenal tradisional dan konservatif itu. Salah satu cara yang saya tempuh adalah membangun perpustakaan dan pusat informasi dengan mendidik para pustakawan. Pengembangannya dikoordinasi oleh Perpustakaan Wahid Hasyim. Perpustakaan ini didirikan di lingkungan Pesantren Tebuireng. Sementara, nama Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur, saya usulkan sebagai nama perpustakaan karena ia adalah simbol ulama intelektual di kalangan pesantren. Di samping itu, ia pernah memimpin Pesantren Tebuireng itu sendiri.

Namun, pada suatu ketika timbul masalah antara saya dan Gus Dur. Pada saat itu ia dikabarkan melakukan konspirasi mendongkel Pak Ud sebagai pemimpin pesantren dan ia sendiri berambisi untuk menggantikan kedudukan pamannya itu dengan bantuan ibunya, Bu Wahid, kakak ipar Pak Ud yang sangat disegani, politisi perempuan anggota DPRGR yang fasih berbahasa Belanda. Sampai-sampai saya mendapat kabar, Pak Ud yang terkenal tokoh politik yang tegar itu menangis karena kena marah kakak iparnya. Tetapi celakanya, Pak Ud menuduh saya ikut membantu Gus Dur mendongkelnya, karena itu saya ditegur oleh Direktur LP3ES Tawangalun. Tentu saja saya membantah tuduhan itu walaupun saya memang bersahabat dan mendukung usaha-usaha Gus Dur mengembangkan pesantren. Tetapi untuk membuktikan kebenaran bantahan itu saya diminta untuk menarik Gus Dur ke Jakarta sehingga tidak mengganggu kestabilan kepemimpinan pesantren.

Saya pada waktu itu menyadari bahwa jika Pak Ud kehilangan kedudukan sebagai pemimpin pesantren, maka peran dan pengaruh politiknya di PPP akan goyah, tanpa basis. Saya sendiri mendudukkan diri saya dalam posisi yang netral politik, karena itulah saya juga tidak dicurigai oleh pemerintah. Sebaliknya, saya dipercaya sebagai mediator antara pemerintah dan pesantren. Saya pernah diundang oleh Pangkomkamtib Laksamana Sudomo ke rumahnya untuk mendiskusikan hal ini. Pak Domo waktu itu dikenal sebagai tokoh yang ditakuti banyak orang, sehingga saya terkejut hampir tidak percaya ketika mendapat telepon langsung darinya.

Dengan persetujuan Direktrur LP3ES, saya kemudian merekrut Gus Dur sebagai staf LP3ES menjadi penasihat dalam program pengembangan pesantren. Dalam persepsi Mas Tawang berdasarkan informasi dari pamannya sendiri, Gus Dur ini adalah seorang politisi yang ambisius dan lihai. Ketika menjadi Direktur LP3ES saya membina hubungan internasional di kalangan LSM internasional Asia Tenggara dan Asia Selatan. Saya banyak menyelenggarakan pertemuan-pertemuan dengan para aktivis LSM yang kebanyakan adalah tokoh-tokoh kiri, seperti Randy David, Jomo K. Sundaram, Martin Khor, Surichai, Suthi Prasechat, atau Sayed Husain Ali. Saya tentu tidak lupa melibatkan Gus Dur dalam pertemuan-pertemuan. Ternyata Gus Dur tidak canggung bergaul dengan orang-orang Marxis secara personal maupun intelektual. Karena itulah maka Gus Dur, selain Adi Sasono dan Arief Budiman dari Indonesia, berada dalam lingkaran kiri internasional. Saya melihat Gus Dur cepat beradaptasi bergaul dengan orang-orang kiri yang menjadi lingkungan intelektual saya. Padahal Gus Dur adalah tokoh Muslim. Karena itu Gus Dur di mata saya bukanlah seteru secara intelektual. Ketika kami, Sritua Arief, Tawangalun, Adi Sasono, dan saya sendiri, mendirikan Lembaga Studi Pembangunan (LSP), dengan dukungan Bang Ali Sadikin,
maka saya juga merekrut Gus Dur menjadi salah seorang staf, antara lain mengasuh jurnal ilmiah “Wawasan” bersama-sama dengan Nirwono yang berpikiran kiri. Di jurnal itu Gus Dur menulis profil Prof. Widjojo Nitisasatro, Ketua Bappenas saat itu. Dari tulisan itu terlihat Gus Dur memahami masalah-masalah pembangunan. Ia bukan hanya menuliskan profil tokoh, tetapi juga profil pemikirannya. Dalam bekerja, Gus Dur memanfaatkan sumber daya LSP untuk menerbitkan sebuah buku kumpulan karangannya mengenai pesantren, yang dokumen penerbitannya perlu dicari dalam rangka penelitian arkeologi pemikiran Gus Dur.

Sebagai penasihat saya selaku Direktur LP3ES, Gus Dur selalu melakukan perjalanan dari pesantren ke pesantren lainnya, menemui para kiai, ustad muda, dan para santri. Di sinilah terbangun kekuatan Gus Dur dalam memperoleh simpati dan dukungan, karena ketokohannya pada waktu muda. Pengembaraan silaturahmi yang dilakukannya tidak tertandingi oleh siapa pun di antara para kiai pesantren.

Dalam seminar internasional Indonesia-Timur Tengah yang saya organisasikan bersama Adi Sasono, saya juga memberi kesempatan pada Gus Dur untuk tampil sebagai pembicara bersama-sama dengan Pak Natsir mewakili Indonesia. Ia berbicara dengan bahasa Arab yang fasih, sedangkan Pak Natsir sendiri berbicara dalam bahasa Inggris, padahal Pak Natsir dikenal sebagai tokoh ulama. Inilah kelebihan ulama NU dalam penguasaannya terhadap bahasa Arab literer, terlebih Gus Dur adalah seorang pemerhati sastra Arab modern. Perhatiannya terhadap sastra ini ikut menunjang penghargaan saya terhadapnya, karena pemerhati sastra Arab Islam ketika itu hanyalah Ali Audah yang telah menerjemahkan berbagai karya sastra Arab Islam kontemporer.

Ketika masih duduk sebagai staf LP3ES itulah lahir rencana Gus Dur untuk menggantikan kedudukan K.H. Idham Khalid selaku Ketua PBNU. Saya sendiri tidak begitu memperhatikan ambisi dan kemampuan Gus Dur. Yang melihat potensi Gus Dur sebagai pemimpin NU yang baru adalah Aswab Mahasin, yang demikian mengagumi dan mengenal Gus Dur. Sebagai seorang yang punya pengetahuan mendalam mengenai agama, Aswab Mahasin mengetahui potensi Gus Dur sebagai pemikir Islam. Dialah yang banyak bercerita kepada saya mengenai rencana-rencana politik Gus Dur. Termasuk gagasannya mengenai “kembali kepada khittah” sebagai kendaraan ideologinya untuk mencapai jenjang kepemimpinannya di PBNU. Salah satu kecerdikan Gus Dur sebagai politikus adalah membawa Prof. Nakamura dari Jepang ke dunia NU. Padahal, Nakamura adalah ahli soal Muhammadiyah dan menulis disertasi yang terkenal mengenai organisasi ini yang ditulisnya di rumah K.H. Abdul Kahar Muzakkir, seorang tokoh Muhammadiyah dari Kota Gede pencetus gagasan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Saya sangat bersimpati dan mendukung gagasan kembali kepada khittah yang menempatkan NU sebagai organisasi sosial-keagamaan. Sebaliknya, saya tidak bersimpati kepada NU sebagai organisasi dan partai politik. Saya menginginkan agar NU menjadi kekuatan civil society. Karena itulah saya terlibat dalam pembinaan pesantren sebagai agen perubahan sosial. Namun demikian, saya merasakan bahwa justru ketika sudah kembali kepada khittah itulah warna politik NU makin kentara, karena dibawakan oleh Gus Dur sebagai politikus. Melihat minatnya di bidang politik, saya terus-terang kurang yakin tentang ketepatan Gus Dur sebagai Ketua PBNU. Ia lebih mencerminkan keintelektualan dan politik daripada keulamaan. Karena itu, ketika NU berada di bawah Gus Dur, NU berkembang menjadi kekuatan politik informal. Sementara itu saya lebih mendukung Gus Dur sebagai budayawan dan cendekiawan. Selain itu, saya banyak melibatkan kawan-kawan Indonesia dalam forum dialog INCI (International Non-government Group on Indonesia), sebagai tantangan dan tandingan IGGI (Inter-Governmental Group on Indonesia) yang merupakan organ penyaluran utang Indonesia kepada lembaga keuangan dalam konferensi-konferensi internasional di Eropa Barat. Di situ Gus Dur berkenalan dengan dua kelompok yang agak berseberangan, di satu pihak NOVIB sebagai organ Partai Buruh Belanda dan Friedrich Naumann Stiftung dari Jerman yang berhaluan liberal organ Partai Liberal Jerman. Dalam forum itulah kami berjuang melawan kemiskinan dalam rangka menegakkan hak-hak asasi manusia, hak-hak ekonomi dan hak-hak sipil. Sebagai Direktur LP3ES saya memegang posisi koordidator di antara LSM-LSM Indonesia maupun Asia Tenggara dan Asia Selatan. Dari forum-forum itulah maka Gus Dur mengembangkan peranannya sebagai intelektual organik, meminjam istilah Gramsci.

Saya mulai berseberangan dengan Gus Dur ketika ia mulai memainkan peranannya sebagai politisi. Di sini saya melihat Gus Dur dalam kepribadian ganda. Di satu pihak ia meletakkan posisinya sebagai budayawan dan cendekiawan organik, tetapi di lain pihak ia memerankan diri sebagai shrewd politician. Perseteruan itu mulai serius ketika ia menantang dan mengkritik pendirian ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang saya adalah salah seorang pendirinya yang paling awal bersama 4 orang mahasiswa fakultas teknik Universitas Brawijaya dan Bang Imad (Immaduddin Abdurrahim).

Saya sangat tersinggung ketika ia menuduh ICMI sebagai organisasi sektarian, padahal saya merasakan justru, secara politis, Gus Dur-lah yang sangat sectarian NU. Ia menyusup ke mana-mana dan menempatkan orang-orang NU dalam berbagai organisasi dan pemerintahan dengan kegiatan-kegiatannya sangat berorientasi
kepada kepentingan NU. Sementara itu dalam persepsi saya ICMI justru melakukan integrasi, yaitu antara santri dan abangan, orang pemerintah dan masyarakat, ulama dan cendekiawan, dan antara umaro dan ulama. Oleh Pak Habibie saya ditugaskan untuk membina kerukunan dan kerjasama antara organisasi keagamaan. Karena itulah saya secara rutin memimpin diskusi-diskusi tokoh lintas agama dengan meminjam ruang diskusi BKKBN. ICMI juga berusaha mengarusutamakan gerakan Islam dalam pembangunan dan kebangsaan. Pak Habibie sendiri adalah seorang nasionalis pengagum berat Bung Karno.

Perseteruan saya dengan Gus Dur memuncak ketika ia bersama-sama dengan Amien Rais dan Akbar Tandjung berkonspirasi menjatuhkan Pak Habibie dari kursi kepresidenan. Waktu itu saya mendapat informasi bahwa Gus Dur selalu menteror Pak Habibie dan menuduh ICMI sebagai organisasi monster yang sektarian dan anti Kristen. Sementara itu saya sejak SMP sudah banyak bergaul dengan orang-orang Katolik dan Kristen melalui perkumpulan peminat sastra muda. Secara kepribadian saya adalah seorang pluralis. Waktu sekolah di AS, saya ikut giat dalam organisasi kegerejaan Presbiterian dan punya banyak kawan di lingkungan Mormon.

Sejak mahasiswa saya sudah aktif di PP Muhammadiyah di Yogyakarta bersama Syafii Ma’arif. Namun demikian saya bergaul akrab dengan orang-orang Ahmadiyah dan banyak membaca literatur Ahmadiyah. Agaknya yang mempertemukan kembali saya dan Gus Dur adalah sikap terhadap Ahmadiyah. Ternyata Gus Dur juga menjadi pembela Ahmadiyah ketika komunitas ini dianiaya. Saya kemudian juga membela umat Kristen dari penganiayaan orang-orang Islam. Saya sendiri sama sekali tidak ragu dalam membela umat Kristen yang rumah ibadahnya banyak diserang. Gus Dur ternyata juga sudah lama membela umat Kristen dan kelompok minoritas. Dari situlah saya mulai merenung kembali jejak langkah Gus Dur yang tampak di mata saya tidak konsisten dan bagi banyak orang membingungkan.

Sekarang ini timbul jawaban, pemikiran Gus Dur itu visioner melampaui zamannya, sehingga tidak mudah dipahami. Saya sendiri berusaha mencari jawaban mengenai tiga hal. Pertama, mengapa Gus Dur menuduh kelompok lain sektarian, sementara ia sendiri sangat menonjolkan identitastnya sebagai orang NU? Kedua, mengapa ia begitu kuat membangun NU sebagai kekuatan politik, dengan mendhikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sementara itu menggiring NU kembali kepada khittah-nya sebagai organisasi sosial keagamaan dalam kerangka civil society? Ketiga, mengapa mencitrakan dirinya sebagai budayawan dan cendekiawan, tetapi dalam realitas ia memainkan peranannya sebagai insan politik dan begitu berambisi menjadi presiden RI?

Pertama, Gus Dur memang sangat menonjolkan identitas NU dalam arena pergaulan kemasyarakatan dankeagamaan, tetapi ia memperhatikan dart menghargai identitas kelompok lain dari agama lain. Bayangkan jika Gus Dur hanya menonjolkan pluralisrne dan multikulturalisme, maka ia akan terkena tuduhan yang berdasarkan fatwa MUI, bahwa pluralisrne itu merupakan sikap yang memandang semua agama itu sama, dan karena itu agama akan kehilangan identitasnya. Tetapi, ia pun tampak tidak suka dengan penonjolan identitas keislaman, karena akan rawan terhadap tuduhan fanatisme dan sektarianisme. Sehingga, ia iebih mernilih menonjolkan ke-NU-an sebagai salah satu saja dari simbol keislaman dalam konteks kebudayaan dan kemajemukan. Ikhtiar tersebut ia lakukan supaya tidak dituduh mengklaim monopoli keislaman. Karena itu, di lain pihak ia juga mengajak hargai kelompok lain, baik di lingkungan Islam maupun di luar Islam.

Gus Dur juga membesarkan NU dengan pengaruh kuat, karena dengan itu ia akan memperoleh dukungan dari kalangannya sendiri. Dengan kuatnya NU, maka ia bisa menjadi kekuatan pendobrak, melakukan terobosan terobosan dan mengambil sikap yang bisa kontroversi misalnya ketika ia atas nama NU meminta maaf atas Peristiwa pembunuhan besar-besaran terhadap warga PKI dan mereka yang dituduh PKI, di mana warga NU punya peranan besar.

Kedua, Gus Dur memang pelopor kembali kepada khittah dalam Muktamar NU Situbondo 1984. Langkah ini memang diperlukan agar NU tetap bisa menjaga jati dirinya dan tidak terombang-ambing oleh godaan politik, sehingga NU tetap akan menjadi orginasi sosial-keagamaan di arena civil society. Namun dalam perjalanan sejarahnya, NU juga merupakan komunitas yang memiliki aspirasi politik. Agar aspirasi ini tidak mengganggu NU-di masa lalu banyak kiai yang meninggalkan pesantren karena aktif di bidang politik-maka oleh Gus Dur disalurkannya melalui suatu
wadah partai politik. Selain itu, ia juga ingin menunjukkan bahwa PKB merupakan partai terbuka dan bukan penganut ideologi Islamisme yang mencita-citakan Negara Islam dan ingin memberlakukan hukum agama sebagai hukum positif.

Ketiga, Gus Dur memang menginginkan kekuasaan politik. Sebab dengan kekuasaan politik ia bisa berbuat banyak, misalnya mengambil keputusan untuk mengakui Kong Hu Cu sebagai agama dan menjamin hak dan kebebasan mereka menjalankan ajarannya. Jika mereka tidak diakui sebagai agama, misalnya sebagai aliran kepercayaan atau filsafat, maka orang-orang Tionghoa bisa meninggalkan agama leluhumya dan terpaksa masuk agama lain. Dengan kekuasaan politik yang dia punyai, Gus Dur dapat menjalankan politik multikulturalisme. Jika ia memegang kekuasaan, maka kejadian yang menimpa Ahmadiyah, komunitas Eden, atau penutupan rumah-rumah ibadah umat Kristen tidak akan terjadi. Dengan kekuasaannya ia juga bisa mendobrak TNI melakukan reformasi internal. Ia bahkan berani mengeluarkan dekrit pembubaran parlemen walaupun tindakan ini menjadi sebab kejatuhannya karena dianggap melanggar konstitusi, tetapi ia menuduh balik bahwa justru penjatuhannya itu justru yang melanggar konstitusi.

Sebenarnya saya sudah tidak lagi berseteru dengan Gus Dur sejak ia membela Ahmadiyah dan umat Kristen yang teraniaya. Saya juga mengakui sisi positif kepemimpinan Gus Dur dengan menyaksikan perkembangan NU dan lahirnya generasi muda NU progresif seperti Ulil Abshar-Abdalla, A Moqsith Ghazali, Zuhairi Misrawi, M. Guntur Romli, Kiai muda Maman Imanulhaq Faqieh, dan lainnya yang tampil berani dengan mengusung symbol liberalisme, pluralisme, dan sekularisme. Mereka itu saya pandang sebagai Gus Dur-Gus Dur muda yang mewarisi dan meneruskan perjuangan Gus Dur.

Saya mengakui Gus Dur sebagai seorang pembaru pemikiran dalam Islam, selain Cak Nur. Dan saya sudah merumuskan 10 poin pemikiran Gus Dur mengenai Islam dan kebangsaan sebagai dasar alasan saya menganggapnya sebagai orang yang memiliki konsep mengenai pemikiran Islam dan kenegaraaan serta kemasyarakatan. Saya menyatakan perubahan sikap saya itu ketika saya diminta untuk memberi sambutan dalam acara Ulang Tahun Gus Dur di Ciganjur. Saya juga menyatakan bahwa saya memahami mengapa sebagian generasi muda NU menganggap Gus Dur sebagai seorang wali.

Namun saya memiliki kriteria tersendiri mengenai siapa di antara pemimpin Muslim yang dapat disebut wali. Pertama, orang banyak merasakan bahwa kehadirannya membawa rahmat atau kasih sayang kepada sesama manusia dan makhluk Tuhan. Kedua, orang lain bisa melihai bahwa dirinya adalah wali, orang yang dikasihi Tuhan. Sedangkan kasih Tuhan itu tampak pada kasih orang banyak kepada orang itu. Ketiga, terdapat kesepakatan umat Islam maupun penganut agama lain
yang mengakui bahwa ia adalah seorang pemimpin atau guru bangsa. Penilaian itu tentu berbeda dari satu orang ke orang lain. Tetapi tanda seorang wali adalah bila pengakuan itu diperolehnya dari hampir semua orang.

Mengenai anggapan bahwa Gus Dur adalah seorang wali, saya mendapat informasi bahwa Gus Dur sangat marah mendengar orang menganggap dirinya sebagai seorang wali, sejajar dengan Walisongo. Ia tidak menyetujui sikap kultus terhadap seseorang, sekalipun kepada orang besar atau dirinya sendiri. Walau bagaimanapun juga, tetap saja ada yang menganggap Gus Dur sebagai wali, misalnya orang dekat Gus Dur sendiri, Gus Nuril, seorang kiai sekaligus pendekar pluralis yang sedang mengembangkan pesantren antaragama.

Ketika Gus Dur meninggal, pemerintah memutuskan hari berkabung dengan mengibarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari. Selama tujuh hari itu pula berbagai pesantren menyelanggarakan tahlilan dengan pengunjung puluhan ribu orang. Selama tujuh hari tidak habis-habisnya pemberitaan mengenai dan keistimewaan Gus Dur sebagai pendekar ‘hak-hak asasi manusia, dan pluralisme.

Mungkin di masa mendatang aJakartakan lahir tradisi haul Gus Dur setiap tahun di akhir tahun, dengan pengajian akbar memperingati Gus Dur yang dihadiri oleh anggota masyarakat dan para pemimpin dari semua kalangan yang berbeda agama dan kepercayaan. Ini akan menunjukkan kecintaan umat dan rakyat kepada Gus Dur yang merupakan tanda-tanda kasih Tuhan kepada Gus Dur. Di sini bisa terbukti sendiri bahwa Gus Dur adalah seorang wali Tuhan, seorang yang sangat dikasihi Tuhan. Semua orang akan memanggil dia “ya habibi” Vox Populi Vox Dei, suara rakyat suara Tuhan.

Jakarta, 15 Januari 2010

Damai Bersama Gus Dur (: Kompas, 2010)

(foto: koleksi Habib Chirzin

Dawam-rahardjo
By Ahmad Jumaili

Wirid

Dawam-rahardjoAkhirnya kuputuskan untuk pergi ke Pabelan saja. Ya, mengapa kok sulit-sulit memilih pesantren? Bukankah aku sudah demikian akrab dengan pondok yang terletak di Muntilan itu? Kiainya sahabatku. Barangkali di antara para kiai yang kukenal, dialah, Kiai Hamam Dja’far, yang paling dekat, dalam pikiran maupun perasaan. Lagi pula itulah pondok yang paling indah bagiku. Aku berkenalan dengan pondok ini kira-kira pada tahun 1973 ketika aku mula pertama mengunjunginya, atas anjuran Pak Ud.

Kukira aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dalam romantisasiku, pesantren itu mestilah rindang. Tapi jarang aku melihat pesantren yang halamannya masih ditanami pohon-pohon yang lebat. Dulu mungkin. Namun kini telah banyak ditebangi untuk memberi tempat pada bangunan baru yang umumnya ceroboh itu. Pabelan, sangat berbeda. Pohon-pohon di desa itu masih lebat. Malah Pak Kiai menambahnya dengan tanaman-tanaman baru. Ketika itu sedang musim menanam jeruk. Buah jeruknya besar-besar, tidak seperti biasa. Tapi ada juga ditanam pohon melinjo dan kemudian flamboyan.

Sebelum kuputuskan pergi ke Pabelan saja, aku sudah mempertimbangkan pesantren lain, terutama di Jawa Timur. Pernah kupertimbangkan untuk memilih Tebuireng. Pak Ud pasti mengizinkan. Suasana peribadatannya pun enak. Dalam lima waktu, masjid utamanya pasti penuh jamaahnya. Tapi aku pakewuh dengan Pak Ud. Jangan-jangan kedatanganku merepotkannya. Karena aku, maksudku istriku, pasti tak akan diizinkan untuk bisa memasak sendiri.

Aku juga pernah berpikir, alangkah indahnya bisa tinggal untuk beberapa hari di Gontor, Ponorogo. Tapi sudah lama aku di persona non grata-kan Kiai Zarkasi, gara-gara aku pernah mengritik pondok modern ini, karena sikap isolatifnya terhadap masyarakat sekelilingnya. Padahal sahabat-sahabat mudaku banyak yang alumni Gontor. Cocok aku dengan kebanyakan mereka itu, dengan pola akidahnya, akhlaknya yang manis-manis dan kepandaian mereka umumnya dalam bahasa Arab.

Lalu, oleh Pak Malik Fadjar, aku pernah dianjurkan pula untuk menengok sebuah pesantren di pantai utara Jawa. “Kiainya Muhammadiyah lho!” katanya. Dia pikir aku pasti cocok dengan cara berpikir kiai ini. “Kiainya gemar qira’ah dan tafsir,” ujarnya lagi sambil mengacungkan jempolnya. Pak Malik mungkin menyadari bahwa aku senang dengan qira’ah dan tafsir. “Cobalah ditengok dulu,” ia menganjurkan.

Sebuah mobil dengan sopirnya membawaku dan istriku menyusuri pantai utara Jawa. Sebelumnya, karena ingin menempuh jalan pintas, mobil sedan kecil itu menembus jalan-jalan kecil di antara bentangan tambak yang gemerlapan ditimpa sinar mentari pagi. Di sebuah kota kecil di tepi pantai yang panas tapi juga cukup rindang itu, bercokol pesantren itu. Di situ aku bisa “menghilang” untuk sementara waktu yang telah kurencanakan, pikirku. Tak mungkin bisa orang menghubungiku. Ketika orang mencariku, mungkin aku sedang berjalan-jalan dengan istriku di sampingku, menatap tongkang-tongkang mengapung di perairan. Kami berdua bisa menghafal wirid sambil menikmati debur ombak.

Karena aku tidak begitu sreg dengan situasi pondok yang kurang bersih itu, aku mengurungkan niatku. Dan tiba-tiba aku berpikir, mengapa tidak ke Pabelan saja?

Kurundingkan ideku dengan Hawariah, istriku. Ia tampak begitu senang. “Ke mana saja Mas pergi dan membawaku, aku akan senang. Kebahagiaanku adalah bila bersamamu Mas,” katanya mendukung dan membesarkan hatiku. Kata-kata inilah yang sering dikatakan kepadaku, hampir klise. Maka kulayangkan sepucuk surat kepada Kiai Hamam, mohon untuk bisa diterima. “Saya bersama istri mau nyantri barang sebulan, bila diterima,” kataku dalam surat.

***

Dari jalan raya Yogya-Magelang, aku naik dokar. Istriku memakai kebaya dan kerudung yang berenda kembang. Kerudung tradisional yang masih dipakai ibuku dan perempuan-perempuan desa. Wajahnya yang putih dan bulat seperti rembulan itu selalu tersenyum. Hatiku selalu hangat bersamanya.

Kami disambut dengan tawa lepas, khas Kiai Hamam.

“Mau belajar wirid? Ha, ha, ha,” tawanya berderai.

“Apa mau jadi sufi?” tanyanya lagi dengan nada senda gurau. Walaupun begitu tanggapan formalnya, tetapi Kiai Hamam penuh pengertian.

“Saya membutuhkan guru yang bisa membimbing, Kiai,” kataku.

“Siapa yang bisa jadi guru Mas Dawam?” jawabnya penuh keyakinan. Kami, dalam waktu-waktu sebelumnya, memang sering bicara mengenai tasauf dan filsafat, sebuah pembicaraan “tingkat tinggi”. Kalau berbincang-bincang, tentu sampai larut malam. Yang tadinya menemani kami, biasanya mundur satu per satu. Akhirnya tinggal kami berdua, hingga subuh.

“Saya ingin bisa wirid yang agak panjang,” kataku. “Juga ingin bisa membaca doa iftitah untuk pidato atau ceramah.” Kalau diminta ceramah keagamaan, aku sebenarnya malu jika hanya bisa membaca yang itu-itu saja. Syukur kepada Allah dan salawat untuk nabi, itu saja. Aku juga sering diminta untuk memberi khotbah Jumat. Bahkan juga khotbah Idul Fitri atau Idul Adha. Dan aku selalu menolak. Mereka tidak tahu bahwa aku tak bisa mengucapkan bacaan-bacaan yang diperlukan itu di luar kepala. Tahu mereka, aku adalah “tokoh Islam”, atau “cendekiawan Muslim”.

Akhirnya Kiai Hamam maklum juga. Tapi guru-guru muda yang pintar-pintar di situ, tak seorang pun bersedia menjadi guru mursyid-ku. Mereka hanya menuliskan doa-doa untukku. Malah mereka memberiku doa wirid bikinan Pondok Gontor yang ditulis sendiri oleh Kiai Imam Zarkasyi. Ternyata doa ala Gontor itulah yang paling bisa kuterima.

Ingin bisa baca wirid yang agak panjang. Itulah obsesiku. Dengan wirid itu aku akan merasa tak perlu lagi berdoa dan meminta sesuatu kepada Tuhan secara verbal. Kupikir, Tuhan itu Maha Tahu dan Maha Mendengar suara batin sekalipun. “Berzikirlah kalian akan Daku, niscaya Aku akan mengingatmu,” demikian tertulis dalam surat Al Baqarah ayat 152.

Karena tak ada yang bersedia menjadi guruku, akhirnya aku belajar sendiri saja. Tentu saja aku mengalami kesulitan, karena aku sudah tidak lagi lancar membaca huruf-huruf Arab. Tapi aku ini memang tolol benar. Mengapa aku tak melihat potensi istriku? Bukankah ia lulusan Mu’alimat Muhammadiyah Yogya yang terkenal itu? K.H. Yunus Anis dan K.H. Ahmad Badawi, keduanya pernah menjadi Ketua Umum Muhammadiyah, termasuk guru-gurunya.

Sungguh keterlaluan aku ini. Tidak pernah berpikir bahwa seorang perempuan itu bisa menjadi guru mengaji lelakinya. Maklum, aku selalu menjadi imam waktu shalat.

“Dengar baik-baik ya Mas! Aku baca pelan-pelan, Mas menirukanku,” katanya mulai menjadi guru mursyid-ku. Kalau ia membimbing doa wirid habis shalat, kedengarannya biasa saja. Tetapi kalau doa-doa untuk khotbah, memang agak janggal. Mungkin karena adanya persepsi bahwa perempuan itu tidak pernah jadi khatib.

Kalau shalat, tentu saja aku yang menjadi imam. Aku bangga sekali bisa menjadi imam istriku. Seolah-olah itulah tanda kelaki-lakianku yang sejati. Ketika berdoa, kami berdoa bersama. Kadang-kadang bacaanku dikoreksi. Ada kalanya aku jengkel dikoreksi. Apa ini karena pengaruh alam patriarki? Hawariah hanya tersenyum sabar dan terus membimbingku.

Di waktu magrib, isya dan subuh, kami selalu pergi berjamaah ke masjid. Tapi kami sering bepergian kala siang. Jadi tak bisa pergi ke masjid di waktu lohor dan isya, kecuali salat dhuha. Kami selalu menjalankannya. Sehabis subuh kami menderas Alquran bersama-sama. Hanya saja mengajiku terputus-putus, karena aku sering membaca terjemahannya. Aku bawa The Holy Quran, terjemahan dan catatan kaki Maulana Muhammad Ali. Aku paling matuk (cocok) dengan tafsir ini, rasional dan optimis.

Ketika matahari sudah terbit, ia mulai memasak sarapan. Aku keluar jogging yang sudah menjadi kebiasaanku itu. Lalu kami makan bersama. Sesudah masak, langsung ia mencuci piring. Dan aku menimba air sumur. Air dari pompa dragon bukan air yang baik. Jadi aku ngangsu sumur tetangga yang jernih, mengisi kolah dan ember persediaan untuk dimasak menjadi air minum. Setelah itu kami membersihkan halaman yang setiap pagi bertabur dedaunan yang rontok. Sambil menyapu, aku melatih hapalanku keras-keras agar bisa dikoreksi kalau salah.

***

Sayang sekali, aku datang ke Pabelan pada saat liburan. Jadi kampus kosong, tak ada santrinya, kecuali beberapa yang tinggal, mungkin untuk mengikuti kursus khusus. Tapi justru karena itulah kami seperti diberi kesempatan untuk bisa mandi di Kali Pabelan. Kali sepi dari santri yang biasa mandi di situ.

Air sungai itu mengalir bening. Batu-batuan besar kecil yang bertebaran membuat suara gemercik dialiri arus. Hawariah, seperti orang desa lainnya, memakai kain dan mandi di pancuran dan kali yang dangkal. Bagi orang yang biasa hidup di Jakarta, ini adalah suatu kemewahan. Ketika mandi, Hawariah seperti bidadari yang turun dari kayangan. Kain batik melilit ketat di tubuhnya yang basah. Rambutnya tergerai.

Di jalan pulang kami berbelanja di warung desa. Hawariah selalu berbicara renyah waktu membeli bahan-bahan kebutuhan. Karena itu ia memang lekas dikenal. Menurut perasaanku yang subyektif, istriku itu mungil, putih dan bersih. Posturnya seperti putri bangsawan atau mungkin berwajah “elitis” dalam bahasa masyarakat kota. Tapi penampilannya sederhana, seolah-olah ia tak sadar akan kecantikannya sendiri. Tak usah berusaha menampilkan diri, kehadirannya di desa itu sudah sangat terasa. Orang-orang melihat kami, waktu kami berjalan. Kadang-kadang mereka menegur. Orang lelaki tentu melihat kepadanya. Yang perempuan juga melihatnya, lalu menengok kepadaku seolah-olah ingin tahu siapa lelaki yang beruntung di sampingnya itu.

Ia rajin datang ke pengajian di rumah tetangga sebelah. Suatu ketika pengajian memutuskan untuk memperbarui tikar yang telah banyak rusak itu. Uang yang terkumpul agaknya masih jauh dari mencukupi. Istriku langsung bilang, ialah yang menutupnya. Baginya, uang itu tidak seberapa. Tapi bagi ibu-ibu di desa itu nilainya masih lumayan besar.

Di waktu malam sering terdengar suara berzanji. Inilah yang khas di desa itu. Penduduk desa umumnya memang jamaahnya NU. Tetapi pesantrennya beraliran reformis. Santrinya mengikuti wirid Gontor. Tapi imam masjidnya tetap berada di tangan kiai desa. Masjid pondok itu tetap dibiarkan seperti aslinya. Ini cocok dengan suasana desa yang rindang.

Kami sering ingin mengejar dari mana datangnya suara berzanji itu. Ada kalanya dari perhelatan perkawinan. Di waktu sore, menjelang magrib, kami mengejar suara salawat nabi yang dikumandangkan itu. Kalau tidak hujan kami jalan-jalan. Yang kami jumpai adalah langgar-langgar atau masjid-masjid kecil. Pohon-pohon kelapa meneduhi halaman masjid.

“Mas, bangun Mas, sudah subuh lho,” kata istriku membangunkan. Aku sebenarnya sudah mendengar suara azan. Malah sudah kudengar suara orang mengaji atau membaca sesuatu, dengan irama khas. Aku pun bangun, bergegas ke kamar mandi, mengambil air wudhu.

Tapi di luar masih sangat gelapnya. Tak ada lampu. Apalagi gerimis agak lebat turun. Kami pergi pakai lampu senter. Untung di Pabelan, tanahnya berpasir, jadi tak begitu becek. Kalau berjalan, tangannya pasti menggandengku, agak di belakang. Terasa benar aku menjadi lelaki, sandaran hidupnya. Memang sulit benar berjalan berdua dengan satu payung. Air pun tak bisa kami hindari. Aku seperti sedang berpacaran, dalam beribadah.

Aku bersyukur punya istri yang cocok. Coba bayangkan, jika istriku itu bukan “ahli ibadah”, repot. Aku tidak pernah menjelaskan maksudku nyantri seperti itu. Ia sudah tahu dengan sendirinya. Malah itu menjadi keinginannya juga. “Mondok” seperti itu lebih memberi kebahagiaan daripada piknik. Dengan beribadah berdua seperti itu kami sekaligus berpacaran, menunjukkan rasa cinta. Kami tidak pernah merasa sedang bertapa.

Sebelum meninggalkan Pabelan, Hawariah pamit. Para ibu pada semedot, dengan berat hati menerima pamitan itu. Beberapa waktu kemudian bu nyai menceriterakan betapa tetangga-tetangga di sekitar rumah tempat kami menginap itu, semacam “guest house” pesantren, sangat gelo kami meninggalkan Pabelan. Sangka mereka kami adalah penghuni baru. Mereka senang mendengar suara-suara yang terdengar dari pondokan kami. Suara orang mengaji atau kaset salawat dan doa yang dilagukan oleh Ustadz H. Salahuddin Benyamin dengan paduan suara perempuan-perempuan yang mengiringi atau alunan suara ustadz Umar Said yang merdu. Tapi yang paling terkesan pada mereka agaknya adalah pasangan kami berdua yang tampak runtang-runtung, seorang perempuan berkebaya dan lelaki yang selalu berkopiah.

***

Empat tahun kemudian, tak kusangka, istriku di panggil Allah. Kini, kurasakan dalam kenangan, itulah sepotong kenangan yang begitu indah dalam hidupku.

Istriku pergi untuk selamanya di kamar kami, di suatu subuh. Ketika itu istriku tak berdaya, sakit. Ia hanya bisa terbaring miring. Setelah salat sunat koblal subuh, aku pun bersalat subuh. Kubaca Al Fathihah, surat Al-Tin dan surat Al-Qadr seperti yang selalu dibaca imam di Masjid Pabelan, agar dia mendengarkan, seolah-olah kami sedang berjamaah. Aku yakin ia sedang ma’mum kepadaku. Belum sempat wirid, Hawariah telah memintaku mengelus-elus dengkulnya yang sakit. Ia seperti menikmatinya, karena aku mengelus-elusnya dengan mesra sambil membaca wirid.

Ketika aku kemudian keluar dari kamar, Yu Jum, pembantu yang merawat istriku, berganti masuk ke kamar. Beberapa saat kemudian ia berteriak-teriak dan meminta agar aku masuk ke kamar. Aku lihat istriku seperti telah tiada. Anakku lelaki yang memeriksanya merasakan bahwa mamaknya tak lagi bernapas. Nadinya pun tak lagi berdenyut. Tangis dua anak pun berderai bersama dengan tangisku dan orang-orang rumah.

Di hari kedua, sesudah kematian itu aku salat subuh di tempat yang sama. Aku pun membaca wirid yang dulu pernah kupelajari di Pabelan. Tangisku meledak. Wiridku tersendat-sendat di sela-sela sedu tangis yang berat. Terkenang olehku ketika aku sedang dibimbing olehnya, membaca wirid di Pondok Pabelan. Mungkinkah rohnya mencari jalan keluar lewat wirid dan elusanku di dengkulnya itu.

Masih segar dalam ingatanku kami berjalan bergandengan, sambil membawa payung dan lampu senter, sarimbit ke masjid, dalam hujan gerimis di waktu malam dan subuh, yang menyebabkan pakaian kami basah. Terkenang olehku kami bercinta dalam salat berjamaah berdua yang sudah menjadi kebiasaan yang indah itu. Sehabis salat dan wirid, ia selalu mengajakku bersalaman dan menciumi tanganku berulang-ulang. Dan aku pun mengecup keningnya.

Aku mengecup kedua mata-istriku yang terakhir kalinya ketika jenazahnya hendak digotong ke masjid sebelah, hendak disalatkan. Bulu matanya terasa dibibirku, seolah ia masih hidup.

Jakarta, 10 Oktober 1994