Pahingan-magelang-jawa
By Ahmad Jumaili

Save Pahingan, Save Tradisi, Save NKRI

Pahingan-magelang-jawaPahingan adalah kegiatan pengajian selapanan yang dilaksanakan setiap ahad pahing di Masjid Jami’ Kota Magelang Jawa Tengah.

Jamaah yang hadir pun bisa hingga ribuan orang dan bukan hanya berasal dari Magelang saja, kota-kota sekitarnya seperti Purworejo, Kebumen, Wonosobo, Temanggung dan Salatiga juga ikut meramaikan pengajian selapanan Ahad Pahing.

Seperti mahfumnya suatu pengajian, selalu ada pedagang yang menyertai dan ikut meramaikan. Awal mulanya, para pedagang tersebut merupakan bagian dari jamaah yang ‘Ngayuk’, ngaji sambil jualan. Namun lama kelamaan, banyak pedagang murni yang ikut bergabung untuk menjual barang dan makanan. Makanan paling identik dari semua yang dijual adalah ‘gebleg’ dan ‘kacang godhog’. Pengajian dan ‘Pasar tiban’ tersebut lama kelamaan kian melekat satu sama lain, saling bersinergi, membentuk suatu tradisi yang khas. “Berbicara mengenai Pahingan tidak saja soal pengajiannya, namun juga pasarnya. Begitu pula sebaliknya, keduanya saling berhubungan” ungkap Danu, salah satu penggerak komunitas Save Pahingan.

Polemik tahun 2016

Semangat program ‘Smart City’ dari Pemerintah Kota Magelang pada tahun 2016 silam yang berupaya memisahkan antara pengajian dan ‘Pasar Tiban’ yang mana nantinya pasar akan direlokasi, digabungkan dengan CFD di Rindam. Banyak alasan pemerintah kota yang mendasari program relokasi ini, diantaranya sebab adanya pasar tiban menjadikan pasar Rejowinangun sepi. Alasan lain, ada perda yang tidak memperbolehkan berdagang di area alun-alun, termasuk trotoarnya.

Ada beberapa kesalahan pemerintah kota dalam wacana program relokasi pasar tiban seperti :

1. Beranggapan bahwa pasar pahingan sama dengan pasar-pasar pada umumnya. Padahal, pasar ini bersifat spesifik, jelas melekat dengan pengajian pahingan dan telah berusia setengah abad lebih. Sehingga layak disebut sebagai cahar budaya non bendawi.
2. Alasan pemerintah kota yang mengatakan bahwa keberadaan pasar pahingan membuat pasar rejowinangun sepi merupakan alasan yang tidak logis dan tidak rasional. Bagaimana mungkim pasar yang hanya beroperasi selama 35 hari sekali menjadikan pasar yang setiap hari beroperasi menjadi sepi?.
3. Sisi ambiguitas pemerintah kota yang melarang pedagang pasar pahingan berjualan di alun-alun, sementara memberikan ruang luas untuk kuliner ‘Tuin Van Java’, angkringan dan pedagang-pedagang liar. Termasuk, saat Idul Fitri tiba, alun-alun bebas untuk berjualan selama 2 minggu. Lalu yang menjadi polemik di mata masyarakat, dimanakah azas keadilan yang ada?, begitu sekiranya.

Sebab didasari beberapa alasan tersebut diatas, maka munculah komunitas ‘#Save Pahingan’.

Penggerak daripada komunitas ini (#Save Pahingan), berangkat dari lintas sektoral baik profesi maupun agama. “Waktu itu, jumlahnya 12 orang” ingat Danu yang juga merupakan bagian dari komunitas #Save Pahingan.

Mereka melakukan perlawanan dengan mengajukan protes kepada DPRD, menggelar event Perfoming art, diskusi-diskusi, membuat polling, demo dan lain sebagainya. Termasuk menjalin komunikasi dengan Ganjar Pranowo, selaku Gubernur Provinsi Jawa Tengah.

Perjuangan untuk mempertahankan tradisi pasar pahingan cukup memakan waktu, tenaga dan pikiran. Termasuk beberapa kejadian intimidasi, demo dan lain sebagainya. Akan tetapi, setelah publik banyak yang mendukung gerakan #Save Pahingan ini, akhirnya Walikota menyerah dan membiarkan pasar tetap berjalan dengan syarat menggunakan konsep baru. Yakni, pedagang tetap tidak boleh berjualan di area alun-alun, namun dipindah di jalan raya depan Masjid Jami’, Kauman, Kota Magelang. Dan bersyukur, berkat antusias ‘pahlawan tradisi’ dan dukungan masyarakat untuk mempertahankan pasar pahingan, maka tradisi tersebut tetap berjalan hingga saat ini.

Komunitas #Save Pahingan ini pula yang kemudian melahirkan paguyuban diskusi lintas agama yang bernama Jamaah Kopdariyah. Hingga saat ini, keduanya saling melengkapi. Jamaah kopdariyah turut serta dalam menjaga, mempertahankan tradisi pahingan dan selalu melibatkan #Save Pahingan di setiap agendanya, begitupun sebaliknya, komunitas Save Pahingan selalu melibatkan ‘Jamkop’ di setiap eventnya yang diselenggarakan setiap 35 hari sekali.

Mari, jaga tradisi untuk kawal NKRI.
(Sumber narasi : tanya via WA kepada narasumber, Danu Wiratmoko, Vocalis Grup Band ‘Danu & The Last Winery’, penggerak komunitas #SavePahingan dan penggerak paguyuban Jamaah Kopdariyah Magelang Raya).

Terus tebarkan kebaikan, taburkan cinta kasih dan berbagi karunia, kedamaian untuk semua insan. Tetap bersatu dalam kebhinnekaan.

Save Pahingan, save tradisi, save NKRI !!

Vinanda Febriani
Siswi kelas XI di MA Ma’arif Borobudur
Netizen Jamaah Kopdariyah, Magelang Raya

Borobudur. Rabu, 23 Mei 2018.

By Ahmad Jumaili

Ruang Dakwah, Bela NU dan Ulama

 

~ Turmudzi

Sekitar bulan November 2017, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kementerian Agama RI mengungkapkan hasil penelitian bahwa, Habibi Rizieq dan Bachtiar Nasir cenderung lebih populer dan diidolakan aktivis pembinaan rohani Islam (Rohis) di Sekolah Menengah Atas (SMA) wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta (Viva online)

Kepopuleran Habib Rizieq yang merupakan Ketua Front Pembela Islam (FPI) dan Bachtiar Nasir sebagai Pimpinan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI bahkan mengalahkan tokoh Islam moderat seperti Prof. Quraish Shihab, KH. Mustafa Bisri. Bahkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin disebut tidak populer di mata pelajar aktivis

Penelitian dilakukan Puslitbang Kemenag RI memang baru dilakukan sebatas aktivis pelajar Rohis sekolah umum di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kalau kemudian penelitian juga dilakukan di seluruh sekolah umum di Indonesia, termasuk masyarakat umum, bukan tidak mungkin gejala dan fenomena sama juga terjadi

Meski sampel penelitian Kemenag hanya baru sebatas Jawa Tengah dan Yogyakarta, tapi hasil penelitian tersebut setidaknya memberikan gambaran bagaimana tokoh – tokoh Islam garis justru lebih mendapatkan tempat lebih istimewa di hati para pelajar daripada tokoh Islam moderat, yang dari sisi pemahaman keagamaan lebih kuat dan cara berdakwah lebih santun

Kepopuleran Habib Rizieq dan Bachtiar Nasir tentu tidak bisa terlepas dari aksi demonstrasi berjild – jilid atau lebih dikenal dengan aksi 212 menuntut mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dipenjarakan atas dugaan penistaan agama, dikomandoi dua orang tersebut dan berhasil menggalang ratusan ribu massa umat Islam ikut melakukan aksi

Meski demikian aksi demonstrasi tersebut sebenarnya merupakan momentum dan bagian puncak dari pengetahuan masyarakat termasuk pelajar tentang sosok Habib Rizieq dan Bachtiar Nasir, ditambah polesan gerakan arus informasi media sosial tidak terbendung, termasuk berita hoax.

Sebab sebelum itu kedua tokoh tidak terlalu banyak dikenal masyarakat maupun pelajar, tapi momentum aksi demonstrasi berjilid telah memberikan panggung bagi kedua tokoh, termasuk gerakan dakwah media sosial facebook, twitter, youtobe yang banyak disebarluaskan pengikut dan pembela Habib Rizieq

Peran Nahdlatul Ulama

Mengamati fenomena tersebut, keberadaan Ormas lslam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah termasuk Ormas Islam moderat lain, harus mulai banyak tampil ke permukaan, tidak saja dalam bentuk sikap dan kebijakan dijalankan, juga dalam bentuk tindakan dan gerakan nyata, mengambil ruang yang selama ini banyak dikuasi kelompok radikal, terutama dakwah media digital dan media sosial

Apalagi dengan maraknya bertebaran berita hoax (bohong) dan dakwah provokatif yang tersebar luas di media sosial, telah banyak mempengaruhi dan meracuni otak serta perilaku masyarakat menjadi bagian dari pelaku penebar ujaran kebencian terhadap lembaga, institusi pemerintahan maupun tokoh bangsa maupun partai politik

Bahkan tokoh agama sekaligus tokoh sentral Ormas Keagamaan NU maupun Muhammadiyah yang selama ini menjadi panutan, dihormati dan disegani masyarakat juga ikut jadi sasaran tembak para pelaku ujaran kebencian dan fitnah melalui berita bohong di media sosial secara masif

Kalau kondisi ini dibiarkan akan sangat berbahaya, tidak saja bagi Ormas NU dengan tokoh – tokohnya, digerogoti dan dibuat kropos dari dalam, dengan cara membenturkan sesama tokoh, termasuk membangun rasa tidak percaya di kalangan warga NU, baik terhadap organisasi maupun tokoh NU yang selama ini jadi panutan

Berita bohong dan fitnah media sosial juga bisa menghancurkan sendi kehidupan berbangsa yang dengan susah payah telah dibangun para pendiri bangsa. Ketika berita bohong telah mampu meracuni dan merusak sendi kehidupan berbangsa, maka tidak ada lagi, toleransi, tidak ada kebersamaan, tapi yang ada hanya kebencian dan permusuhan

Sebagai Ormas Islam terbesar, NU tentu memiliki tanggungjawab besar menjaga ulama dan NKRI dari ancaman kelompok radikal. Warga NU melalui kader mudah sudah waktunya bergerak melawan kelompok yang berupaya membenturkan ulama dengan masyarakat, ulama dengan pemerintah dan memecah belah persatuan bangsa Indonesia

Melakukan transformasi dakwah secara masif dari offline ke digital online melalui berbagai sarana media sosial tersedia, dengan mengetengahkan dan mempopulerkan ceramah keagamaan tokoh – tokoh agama, Kiyai dan Tuan Guru pesantren yang dari sisi keilmuan tidak diragukan, terutama Kiyai dan Tuan Guru NU dan Muhammadiyah yang tersebar di setiap Pondok Pesantren

Mengingat NU memiliki segudang ulama dan Kiyai penceramah yang tersebar di Pondok Pesantren, yang dari sisi keilmuan tidak diragukan, dengan gaya ceramah menyejukkan dan mudah difahami

Meminjam bahasa Ketua LTNU NTB, Aksar Anshori, sekarang ini ada upaya dari kelompok tertentu berupaya memisahkan warga NU dari organisasi dan tokoh – tokohnya, dengan cara pembunuhan karakter, itu sebab banyak warga NU kehilangan kepercayaan terhadap organisasi dan tokoh sendiri

Kalau ini dibiarkan, percayalah meski secara keorganisasian NU besar akan tapi kalau warganya tidak melek media, melek teknologi, maka akan kehilangan tempat dan kalah oleh kelompok kecil yang menguasai teknologi media sosial.

By Ahmad Jumaili

Menebak Media Pasca Milenial

~ Ahmad Jumaili

Demam Blackberry sudah berlalu tahun 2009, diganti Whatsapp dan telegram dan masuknya kita di era milenial. Beberapa sosial media seperti facebook sempat mau ambruk, tapi canggihnya strategi facebook membuat whatssapp akhirnya bisa diakuisi. Duet FB dan WA ini ampuh, buktinya facebook menguasai pasar, WA menguasai chat dan group. Instagram setidaknya terlihat berlari sedikit menyalip twitter yang kaku dan miskin inovasi, namun begitu, tampaknya keduanya sudah punya segmen sendiri-sendiri.

Dilain fihak, ada google dengan search engginenya. Google menguasai search enggine, melibas dan menenggelamkan Yahoo ke dasar samudra. Google hingga kini masih memimpin pasar iklan melalui beberapa produknya, google adsense, admob, playstore dan google youtube.

Satu produk google yang nampaknya akan segera terdisrupsi adalah Blogger. Melemahnya Blogger sesungguhnya tak lepas dari massifnya penyebaran Hoax melalui kanal-kanal blogcepot ini. Hal ini membuat orang kian faham, informasi-informasi dari blogger 80% sulit dipercaya, disamping kanal itu gratis, juga bias pembuatnya tak bertuan. Walhasil, sekarang orang-orang back to site, kembali memberikan kepercayaan pada media online yang jelas alamat dan managemennya.

Perubahan-perubahan terus berlangsung. Dulu orang banyak mengira, pasca marak blogger, lalu sosial media lalu massengger (WA dan Telegram) lantas media cetak dan elektronik (Tv-radio) dikiranya akan bubar. Tapi ternyata tidak. Bias Hoax yang merajalela, viralnya broadcast-broadcast sampah membuat banyak orang hari ini mulai muak dan kembali mempercayai media cetak.

Masa terus berlanjut. Pengusaha-pengusaha media cetak bisa sejenak bernafas lega, mereka merasa kepercayaan manusia telah kembali. Sosial media dan massengger mereka manfaatkan sebagai Influence agar berita-berita mereka dibaca. Disaat yang sama, ternyata mereka butuh sensasi, butuh eksistensi. Mereka mengikuti irama yang terjadi di kanal-kanal group-group WA dan Telegram.Tak mau kalah cepat dan tak mau kalah informasi. Fatal akibatnya, Media Cetak akhirnya ikut-ikutan menjadi penyebar Hoax. Kasus Republika menjadi contoh terkini.

Pasca Milenial

Setelah masa ini, pasca milenial, apakah media cetak akan kehilangan reputasinya juga? Hmm….lalu media apa yang bisa kita percaya hari ini.

Sekarang sudah mulai bermunculan situs-situs berita yang menggunakan metode muti user, satu web dikelola rame-rame. Contohlah Seword, Kumparan, Quereta, Kompasiana dan juga blog ini Qalama.com. Mirip-mirip Citizen Journalism, semua orang bisa daftar dan menulis sesuatu semau udelnya, tanggungjawab kebenaram informasi ada di masing-masing user.

Apakah cara ini yang akan mengganti cara-cara lama dalam pemberitaan? entahlah.

Esok lusa, mungkin akan muncul beberapa inovasi lagi, tekhnologi yang lebih canggih, boleh jadi di HP kita, secara realtime bisa kita nikmati langsung dari lokasi, tanpa quota, tanpa sinyal 4G. Ini mungkin saja.

Dus, disaat keterbukaan informasi seperti ini. Satu hal yang perlu kita jaga-jaga. Jangan mudah percaya, saat ini janganlan akun media sosial, seorang calon presiden saja bisa berbohong dan ikut menjadi produsen Hoax. Jadi mari kembali ke diri masing-masing. Jagalah dirimu dan keluargamu dari informasi-informasi Hoax.

By Fahmie Zaky

Pungut Hikmah Puisi Panas Sukmawati

~ Fahmie Zaky

Hingga detik ini, masih hangat pembicaraan soal puisi ‘panas’ Sukmawati Soekarno Putri. Pro-kontra terutama di Media Sosial bikin pekak mata dan telinga.

Yang pro Sukmawati, membela mati-matian bahwa puisi yg dibacakan Sukmawati itu bukan penistaan melainkan hanya ekspresi pribadi yang tertuang dalam bentuk puisi.

Saudari kandung Megawati Soekarno Putri inipun sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya lengkap dengan drama air mata. Namun bagi masyarakat yang terlanjur terprovokasi dalam rangkaian hujatan untuk puisi itu, mereka malah semakin kalap dan melaporkan Ibu putri Proklamator Soekarno itu ke polisi. Tangis Sukmawati rupanya mereka anggap Drama saja.

Salah seorang yang paling ngotot mempermasalahkan Puisi Ibu indonesia itu adalah Ketua Persaudaraan Alumni 212 Dedi Suhardadi. Dedi mengulang-ulang pernyataannya di media, ia sangat tersinggung dengan puisi yang dibacakan Sukmawati.

Sekarang, laporan Dedi itu sudah ditangan Bareskrim Polri, masyarakat tentu menunggu perkembangannya.

Jika dilihat Pasal yang diperkarakan Dedi, tampaknya ia ingin mengikuti jejak kasus Ahok yang berhasil dijerat dengan undang-undang penodaan agama 1945. Mereka yakin, pasal karet warisan Orde Baru itu bakal mudah menjerat Sukmawati.

Polemik tentang “puisi panas” ini masih terus berlangsung hingga detik ini. Pendapat dari arus yang lain, puisi Sukmawati tak lebih dari urusan remeh temeh yang dibesar-besarkan. Itu hanyalah puisi tak ada kaitannya dengan penistaan agama. Ini kata mereka yang membela Sukmawati

Suara yang lain, Puisi Sukmawati itu mungkin ada masalah, tetapi dia sudah minta maaf dan masyarakat diajak memaafkan. Sikap seperti ini disuarakan secara kompak oleh dua organisasi terbesar Islam, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Dus, bagi saya kasus tersebut ambil saja hikmahnya. Hikmah yang bisa kita pungut, minimal, bangsa Indonesia khususnya generasi muda mengerti bahwa Puisi itu bukanlah karya sembarangan. Puisi itu punya daya dobrak yang kuat. Maka kearifan bagi sastrawan-sastrawan untuk menciptakan puisi-puisi yang mendamaikan. Sudah lelah kita dengan segala bentuk pertikaian.

Salam Satu Jiwa, Nahdliyyin punya cara!

yusuf_thantowi
By Yusuf Thantowi

Uang Kaget Dari Tuhan

Uang kaget itu menyadarkan saya bahwa rumus sukses adalah perpaduan kerja keras dan doa.

~ Yusuf Tantowi

Suatu malam saya benar-benar kehabisan uang. Di dalam dompet uang yang tersisa hanya Rp 2 ribu. Itu pun sisa membeli nasi bungkus malam sebelumnya. Dengan uang segitu, apa yang bisa dibeli di kota kecil saya ini? Uang sejumlah itu hanya bisa buat beli kerupuk yang tidak bisa mengenyangkan. Maka, saya harus puasa dari pagi sampai sore.

Anda mungkin pernah merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki uang. Pikiran tidak tenang, optimisme tiba-tiba hilang. Kepercayaan diri juga tiba-tiba lenyap entah kemana. Pokoknya, pikiran tidak menentu, seolah dunia ini sudah kehabisan harapan. Begitulah perasaan saya saat itu. Uang telah menjerat saya. Saya yang dianugrahi akal oleh Tuhan dihegemoni oleh benda yang bernama uang.

Bulan itu bukan tidak ada rencana rencana pemasukan. Seorang teman di Jakarta bahkan sudah berjanji akan segera mengirim honor menulis saya bila pekerjaan sudah selesai.

Kini, pekerjaan itu sudah lama saya selesaikan. Teman itu bahkan memuji hasil kerja saya yang dianggap cukup baik dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Katanya,tulisan saya lebih lengkap dan sistematis. Tetapi sayang, ketika saya sangat membutuhkan uang untuk makan, ternyata honor saya belum dikirim-kirim juga.

Jujur saja, sebenarnya sudah tiga malam saya berturut-turut datang ke ATM untuk mengecek. Tetapi, hasilnya masih sama. Nihil. Saldo tabungan saya tidak berubah. Saya juga sengaja datang malam hari, saya berpikir teman itu pasti akan mentransfernya siangnya. Tidak mungkin malam hari karena bank pasti tutup.

Terdesak oleh kebutuhan, malam keempat saya datang lagi ke ATM yang berada di gedung rektorat Universitas Mataram itu. Seperti biasa saya antri beberapa menit karena sebelum saya datang sudah ada beberapa orang yang antri. Beberapa saat menunggu saya pun akhirnya masuk ATM. Di belakang saya sudah berdiri beberapa orang yang menunggu giliran.

Ketika mendapat giliran, saya langsung mendorong pintu ATM yang terbuat dari kaca itu. Di dalam saya langsung memsukkan kartu ATM saya. Menekan nomor pin lalu melihat saldo tabungan. Sayang, saldo di rekening saya tidak bertambah, masih tercantum angka Rp 7.500. Itu artinya belum ada transfer sama sekali. Dua detik kemudian kartu ATM saya tarik keluar. Bersamaan dengan itu pandangan saya tiba-tiba tertuju pada sebuah kertas berwarna merah yang berada di bawah mesin ATM. Letaknya hanya beberapa sentimeter dari ujung sandal yang saya pakai. Lama saya perhatikan ternyata itu uang kertas Rp 10 ribuan.

Saat itu, pikiran saya terpecah menjadi dua, antara keinginan mengambil atau membiarkan. Kalau saya ambil sudah tentu uang itu bukan hak saya. Ada perasaan malu juga dilihat oleh orang dibelakang saya. Tetapi kalau tidak saya ambil, saya makan apa malam ini? Secara bersamaan saya juga masih percaya dengan anggapan–bila mengambil sesuatu yang bukan hak kita, maka Tuhan akan mengambil milik kita dengan cara yang tidak disangka-sangka. Itulah yang saya takutkan. Pengalaman seperti itu beberapa kali saya alami.

Pikiran itu kemudian bernegosiasi di benak saya. Tetapi, tuntutan perut akhirnya mengalahkan keragu-raguan saya. Sebagai gantinya, saya berjanji dalam hati kalau saya dapat uang, uang itu akan saya ganti dengan menyumbangkannya kepada anak yatim atau kepada masjid dua kali lipat dari jumlah uang tersebut. Selain itu saya juga akan menyumbangkannya atas nama pemilik uang tersebut, bukan untuk pribadi saya. Mencari pemiliknya tentu sangat susah. Saya pun mantap mengambilnya.

Selang beberapa hari setelah kejadian itu saya kemudian mendapatkan uang. Lumayan sebagai modal bertahan hidup untuk beberapa hari. Uniknya begitu saya dapat uang, ibu saya tiba-tiba menelepon dari kampung. Ia menanyakan keadaan saya. Di akhir pembicaraan kami ia tidak lupa berpesan bila ada uang lebih jangan lupa memberikan sebagiannya kepada anak yatim. Saya pun jadi teringat akan janji saya. Wow, Tuhan rupanya datang menagih janji saya. Maka, tanpa berpikir panjang saya pun memenuhi janji saya dengan memberikan uang dua kali lipat kepada seorang anak yatim yang kebetulan tetangga saya di kampung.

Pengalaman itu membuat saya semakin yakin betapa Tuhan sangat dekat dengan kita. Ia tidak pernah tidur untuk mendegar dan menunggu usaha kita. Ia bahkan lebih dekat dari urat nadi kita. Tuhan memang sangat pemurah. Memberikan rezeki kepada umatnya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Ia bahkan tidak pernah membeda-bedakan umatnya, baik yang beriman atau tidak.

Meski demikian, Tuhan akan senang membagaikan rezekinya kepada umatnya yang suka bekerja keras. Bukan kepada umatnya yang hanya pandai berdoa tetapi malas bekerja. ‘Uang kaget’ itu menyadarkan saya bahwa rumus sukses adalah perpaduan kerja keras dan doa. Tanpa perpaduan kedua, mustahil kesuksesan dapat kita raih.

Pelajaran lain, bila kita mendapatkan uang lebih, ada baiknya disumbangkan kepada orang yang tidak mampu. Manfaatnya bukan saja dapat dirasakan oleh orang lain tetapi tetapi bisa membawa investasi kebaikan untuk kita di masa depan. Bila tidak, Tuhan bisa mengambilkan melalui jalan yang tidak kita sangka-sangka. Apakah itu melalui penyakit, musibah, penipuan atau prahara rumah tangga. Itulah pelajaran berharga yang saya dapatkan malam itu.[yt]

Tulisan ini pernah di Muat di Andaluarbiasa[dot]com

By Ahmad Jumaili

Berani Menjadi Follower Gila

Berani Menjadi Follower Gila saya yakini sebagai jalan pintas membuat perubahan-perubahan kecil menggelinding menjadi perubahan-perubahan besar

Oleh : Ahmad Jumaili

Saat diskusi Teacher Day beberapa waktu lalu, saya mengatakan kepada teman-teman guru, “Untuk membuat sebuah gerakan perubahan, kita harus berani menjadi follower pertama yang menjadikan “orang gila” sebagai pemimpin”. Saya langsung ditertawakan!.

Penggunaan terminologi “Gila” bagi mereka ternyata masih asing. Padahal “Crazy” dalam bahasa inggris sudah populer lama sekali. “Crazy” dipake menyebut orang-orang  yang berfikiran kreatif, melawan mainstream, berfikir diluar cara berfikir orang-orang kebanyakan, berfikir diluar kotak “Think out of the box” atau bahkan berfikir tanpa kotak “Think wthout the box”.

Kata banyak penulis, fikiran-fikiran “orang gila” itu bercirikan tajam, kritis, kreatif dan berani berspekulasi. Mereka para mengambil resiko, tidak takut gagal,

Di Indonesia, istilah berfikir “gila” ini pernah diperkenalkan Purdi E Chandra dan Bob Sadino, pengusaha dan pemilik bimbingan belajar Primagama. Keduanya boleh jadi yang pertama menulis buku dengan judul “gila” – Purdi menulis “Cara Gila Menjadi Pengusaha” dan Murid-murid Bob Sadino yang menulis – “Belajar Gila dari Bob Sadino”. Setidaknya dua orang ini berhasil membuktikan, bahwa “Gila” itu hebat

Di buku “Cara Gila Jadi Pengusaha”. Purdi E Chandra bercerita, pertama mendirikan Primagama, ia tak berfikir siapa peserta belajarnya, siapa pengajarnya, darimana ia akan dapatkan modalnya. Yang ia lakukan memulai dari sebuah rumah kos-kosan, lalu ia mengundang anak-anak untuk mengikuti bimbel gratis, setelah ramai iapun mencoba menarik bayaran. Darimana pengajarnya, ia mengajar sendiri.

Keberanian dan keterampilan tidak harus sejalan, baginya fondasi utama hanya keberanian saja. Berani gagal, berani mencoba da berani merantau ke tempat jauh sementara keterampilan bisa menyusul, bisa dipelajari sambil berproses.

Disebuah wawancara ia katakan “Saya rasa jawaban mereka tidak bisa disalahkan. Mereka cenderung menggunakan otak rasional. Padahal untuk menjadi pengusaha, kita harus ‘berani’ dulu memulai usaha, baru setelah itu memiliki keterampilan. Bukan sebaliknya, terampil dulu, baru berani memulai usaha”

Dikesempatan yang lain, Maia Rahmayati penulis buku Pawon pernah mengajak saya “Gila” menyelami fikiran orang-orang gila di trotoar Jalan Airlangga. Kesimpulanya sederhana,  orang-orang gila adalah orang-orang kreatif yang fikirannya belum terjangkau fikiran-fikiran normal. Difikiran orang gila, boleh jadi orang-orang yang kita sebut berfikir normal inilah yang sesungguhnya gila. Gila dalam persfektif mereka.

Kembali ke konten video dari TED ini, lihat bagaimana proses perubahan besar telah terjadi, satu orang follower berani menjadikan orang gila menjadi pemimpin!

tanda-kecanduan-media-sosial
By Ahmad Jumaili

Gadget dan Budaya Digital

Qalama.com – Yang sezaman dengan saya, tentu maklum, dulu sekitar tahun 90-an, di rumah, di sekolah, di kampus, di jalan, tak akan kita temukan orang-orang, berdiri atau duduk mengantri, sibuk sendiri sambil kulik-kulik hp, tak saling sapa.

Jaman begitu cepat berubah, sekarang kebalikannya. Kita menyaksikan itu terjadi dimana-mana dan sudah dianggap biasa pula. Dijaman ini gadget mengganti teman ngobrol dan kencan bahkan diskusi. Orang-orang sibuk sendiri. Demi teman setia ini, banyak orang saya liat lebih mementingkan gadgetnya daripada nyawanya sendiri. Ini berlaku buat teman saya yang suka baca pesan Whatsapp sambil mengemudi sepeda motornya.

Gadget adalah fenomena dunia yang menjadi kanal informasi paling private. Kita di paksa menggunakan media ini sebagai jalan satu-satunya komunikasi ditengah kemalasan kita bersilaturrahim. Bahkan di majelis silaturrahim saja, akhirnya kitapun sibuk sendiri dengan Gadget.

Terlalu banyak Media Sosial yang menyita waktu kita. Akhirnya kita lupa bersosial sesungguhnya dengan teman dan kerabat.

Akibatnya, kualitas otak manusia jaman now berkurang drastis. Generasi yang lahir pasca 2000-an menjadi kecanduan. Ini dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk meraih keuntungan.

Siapa yang untung, ya perusahaan handphone, perusahaan operator seluler, pengusaha iklan.

Kita saat ini lebih mementingkan Quota data daripada makan enak direstoran. Generasi kita saat ini tak perlu baju mahal karena narsis di sosial media tidak real time dan bisa di manipulasi secara digital. Cewek yang idungnya pesek bisa saja membuat dirinya mancung dan terlihat cantik bagi pengguna medsos yang lain. begitupula pria.

Para pebisnis juga lebih memilih memasarkan produknya dengan cara ini. Sebuah perusahaan yang tak punya kantor, tak memiliki karyawan, kredibilitas perusahaannya belum teruji, bisa saja menampilkan segala yang dia mau dengan citra terbaik. walaupun sebenarnya tak sebegitu amat.

Dus, kita sedang berada di budaya digital. Satu sisi sebuah kemajuan, disisi lain meresahkan. Satu sisi bisa meretas waktu dan jarak dengan sangat mudah, disisi lain kualitas hidup kita menjadi dibatasi Quota dan Sinyal 4G.

kompetensi-pesantren
By Qalama Institute

Kompetensi Dasar Pesantren

Jika saya amati model pesantren saat ini di Indonesia ada 3 jenis konsentrasi yang kemudian dijadikan kompetensi dasar yang diunggulkan atau dijual masing-masing pesantren. Pertama ada pesantren yang mengambil konsentrasi ke pengajaran kitab kuning, kedua pesantren yang mengunggulkan bahasa arab dan bahasa inggris dan yang ketiga pesantren yang mengunggulkan Al Qur’an.

Tiga kompetensi dasar ini, Alqur’an, kitab kuning dan bahasa arab ini sebetulnya memiliki kesamaan visi yakni sebagai ilmu alat mempelajari agama. Saya kira diantara jenis-jenis spesifikasi ini, hanya bahasa asing lain selain bahasa arab saja yang tidak terlalu kompatibel, dan masih dianggap sesuatu yang luarbiasa bagi masyarakat pesantren. Tetapi jika kita mau, sebetulnya masih bisa di hubung-hubungkan, misal bahasa-bahasa itu bisa dijadikan ilmu untuk membaca referensi agama berbahasa asing lain selain bahasa arab.

Nah saya memiliki mimpi mencoba justru tidak mengambil focus pada salah satunya ketiga. Justru saya akan lakukan adalah menggabungkannya. Tapi bagaimana caranya?
Apakah bisa menggabungkan ketiga hal ini dalam lingkungan yang sama secara bersamaan?

Baru lalu saya berkunjung ke ponpes ulil albab di perian gegek lombok timur. Dipintu gerbang kami terkesan, sejumlah santri menyalami kami dan dengan sangat sopan mengadakan sambutan yang luar biasa.

Di Ulil Albab saya mendapati pesantren ink berhasil mencetak karakter /akhlak santri dengan sangat baik. Dan ketiga kompetensi dasar pesantren itu berhasil digabungkan dan bejalan secara bersama.

Untuk merealisasikan itu,  Ulil albab mondokkan semua santri, semua santri diwajibkan berbahasa Asing, 3 hari Bahasa Inggris dan 3 Hari berbahasa Arab. Dan untuk mengajari santri agama dan kuninh Ulil Albab memprogramkan madrasah diniyah di sore sehabis sekolah.  Dan untuk mereka yang minat menghafalkan al quran juga diberikam kesempatan untuk mengikuti hafalan alqur’an melalui lembaga yang dinamai Maqdis atau Madrasah Quran dan Hadist.

Diluar tiga hal itu, Ulil Albab juga melakukan sistem pendidikan dengan metode pendidikan membebaskan. Pesantren memberikan kebebasan kepada guru dan santri untuk memanfaatkan potensi dirinya, baik seni, musik, sinematografi, lukis dan lain sebagainya. Sehingga dapt kita saksikan, Ulil Albab termasuk salah satu yang berani melakukan pembelajaran kontemporer dengan sistem semua kompatibel dengan program pondok.

Pondok Pesantren Sirajul Huda sebetulnya juga bisa melakukan hal yang sama. Dengan catatan kita semua memiliki visi dan misi serta tekad dan kemauan yang kuat begitu juga kekompakan para fihak dalam menjalankan program.

Nah, Program Tamyiz dan Bahasa Inggris yang sedang dan akan kita lakukan ini, bisa menjadi awal yang sangat bagus. Mulai sedikit-sedikit memondokkan semua siswa, memadati kegiatan pesantren dengan tiga kompetensi dasar pesantren yang saya ulas dimuka. Ditambah dengan berbagai kegiatan eskul kita yang sudah jalan seperti Agribisnis.

Sekali lagi, semua akan kembali pada kemauan dan tekad bersama. Karena itu, harapan saya, semua lembaga di yayasan mulai berakit-rakit ke arah itu. Saya siap menjadi “Gegeseng”.
#RenunganSebelumTidur

Belajar-merdeka
By Qalama Institute

Merdeka Belajar

Seorang senior ketika ospek dulu, sok pintar dan sok bijak, dia memberi motivasi begini :
“Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru”. Saya tau, senior ini sebetulnya sedang membual saja untuk melegitimasi dirinya yang lebih suka seminar yang ada duit daripada berlama-lama duduk dikelas.

Hey, tapi bener juga. Karena saya baca di buku Roem Topatimasang, konon sebelum sekolah dilembagakan kayak sekarang, orang-orang dulu belajarnya di bawah-bawah pohon, di pinggir-pinggir sungai, di tepi-tepi pantai, tak ada gedung-gedung seperti sekarang ini. Sembari menikmati udara sepoi-sepoi, gemericik air atau cicit burung. Kala itu, siapapun boleh dan bebas belajar, belajar apa saja, dimana saja, pada siapa saja. Benar-benar belajar merdeka, tak ada tata tertib, tak ada bayar-bayar, tak ada kemdikbud yang ngatur-ngatur. Pokoknya belajar bebas merdeka….hehe betapa senangnya, atau malah amburadul he

Tapi Begitulah dulu, benar tidaknya, saya tidak yakin. Tapi okelah. Begitulah gambaran sekolah di awal-awal berkembangnya ilmu pengetahuan. Kembali ke hakikat belajar sepanjang hayat, menyebarkan kebaikan dengan memberi petunjuk baik buat orang lain.

Sekarang, ketika sekolah sudah melembaga, ada gedungnya, ada pemerintahnya. Bahkan pemerintahnya mengatur ketat harus gini, harus gitu, semangat merdeka belajar ini menjadi penting. Dalam pendidikan yang katanya Modern, guru berada di posisi terbawah yang menerima kebijakan dan isntruksi dari pusat.

Istilah yang sering terucap dari pemilu ke pemilu, ganti presiden ganti kebijakan, ganti menteri ganti aturan. Belum saja kebijakan lama berhasil dilaksanakan, muncul lagi kebijakan baru. Kurikulum sudah berkali-kali ganti. Aplikasi pendataan bahkan lebih sering, puluhan mungkin ratusan.

Sialnya, semua kebijakan-kebijakan itu seperti Kitab Suci yang sudah paten gag bisa diubah-ubah. Persetan dengan kondisi daerah yang tidak sesuai dengan yang ada di pusat. Yang jelas kebijakan itu harus terlaksana, jika tidak, maka guru itu buruk, sekolah itu buruk, penddikan itu buruk. Selesai dengan laporan-laporan baik yang bisa membuat mereka tersenyum.

Mengikuti alur birokrasi seperti membuat guru terengah-engah. Konsentrasi mengajar sudah jauh melayang kemana-mana. Guru sibuk bikin silabus dan rencana pembelajaran, sibuk dengan kelengkapan akreditasi sekolah, sibuk dengan ulangan dan ujian nasional. Akhirnya 3 tahun anak-anak kita sekolah dengan muka kusut, terakhir mereka diapresiasi dengan selembar kertas berisi angka-angka “Bodoh”, begitupun guru. Pembelajaran, lingkungan sekolah, guru dan murid belajar dalam kondisi Nir kebahagiaan, Nir Kemerdekaan!!

Melepas diri dari semua problem itulah diisebut-sebut Belajar Merdeka. Guru Merdeka, Murid Juga Merdeka. Pun lingkungan sekolah juga dengan situasi merdeka. Apakah semudah itu? Tidak! Situasi ini sudah telalu lama membeku. Belenggunya terlalu kuat sehingga menebar ketakutan sampai hilangnya kepercayaan diri. Itulah kondisi saat ini.

Tapi masih bisakah berubah? Bisa! Dengan apa? Dengan meretas tiga hal dibawah ini.

Pertama, meretas belenggu rasa takut. Rasa takut membuat guru takut salah, siswa takut keliru, sekolah takut ditegur, pejabat takut dipecat. Ketakutan telah membuat kita tak bisa berbuat banyak. Kreatifitas yang menjadi pintu masuk sudah tertutup rapat.-rapat. Guru sibuk dengan tugas, siswa sibuk dengan PR, para pejabat sibuk dengan laporan. Pendidika seperti penjara.

Kedua, meretas banyak harap. Karena terlalu lama kita dalam kondisi begini, akhirnya semua kita betumpu pada banyaknya ekspektasi alias harapan. Siswa berharap lulus dan mendapat pekerjaan baik, guru berharap diapresiasi dengan gaji, piagam dan prestasi, pejabat berharap dinilai baik atasan dan diangkat ke jabatan-jabatan yang lebih basah. Banyak harap menjadikan semua pekerjaan pendidikan sudah kehilangan ruhnya. Proses keteladanan dan menularkan rasa ingin tahu sudah hilang.

Ketiga, meretas belenggu dari fikirannya sendiri. Tujuan (Goal) pendidikan yang ingin dicapai, secara tidak sadar telah membuat fikiran kita tak bebas menentukan pilihan. Guru sibuk mengejar prestasi, lupa berkolaborasi dan bersinergi. Siswa sibuk mengejar nilai, lupa dengan potensinya yang besar dibidang lain.

Dengan meretas 3 hal inilah, merdeka belajar bisa dihasilkan. Jika masih dilanda ketakutan, masih banyak harap dan fikiran masih terbelenggu, jalan menuju Pendidikan Merdeka itu masih panjang.

Paok Dandak, 29 Okt 2017