Mendukung, Menentang atau Membiarkan?

Saya awalnya apolitik, tapi 10 tahun belakangan saya gregetan menyaksikan para politisi yang hilir mudik meminta dipilih rakyat tapi setelah terpilih meninggalkan rakyat begitu saja.

Situasi ini mengkhawatirkan, sebab, rakyat mulai apatis ke politik terutama kalangan muda milenial. Padahal, secara nyata, dalam situasi apapun, kita tetap tak bisa lepas dari politik.

Sekadar bercerita. Kita yang muda-muda ini biasanya baru bangun langsung cari HP. Kita sudah menggunakan pulsa, harga pulsa siapa yang tentukan? Para pengusaha, siapa yang mengatur perusahaannya? Tentu saja negara, kemana mereka bayar pajak dari pulsa yang kita konsumsi, negara. Negaralah yang punya kebijakan mengatur itu semua.

Beberapa menit kemudian kitapun ke kamar mandi, kita bersentuhan dengan Air PDAM, bersentuhan dengan sabun, shampo, sikat dan pasta gigi. Siapa yang menentukan harga-harga itu semua? Pengusaha, siapa yang mengatur pengusaha, negara!.

Remaja putri ke dapur, berurusan dengan cabe, terasi, beras, tomat, garam, minyak goreng dan segala kebutuhan dapur. Siapa yang menentukan harga-harga kebutuhan pokok itu? Negara.

Sejurus kemudian, kita sudah berangkat ke sekolah, ke kampus atau ke kantor, kita pakai kendaraan. Siapa yang menentukan harga bensin? Negara. Siapa yang menentukan pajak sepeda motor? Negara. Lalu mana wilayah kehidupan kita yang bisa terlepas dari politik?. Nyaris gag ada.

Kita bukanlah manusia pedalaman yang hidup di tengah hutan sendirian. Kita hidup dibawah kekuasaan sistem yang disebut negara. Negara memiliki lembaga-lembaga yang ikut menentukan masa depan kehidupan kita sampai sedetail-detailnya. Ada Presiden sampai kepala desa, ada DPR RI sampai DPRD Kabupaten.

Mereka yang menentukan kebijakan ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan. Mereka yang menentukan nasib petani, nasib guru, nasib karyawan, nasib usaha kecil kita dirumah, nasib adik-adik dan anak-anak kita yang tidak bisa kuliah.

Sayangnya, kita rakyat yang menjadi objek kebijakan tidak dianggap konstitusional jika hanya berkoar-koar diluar gedung. Ada proses politik yang mewajibkan kita memiliki keterwakilan dan bisa membawa suara atau aspirasi kita secara sah ke dalam gedung dan diperjuangkan menjadi keputusan-keputusan politik. Mereka-mereka inilah yang kita pilih dalam sistem demokrasi melalui partai dan pemilihan umum.

Kata Mahfud MD, karena sistem mewajibkan itu, maka dalam politik kita hanya punya tiga pilihan mendukung, menentang atau membiarkan alias tak mau ikut-ikutan (Golput). Sialnya, apapun pilihan sikap kita, semuanya akan tetap tunduk pada siapa yang menang.

Sementara ini, saya setuju dengan banyak teman-teman muda yang berfikir. Ah politik itu kotor, penuh tipu daya, penuh persaingan, kebohongan dan seterusnya. Fikiran itu muncul karena kita memang menyaksikan praktik politik yang ditampilkan para senior-senior kita di politik demikian adanya, vulgar dan nyakitin hati. Tapi apakah dengan begitu kita mesti Golput? Diam dan mendiamkan?

Saya kira tidak. Mestinya, masa depan kaum muda jangan ditentukan oleh orang lain, kita yang tentukan nasib sendiri. Saya ajak teman-teman memulainya, jika tidak, pada siapa lagi kita berharap?. Politik akan baik jika diisi orang-orang baik.

Semangat berjuang

AHMAD JUMAILI (MAJU7)

Calon “Legislator Muda” DPRD Kab. Lombok Tengah Dapil 2 Kopang – Janapria
Fb. @MAJU7UntukKebersamaan

By Qalama Institute Opini 0 Comments

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *