By Qalama Institute

Melawan Narasi Kengerian di Bulan Gusdur #

Ini bulan Desember. Ada lagu tentang Desember ceria. Di bulan ceria ini, tepatnya tanggal 30 Desember 2009, salah satu bapak bangsa, KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur), wafat. Bagi para pecinta Gusdur, Desember adalah bulan tempat mereka mengenang, mengapresiasi dan merefleksikan seluruh pikiran dan tindakan Gusdur. Ia adalah tokoh komplit yang dicintai semua orang oleh karena kiprahnya memanusiakan manusia. Ya. Desember ceria, Desember rileks, Desember lucu, sebab demikianlah Gusdur memandang hidup, lucu, lugas, tapi sarat makna. Bukankah manusia ini lahir dari proses kesenangan, keseruan bercampur kelucuan? Itu berarti Tuhan ingin menegaskan bahwa manusia diutus sebagai khalifah di bumi dengan cara2 yang rileks namun mengena. Dengan senyum tapi tegas. Dengan lucu tapi penuh filosofis. Hehehe..

Saya bayangkan Gusdur masih hidup, lalu pada suatu saat ketemu Bahar Bin Smith, penceramah yang tengah naik daun akibat suka mencaci dan terakhir karena mukul anak. Gusdur menjenguk Bahar di penjara. “Har, emang doa ente makbul. Ente pernah bilang lebih baik busuk di penjara. Nah, sekarang udah dikabulkan. Tuhan sayang sama ente, Har,” katanya.

Tapi kasus Bahar ini memang tidak bisa dianggap enteng. Bahar adalah bagian dari fenomena kekinian, gejala politik (Islam) identitas yang justru bertentangan dengan prinsip2 dasar bernegara sebagaimana aturan Islam. Jangan mengira Bahar berceramah tentang Jokowi banci hanya celetukan biasa. Narasi gerakan politik Islam di belahan dunia manapun ya begitu. Ada objek (pemerintah), ada landasan (ayat-ayat yang dimodifikasi sedemikian rupa menjadi pesan kebencian), lalu terakhir ada ajakan yang berkonsekwensi (yang mau dapat pahala, yang tidak mau dapat dosa). Bahar adalah bagian dari aktor itu. Itu sebabnya kepala saya pening saat orang melabelinya ulama. Tidak! Dia penceramah! Dia agitator! Lebih mungkin lagi, dia demagog!

Demagog adalah mereka yang kesana kemari kerjaannya menghasut. Mereka mencederai prinsip dasar kemanusiaan bahwa orang bisa baik bisa juga buruk. Maksudnya? Ada narasi pemalaikatan dan pengiblisan. Ada orang atau kelompok yang diibliskan selamanya. Pokoknya dia pada posisi salah selamanya. Tidak ada benarnya. Pokoknya iblis dah. Sebaliknya, ada yang dimalaikatkan selamanya. Pokoknya malaikat. Dia kencing di kepala orang aja nggak apa-apa, wong dia keturunan nabi. Nah, demagog punya peran membuat klasifikasi abadi ini supaya arena pertentangan akan terus ada, supaya pundi keuntungan dari praktek pertentangan terus mengalir. Nggak ada istilah saling menasihati dengan baik, lalu yang dinasihati menerima nasihat karena yang menasihati bicaranya baik.

Bahar, namanya seindah nama Anisa Bahar, si cantik pemilik goyang bergaji. Saya juga kalau ketemu dia akan bilang beberapa hal. Mungkin saya akan singgung soal patsun iblisisasi dan malaikatisasi itu. La, ada guru-guru saya yang secara sadar mendukung Jokowi, mereka diplot jadi iblis dong. Tega benar kau Har.

Kalau ketemu sama Bahar, saya juga akan berbagi kisah yang pernah ditulis Jalaluddin Rumi dalam kitabnya yang mashur, Matsnawi. Tentang seorang perempuan Yahudi yang galau memikirkan anak perempuannya yang sedang tertarik dengan Islam. Berbagai cara ia lakukan agar anaknya tidak masuk agama lain. Ia hampir putus asa. Suatu saat si anak ini mendengar suara azan dari salah satu masjid. Suara muazzin jelek sekali. Meski jelek, dia saja yang maju jadi muazzin. Suara azan yang jelek membuat si anak berubah pikiran. Ia tidak mau lagi mendalami Islam. Aha… Sang ibu senang sekali. Ia riang sekali. Pada suatu hari ia datangi si Muazzin itu. Ia bawa permen dan hadiah lainnya. Muazzin kaget, ada Yahudi yang membawakannya makanan dan hadiah. ” Terimalah. Ini bentuk syukur saya. Anak saya nggak jadi masuk Islam karena dengar suaramu,”. Mendengar itu, Bahar, eh maksud saya, si Muazzin, melongo.

Ini Desember ceria. Desember tempat saya mengapresiasi jejak perjuangan kemanusiaan Gusdur. Apa intisari ajaran Gusdur? Cinta! Itu sebabnya di tengah apa saja harus diselesaikan dengan bertengkar dan berkelahi ini, cinta penting dihadirkan. Ia akan merekatkan segala macam perbedaan yang ada. Ini mirip dengan cara aktivis unifikasi Korea setelah sekian lama menghadapi kebutuhan. Bagaimana caranya? Menghadirkan perempuan penari. Perempuan memang identik dengan cinta dan pesan damai. Ohh,, laki-laki Korea Selatan maupun Korea Utara terperangah, terpesona, lalu lupa dengan perdebatan-perdebatan tidak penting mereka. Mungkin dalam waktu tidak terlalu lama lagi, dua Korea akan bersatu. Berkat penari-penari perempuan itu. Hehehe

Kemarin saya melakukan percakapan imajinatif dengan Gusdur. “Saya ajukan satu pertanyaan, boleh? Begini lo, Gus, kenapa kebencian di Indonesia ini musiman? Kayak terjadwal dengan baik begitu. Misalnya, bulan Desember objeknya ini, Januari pindah ke itu, Maret atau April pindah ke yang lain. Begitu terus siklusnya. Tahun depan akan begitu lagi, tapi orang2 tidak menyadari siklus kebencian yang diulang – ulang itu. Kenapa begitu, Gus?”

” Ya kerja mesin kan begitu,” ungkap Gusdur simpel.

Aha.. Mesin Kebencian. Saya ingat tulisan lama saya soal bagaimana mesin kebencian bekerja. Sampai Pemilu dia akan semakin banyak memproduksi kebencian supaya kondisi berhadap-hadapan publik kian tajam. Siapa yang untung? Ya politisi lah.

Ini saya lagi membuka Fesbuk. Orang sedang ramai bahas umat minoritas Islam Uighur Cina yang kabarnya mendapat penyiksaan dari Pemerintah China. Sensitif membahas yang ini. Ntar kritis dikit dikira nggak peduli terhadap saudara seiman. Tapi ketimbang mengganjal, saya ajukan saja pertanyaan-pertanyaan. Mengapa tiba-tiba solidaritas Uighur menggema tanpa angin tanpa hujan pada bulan Natal ini? Mengapa tiba-tiba narasinya berbelok, bahwa pemerintah Indonesia tidak peduli terhadap nasib Muslim Uighur? Mengapa Uighur muncul saat tegang-tegangnya perang dagang antara Amerika dan China? Mengapa Uighur menenggelamkan kasus Kashogi di Arab Saudi dan kisah pembelian spare part senjata Israel oleh Saudi?

Ahh… Saya pusing, Gus. Saya mau ngopi dulu. Habis ini jumatan. Habis jumatan ada warga ngundang roah. Makan-makan. Semoga lapang kuburmu, Gus. Engkau adalah guruku. I Love You!

#Gerung

Oleh : Rasinah Abdul Igit