Aku Membenci Maka Aku Ada

Kalau Descartes pernah bilang, “Aku berpikir maka aku ada,” di era media sosial ini, tidak banyak komentar dengan pikiran yang ditopang oleh argumen yang kokoh. Terlebih ada gagasan konstruktif di dalamnya. Malah yang kerap terjadi adalah: aku membenci maka aku ada.
Sistem berpikir di era virtual semakin mudah menemui ruang dialog, tapi begitu rentan menyiptakan permusuhan. Situasi semacam ini salah satunya dipicu oleh mudahnya menghakimi dan menyurigai pendapat orang lain. Prasangka-prasangka dijadikan sebagai dalil menyerang seseorang.

Di sinilah perbedaan antara ujaran kebencian dan kritik. Kalau kritik terbangun dari argumentasi yang kuat dan menyasar gagasan seseorang atau kebijakan sebuah lembaga publik. Sebaliknya, ujaran kebencian diarahkan lebih ke pribadi seseorang dan acapkali disampaikan tanpa argumentasi yang teguh.

Tulisan juga punya keterikatan dengan kaidah-kaidah berbahasa. Sementara di media sosial terjadi semacam tuturan yang dituliskan.
Berbeda dengan bahasa tulis yang dilisankan, itu mungkin akan lebih mirip pidato formal-seromonial. Bahasa di media sosial umumnya, baik dari diksi maupun struktur adalah bahasa lisan yang dipermanenkan dalam tulisan.

Hal itu terjadi selain karena tuntutan medium, juga karena desakan dalam diri untuk mengungkapkan serpihan perasaan dan pikiran dengan cepat. Media sosial memancing orang menerapkan paradigma berujar ke dalam tulisan. Karenanya apa yang ditulis juga kerapkali tak utuh. Di sanalah perkaranya.

Di forum-forum faktual, seseorang kadang dapat mengamati bagaimana emosi lawan bicara lewat bahasa tubuhnya. Semisal kita dapat melihat bagaimana cara lawan bicara memandang kita. Di saat seperti itu, ada situasi yang mengharuskan seseorang memahami atau setidaknya memerhalus ujaran. Meski tak sepenuhnya bebas dari ujaran-ujaran kasar bahkan pertengkaran.

Di ruang virtual malah sebaliknya. Seseorang merasa leluasa memilih bahasa yang merepresentasikan emosinya. Lebih terbuka tinimbang di ruang faktual. Di sana kita tak bisa menatap mata lawan bicara yang mungkin mampu membungkus ujaran kala ada yang tiba-tiba memancing emosi.

Di sisi lain sesungguhnya ujaran yang tertulis dalam media sosial adalah apa yang dipikirkan secara terbuka. Tak terbungkus dan terikat oleh semacam ketaksanggupan mengujarkan. Apa yang selama ini mungkin disembunyikan dalam kehidupan faktual, di media sosial tampak telanjang.

Di titik itu media sosial memberi ruang dialog dan silarurrahim yang sangat terbuka. Hanya saja pola silaturrahim dalam media sosial kerapkali tak terkontrol. Orang-orang umumnya menumpahkan apa yang dirasakan tanpa pertimbagan akal sehat.

Banyak di antanya belum mampu menyikapi segala perbedaan yang tiba-tiba mucul. Padahal bukankah perbedaan itu sejatinya sangat lazim ditemui di tengah lingkungan sosial?

Situasi semacam itu menyebabkan para netizen mendapat ruang melampiaskan kekesalan, amarah, dan kebencian. Sekaligus sebagai semacam cara menegaskan eksistensi diri. Akun lainnya juga merasa perlu menanggapinya. Tak jarang dengan tanggapan yang mengandung ujaran kebencian pula.

Ramainya ujaran kebencian saat ini bahkan berimbas pada eksistensi kebangsaan kita. Persoalan ini dapat dilihat sebagai ujian terhadap toleransi yang telah terbangun lama.
Persoalannya, kenapa toleransi kita begitu rapuh? Adakah suatu konsep dalam tradisi kita yang berupaya membendung ujaran kebencian dalam media sosial?

Dibutuhkan Pelempar Handuk

Semenjak lama, bangsa ini sudah menerapkan suatu sistem kekerabatan yang disebut sebagai musyawarah. Bahkan telah dibakukan oleh para pendiri bangsa dalam Pancasila. Nilai dari musyawarah bukan berdasarkan semata penunjukan eksistensi diri, melainkan eksistensi sebagai komuni yang menempati sebuah ruang bersama.

Lewat media sosial, batas-batas demografi dilampaui. Menembus dan menyingkirkan konteks jalinan ruang dan pijakan budaya dalam sistem kekerabatan tradisional. Eksistensi diri ditebalkan lewat sarana.

Media sosial sebagai semacam logika internal yang bagi Lyotar, dapat membalikkan penekanan dari tujuan tindakan menjadi sekedar sarana belaka. Persoalan-persoalan personal berubah menjadi ekstrapersonal dan semakin kompleks. Keterbelahan cara melihat diri sebagai warga negara, penganut agama dan perkara identitas lainnya. Bahkan intoleransi secara tak langsung memperoleh legitimasi lewat pembenaran-pembenaran yang tak jarang menggunakan pendekatan konspiratif.

Apa boleh buat, sistem kekerabatan dalam musyawarah kini termediasi oleh ‘media baru’ secara niscaya. Kita hanya melihat wajah seseorang dari akun media sosial masing-masing. Kehadiran tubuh dalam media sosial tak lagi menjadi prasyarat untuk membahas sebuah persoalan.

Akhirnya terjadi situasi yang menjerat orang untuk memertahankan argumen yang dibaca oleh jamaah lainnya. Barangkali lantaran tak rela di-bully dan merasa tak perlu mengalah saat banyak orang membacanya.

Dalam sebuah musyawarah, umumnya terdapat seseorang yang dapat memoderasi pelbagai perbedaan pendapat. Sementara di media sosial perselisihan terus berlangsung. Di saat semacam itu media sosial tak ubahnya seperti ring tinju.

Sebenarnya dibutuhkan seorang pelempar handuk untuk mengakhirnya. Lemparan handuk itu harusnya dilakukan setiapkali ada upaya untuk terus memertahankan diri, dalam kondisi (argumen) yang lemah.

Sayangnya pelempar handuk pun kadang-kadang tak didengar dan terjerat dalam dikotomi yang terbentuk. Dan para netizen biasanya enggan menanggapi pendapat yang lebih memoderasi. Akhirnya perbedaan pendapat di media sosial tak berujung. Ujaran kebencian semakin bergelayut.

Netizen akan lebih tertarik menanggapi komentar secara lebih emosional. Kalau tak demikian, bisa jadi seseorang tak akan dianggap ‘ada’ dalam perbincangan virtual. Dengan kata lain tak akan direspon oleh jamaah medsos lainnya. Sebab pertaruhannya sekali lagi adalah eksistensi diri dan kelompoknya.

Rupanya spirit kehidupan kota yang lekat dengan individualitas, semakin ditegaskan di media sosial. Di permukaan tampak bersama, tapi di balik itu orang-orang mengukuhkan kepentingan dan pikirannya masing-masing.

Di saat seperti itu sebenarnya spirit musayawarah dibutuhkan. Tidak hanya untuk merekatkan eksisensi bersama, melainkan juga sebagai ruang yang mampu memberi imunitas diri dari konflik (politik) yang dikemas dalam isu-isu primordial dan sektarian.

Siapa yang dapat mengakhiri ujaran kebencian? Tak lain adalah kesadaran untuk mengontrol setiap ujaran di media sosial.

Oleh Mohamad Baihaqi Alkawy
Kelompok Studi Sosial dan Kebudayaan (KlaSika)

By Qalama Institute Opini 0 Comments

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *