Islam-nusantara-berkemajuan

Islam Nusantara yang Berkemajuan

Islam-nusantara-berkemajuan
Fawaizul Umam *Dosen Filsafat Islam Pascasarjana IAIN Jember

Islam itu tunggal, tetapi ekspresi keberislaman senantiasa beragam. Tak pelak, secara konseptual, kita jumpai Islam dengan sekian atribusi. Ada Islam Nusantara, Islam Berkemajuan, Islam Kaffah, Islam Terpadu, Islam Hadhari, Islam Emansipatoris, Islam Transformatif, Islam Liberal, dan lain-lain.

Semua atribusi itu sejatinya absah saja. Logis, karena pluralitas keberislaman memang niscaya. Namun, belakangan ini perdebatan tentang aneka konsep keberislaman itu kembali membuncah. Terutama di jagat maya, pro-kontra berlangsung begitu riuh. Sebagian produktif, tetapi lebih banyak yang kontraproduktif. Alih-alih pengayaan wacana, yang kerap terjadi justru cuma “jual-beli” olok-olok tak berkesudahan antarpenganut.

Tanpa bermaksud menegasi konsep-konsep keberislaman lain, tulisan ini mengetengahkan Islam Nusantara ajuan NU dan Islam Berkemajuan besutan Muhammadiyah dalam suatu formulasi eklektik keberislaman. Gagasan Islam bercitarasa Nusantara dan Islam berspirit kemajuan dipandang paling kontekstual dengan realitas kedisinian bangsa dan tantangan kekinian umat. Selain karena kedua konsep bermuara pada peneguhan marwah Islam sebagai rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin), komitmen kedua ormas dalam mengawal NKRI menjadi starting point mengapa tawaran konsep keberislaman mereka terasa lebih relevan.

Terlebih saat ini, ketika ideologi islamisme transnasional yang bertendensi ekstrem-radikal kian massif mengancam kebhinnekaan sekaligus merongrong NKRI.

Bukan Ide Baru

Sebagai ide, apa yang disebut Islam Nusantara sebenarnya bukan hal baru. Setidaknya sudah sejak 1990-an sejumlah intelektual Muslim seperti Gus Dur telah mewacanakannya lewat gagasan Pribumisasi Islam. Kemudian di paruh awal 2000-an Azyumardi Azra meneguhkannya ulang lewat gagasan tentang Islam yang khas Nusantara sebelum kemudian NU melansirnya pada Muktamar 2015 di Jombang.

Merujuk identifikasi Azra (2010), “Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya, dan agama di Indonesia”. Tegasnya, keberislaman khas Nusantara adalah realitas keseharian yang diejawantahkan umat Islam Indonesia sedari lama; ide Islam Nusantara sekedar mengidentifikasi sekaligus mendefinisikan realitas tersebut yang sudah berlangsung sejak Islam awal kali menyapa kawasan Nusantara.

Secara epistemologis, keberislaman khas Nusantara memang faktual. Islam tidaklah lahir dari situasi vakum budaya. Ia yang semula tunggal, secara historis, telah dimaknai umat ke dalam banyak versi di setiap disparitas tempat, waktu, dan situasi. Dan Islam Nusantara hanyalah salah satu varian pemaknaan atas keislaman yang niscaya oleh konteks kekinian dan kedisinian. Ia melengkapi varian keberislaman lain seperti Islam Persia, Islam Saudi, Islam Mesir, Islam Turki, Islam Tiongkok, dan Islam Amerika. Keragaman itulah yang justru menegaskan bahwa Islam memang senantiasa relevan di setiap waktu dan tempat (shalih likulli zaman wa makan).

Demikian juga ide Islam Berkemajuan. Ia ide lama, bahkan kelahiran Muhammadiyah sendiri dilambari kesadaran tersebut, kesadaran untuk membuat umat Islam maju. Spiritnya lalu diejawantahkan ke dalam ikhtiar melukar umat dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Amal usaha Muhammadiyah di ranah pendidikan, kesehatan, dan ekonomi umat merupakan sebagian dari manifestasi ide besar tersebut.

Mengutip Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Islam Berkemajuan merupakan visi keislaman yang tidak terikat dimensi ruang dan terbatasi waktu, tetapi terkait dengan dimensi gerak, yakni menggerakkan umat Islam dan bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Umat dibebaskan dari segala yang menghambat kemajuan dengan strategi pemberdayaan melalui pendidikan dan pemajuan ilmu pengetahuan.

Simpulnya, Islam Nusantara yang menyimpan kekhasan legacy Nusantara nan kaya berpeluang turut bersumbangsih bagi revivalitas peradaban Islam dalam konteks global. Namun, peluang tersebut rentan sirna jika keberislaman Nusantara itu pada saat yang sama tidak menyematkan spirit berkemajuan di dalamnnya. Islam yang berpikiran maju dan toleran terhadap keragaman adalah prasyarat mutlak untuk menjauhkan umat dari tendensi radikalisme-ektremisme dalam beragama, berbangsa, dan bernegara.

Membendung Islamisme

Keberislaman yang ramah dengan kebhinnekaan seperti diidealisasi Islam Nusantara sekaligus yang berspirit kemajuan sebagaimana dimaui Islam Berkemajuan kini penting direvitalisasi. Penting, khususnya untuk menampik geliat islamisme radikal dan ekstrem yang cenderung selalu bergerak dengan logika “Islam otentik” sekaligus rajin mengeksploitasi keterpurukan umat.

Dengan nalar purifikasi, logika tersebut mengasumsikan bahwa ada Islam “murni” yang tunggal-seragam sehingga secara paradigmatik seluruh varian keislaman di luarnya harus dinegasi. Sementara keterpurukan umat di berbagai sektor kehidupan adalah potensi yang secara teologis kerap dimainkan sebagai sumbu pemantik radikalisme dan ekstremisme.

Logika dan strategi sedemikian lazim dihela kelompok-kelompok islamis untuk terus menggadang-gadang Islam sebagai preferensi sekaligus referensi tunggal dalam setiap aspek kehidupan. Ini ancaman serius bagi kebhinnekaan. Di aspek kehidupan politik, misalnya, mereka rajin mengancang ulang ide kesatuan agama dan negara (din wa dawlah). Ide islam-politik seperti “negara Islam” atau “khilafah” menjadi agenda rutin yang mereka endorse ke ruang publik. Ini membuat NKRI terancam gulung tikar.

Dalam konteks itu, Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan diametral berpunggungan dengan dan karenanya menjadi antitesis dari logika dan strategi “Islam otentik”. Oleh karena itu, NU dan Muhammadiyah haruslah bersinergi menumbuhkan keduanya dalam satu tarikan nafas, mengembangkannya dalam kesadaran religius umat guna menghadang laju islamisme transnasional yang berambisi menyeragamkan keberislaman dan kontraproduktif bagi upaya pemajuan umat.

Disebut-sebut menulangpunggungi moderasi Islam Indonesia, kedua ormas tersebut memang telah berperan mempromosikan pemahaman keislaman berkarakter wasathiyah yang moderat dan toleran. Peran itu patut untuk terus diteguhkan agar Islam tetap menjadi rahmat bagi semua dan NKRI yang menjadikan Pancasila sebagai titik kompromi kebhinnekaan bangsa tetap lestari. Ke sanalah sinergi antarkeduanya mesti diarahkan seraya mulai belajar berhenti membuang-buang energi untuk soal-soal “remahan” seperti kontroversi penentuan awal Idul Fitri dan kepentingan-kepentingan politik elektoral.

*) Fawaizul UmamDosen Filsafat Islam Pascasarjana IAIN Jember
* Tulisan ini pernah dimuat di Jawa Post Jumat, 3 Agt 2018, di Radar Jember Jawa Pos.

By Qalama Institute Opini 0 Comments

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *