Bencana-gempa-lombok-shelter-box-ansor
By Qalama Institute

Gp Ansor dan Rotari Indonesia Bangun 350 Shelter Box di KLU

Qalama.com – Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC Gp Ansor) Kab. Lombok Utara (KLU), Rotari Indonesia Dan Pememerintah Daerah (Pemda) KLU sejak tanggal 24 Agustus 2018 lalu melakukan kerjasama membangun Rumah Hunian sementara berupa 350 buah Shelter Box lengkap yang akan digunakan oleh pengungsi Gempa Lombok. Hal tersebut dijelaskan ketua GP ansor KLU Ustad Jalil di Tanjung pada Ahad (26/08) kemarin.

Ia menambahkan, tujuan pendirian shelter box ini agar masyarakat lebih nyaman dan mengantisipasi musim hujan yang akan segera datang sekitar bulan Oktober.

Shelter Box akan disebar di seluruh kecamatan di kabupaten Lombok utara dan akan diperuntukkan bagi masyarakat yang bemar-benar tidak mampu terutama di tengah keluarga yang dihuni lansia, balita, ibu hamil, atau ibu menyusui.

“Ada prioritas korban yang akan mendapatkan fasilitas ini, caranya silakan masyarakat mengajukan bantuan melalui pemerintah dusun dan desa kemudian akan diverifikasi oleh Pemda KLU sesuai dengan kriteria-kriteria yang sudah kami tentukan” Jelas Jalil.

Hingga hari ini, sudah 50 shelter box yang sudah dibangun di Kecamatan Tanjung.

Selain anti banjir, kelebihan lain dari Shelter Box buatan luar negeri ini, bisa dipantau melalui satelit. Sehingga jika setelah diberikan, masyarakat tidak memasangnya,  maka akan terdeteksi satelit dan akan dialihkan ke masyarakat lain yang benar-benar membutuhkan.

“Cara pasangnya mudah, nanti kami dan rotari akan melatih masyarakat bagaimana cara memasangnya” Jelas Jalil.

Selain membangun Shelter Box, GP Ansor KLU juga sedang mempersiapkan pembangunan 100 unit Hunian sementara (Hunatara) yang nantinya langsung akan dijuluki kampung Ansor.

“Kalo yang ini rencananya berlokasi di kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara”. Pungkasnya

By Qalama Institute

Setelah Zulhadi, PMI Kehilangan Lagi Relawan Terbaiknya Di Gempa Lombok

Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Telah berpulang sahabat kami, relawan terbaik kami, Afni Fastabiqul Strata Utama (26 tahun), Relawan Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah yang gugur saat bertugas membantu masyarakat terdampak Gempa Lombok. Afni Fastabiqul Strata Utama meninggal dunia pada Jumat, 24 Agustus pukul 07.30 WITA. Gugurnya Afni Fastabiqul Strata Utama atau yang akrab disapa Tata ini menjadi kali kedua PMI kehilangan relawannya yang tengah bertugas dalam operasi tanggap darurat Gempa Lombok.

Tata bertugas di Lombok sejak 18 Agustus 2018 dan berabung dalam Tim WASH (Water Sanitation Hygiene) PMI untuk bertugas selama 1 bulan di Lombok. Sehari-harinya, almarhum bertugas mengantarkan air bersih dengan mengendarai kendaraan tangki air PMI untuk disalurkan ke masyarakat terdampak gempa di wilayah Lombok Utara.

“Semasa bertugas, almarhum bertugas mendistribusikan air bersih ke warga-warga yang membutuhkan air bersih di sejumlah desa di Lombok Utara,” ujar Koordinator Tim WASH PMI, Sukri, SKM.

Koordinator WASH PMI Sukri menjelaskan kronologi kejadian sebagai berikut:

Jumat pagi pukul 06.15 WITA almarhum sempat dibangunkan oleh seorang rekannya yang bersama-sama menempati Camp WASH PMI di Dusun Lokorangan, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.

“Kami terbiasa setiap pagi saling membangunkan teman-teman untuk sarapan, bersih-bersih, dan bersiap untuk bertugas. Saat dibangunkan, Tata saat itu masih sadar, tapi ia kembali tidur. Saya pikir mungkin dia masih butuh tidur karena toh hari masih pagi,” jelas Sukri.

Pukul 07.19 teman-temannya kembali membangunkan almarhum yang belum juga terbangun, namun saat itu mereka menyadari bahwa almarhum sudah tidak ada respon dan sudah tidak ada denyut nadi. Tim WASH lalu bergegas mengontak Tim Medis PMI yang berada di Posko PMI Rest Area Kayangan untuk meminta ambulans.

Almarhum segera dibawa dengan ambulans PMI dan dirujuk ke Puskesmas Gangga, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Dalam perjalanan menuju puskesmas, tim medis PMI sempat melakukan pijat jantung dan pengecekan ulang respon almarhum, namun sudah tidak ada tanda kehidupan. Tim medis PMI memperkirakan almarhum sudah meninggal sejak di Camp WASH PMI.

Tim dokter di puskesmas kembali melakukan pemeriksanaan, namun menyatakan almarhum sudah meninggal. Puskesmas mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Almarhum dinyatakan meninggal pukul 07.30 WITA.

Hari ini Jenazah Afni Fastabiqul Strata Utama akan dibawa ke Markas PMI NTB di Mataram untuk acara pelepasan resmi dan doa bersama oleh Pengurus dan para relawan. Selanjutnya jenazah akan diterbangkan ke Semarang untuk dimakamkan di kota kelahirannya di Pekalongan Jawa Tengah.

Informasi lebih lanjut: Arifin Muhammad Hadi, Kepala Divisi Penanggulangan Bencana Markas Pusat PMI, 081297777755. Kontak Media: Aulia Arriani, Kepala Biro Humas PMI Pusat, 0816795379.

By Qalama Institute

Lombok yang bhineka!

Ahmad Jumaili
Qalama Institute

Jika anda ingin menyaksikan dan merasakan praktik persaudaraan Islam (Ukuwah Islamiyah), Persaudaraan kebangsaan (Ukhuwah Wathoniyah) dan persaudaraan dalam Kemanusiaan (Ukhuwah Basyariyah/Insaniyah), maka datanglah ke Pulau Lombok. Disini engkau akan menyaksikan betapa 3 macam ukhuwah ini berjalan secara baik penuh kedamaian.

Jauh sebelum bencana Gempa ini melanda kami, di bumi yang dijuluki pulau seribu masjid ini, kami telah hidup berdampingan walaupun beda agama, beda etnis, beda bahasa dan beda ras. Disini ada Islam, Hindu, Budha, Kristen, berbagai aliran kepercayaan seperti Bodha dan Komunitas Wetu Telu. Juga beragam etnis seperti Sasak, Samawa, Mbojo, Bugis, Jawa, Bali, Batak, Betawi dll. Begitupula ormas, disini ada Nahdlatul Ulama, Nahdlatul Wathan, Muhammadiyah, Persis dll.

Kami bukan Taman Mini yang dibikin-bikin, tapi benar-benar miniatur Indonesia yang natural.

Adalah biasa,
Ummat Islam dan Ummat Hindu saling undang acara rowah mulud atau Galungan.

Adalah biasa,
Ummat Kristiani dan Ummat Islam saling undang di acara Natal dan Iedul Fitri.

Adalah biasa,
Anak-anak anak-anak dari berbagai agama sekolah dan bermain di tempat yang sama.

Adalah biasa,
Kami di Lombok, bermuamalah di kampung, di pasar, di pusat-pusat keramaian, saling sapa dan saling penuhi kebutuhan tanpa melihat latar belakang agama…

Maka ketika terjadi bencana…
Persaudaraan kami terasa semakin erat, jalinan persaudaraan kebangsaan dan kemanusiaan terasa semakin kuat. Maka lihatlah, bantuan dan pertolongan untuk korban gempa ini datang dari berbagai penjuru tampa bertanya bantuan ini darimana, agamanya apa, etnis apa, sukunya apa. Karena bantuan tak punya entitas agama.

Saya Bersyukur menjadi Indonesia!
Saya Bersyukur menjadi Lombok yang Bhineka!

Islam-nusantara-berkemajuan
By Qalama Institute

Islam Nusantara yang Berkemajuan

Islam-nusantara-berkemajuan
Fawaizul Umam *Dosen Filsafat Islam Pascasarjana IAIN Jember

Islam itu tunggal, tetapi ekspresi keberislaman senantiasa beragam. Tak pelak, secara konseptual, kita jumpai Islam dengan sekian atribusi. Ada Islam Nusantara, Islam Berkemajuan, Islam Kaffah, Islam Terpadu, Islam Hadhari, Islam Emansipatoris, Islam Transformatif, Islam Liberal, dan lain-lain.

Semua atribusi itu sejatinya absah saja. Logis, karena pluralitas keberislaman memang niscaya. Namun, belakangan ini perdebatan tentang aneka konsep keberislaman itu kembali membuncah. Terutama di jagat maya, pro-kontra berlangsung begitu riuh. Sebagian produktif, tetapi lebih banyak yang kontraproduktif. Alih-alih pengayaan wacana, yang kerap terjadi justru cuma “jual-beli” olok-olok tak berkesudahan antarpenganut.

Tanpa bermaksud menegasi konsep-konsep keberislaman lain, tulisan ini mengetengahkan Islam Nusantara ajuan NU dan Islam Berkemajuan besutan Muhammadiyah dalam suatu formulasi eklektik keberislaman. Gagasan Islam bercitarasa Nusantara dan Islam berspirit kemajuan dipandang paling kontekstual dengan realitas kedisinian bangsa dan tantangan kekinian umat. Selain karena kedua konsep bermuara pada peneguhan marwah Islam sebagai rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin), komitmen kedua ormas dalam mengawal NKRI menjadi starting point mengapa tawaran konsep keberislaman mereka terasa lebih relevan.

Terlebih saat ini, ketika ideologi islamisme transnasional yang bertendensi ekstrem-radikal kian massif mengancam kebhinnekaan sekaligus merongrong NKRI.

Bukan Ide Baru

Sebagai ide, apa yang disebut Islam Nusantara sebenarnya bukan hal baru. Setidaknya sudah sejak 1990-an sejumlah intelektual Muslim seperti Gus Dur telah mewacanakannya lewat gagasan Pribumisasi Islam. Kemudian di paruh awal 2000-an Azyumardi Azra meneguhkannya ulang lewat gagasan tentang Islam yang khas Nusantara sebelum kemudian NU melansirnya pada Muktamar 2015 di Jombang.

Merujuk identifikasi Azra (2010), “Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya, dan agama di Indonesia”. Tegasnya, keberislaman khas Nusantara adalah realitas keseharian yang diejawantahkan umat Islam Indonesia sedari lama; ide Islam Nusantara sekedar mengidentifikasi sekaligus mendefinisikan realitas tersebut yang sudah berlangsung sejak Islam awal kali menyapa kawasan Nusantara.

Secara epistemologis, keberislaman khas Nusantara memang faktual. Islam tidaklah lahir dari situasi vakum budaya. Ia yang semula tunggal, secara historis, telah dimaknai umat ke dalam banyak versi di setiap disparitas tempat, waktu, dan situasi. Dan Islam Nusantara hanyalah salah satu varian pemaknaan atas keislaman yang niscaya oleh konteks kekinian dan kedisinian. Ia melengkapi varian keberislaman lain seperti Islam Persia, Islam Saudi, Islam Mesir, Islam Turki, Islam Tiongkok, dan Islam Amerika. Keragaman itulah yang justru menegaskan bahwa Islam memang senantiasa relevan di setiap waktu dan tempat (shalih likulli zaman wa makan).

Demikian juga ide Islam Berkemajuan. Ia ide lama, bahkan kelahiran Muhammadiyah sendiri dilambari kesadaran tersebut, kesadaran untuk membuat umat Islam maju. Spiritnya lalu diejawantahkan ke dalam ikhtiar melukar umat dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Amal usaha Muhammadiyah di ranah pendidikan, kesehatan, dan ekonomi umat merupakan sebagian dari manifestasi ide besar tersebut.

Mengutip Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Islam Berkemajuan merupakan visi keislaman yang tidak terikat dimensi ruang dan terbatasi waktu, tetapi terkait dengan dimensi gerak, yakni menggerakkan umat Islam dan bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Umat dibebaskan dari segala yang menghambat kemajuan dengan strategi pemberdayaan melalui pendidikan dan pemajuan ilmu pengetahuan.

Simpulnya, Islam Nusantara yang menyimpan kekhasan legacy Nusantara nan kaya berpeluang turut bersumbangsih bagi revivalitas peradaban Islam dalam konteks global. Namun, peluang tersebut rentan sirna jika keberislaman Nusantara itu pada saat yang sama tidak menyematkan spirit berkemajuan di dalamnnya. Islam yang berpikiran maju dan toleran terhadap keragaman adalah prasyarat mutlak untuk menjauhkan umat dari tendensi radikalisme-ektremisme dalam beragama, berbangsa, dan bernegara.

Membendung Islamisme

Keberislaman yang ramah dengan kebhinnekaan seperti diidealisasi Islam Nusantara sekaligus yang berspirit kemajuan sebagaimana dimaui Islam Berkemajuan kini penting direvitalisasi. Penting, khususnya untuk menampik geliat islamisme radikal dan ekstrem yang cenderung selalu bergerak dengan logika “Islam otentik” sekaligus rajin mengeksploitasi keterpurukan umat.

Dengan nalar purifikasi, logika tersebut mengasumsikan bahwa ada Islam “murni” yang tunggal-seragam sehingga secara paradigmatik seluruh varian keislaman di luarnya harus dinegasi. Sementara keterpurukan umat di berbagai sektor kehidupan adalah potensi yang secara teologis kerap dimainkan sebagai sumbu pemantik radikalisme dan ekstremisme.

Logika dan strategi sedemikian lazim dihela kelompok-kelompok islamis untuk terus menggadang-gadang Islam sebagai preferensi sekaligus referensi tunggal dalam setiap aspek kehidupan. Ini ancaman serius bagi kebhinnekaan. Di aspek kehidupan politik, misalnya, mereka rajin mengancang ulang ide kesatuan agama dan negara (din wa dawlah). Ide islam-politik seperti “negara Islam” atau “khilafah” menjadi agenda rutin yang mereka endorse ke ruang publik. Ini membuat NKRI terancam gulung tikar.

Dalam konteks itu, Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan diametral berpunggungan dengan dan karenanya menjadi antitesis dari logika dan strategi “Islam otentik”. Oleh karena itu, NU dan Muhammadiyah haruslah bersinergi menumbuhkan keduanya dalam satu tarikan nafas, mengembangkannya dalam kesadaran religius umat guna menghadang laju islamisme transnasional yang berambisi menyeragamkan keberislaman dan kontraproduktif bagi upaya pemajuan umat.

Disebut-sebut menulangpunggungi moderasi Islam Indonesia, kedua ormas tersebut memang telah berperan mempromosikan pemahaman keislaman berkarakter wasathiyah yang moderat dan toleran. Peran itu patut untuk terus diteguhkan agar Islam tetap menjadi rahmat bagi semua dan NKRI yang menjadikan Pancasila sebagai titik kompromi kebhinnekaan bangsa tetap lestari. Ke sanalah sinergi antarkeduanya mesti diarahkan seraya mulai belajar berhenti membuang-buang energi untuk soal-soal “remahan” seperti kontroversi penentuan awal Idul Fitri dan kepentingan-kepentingan politik elektoral.

*) Fawaizul UmamDosen Filsafat Islam Pascasarjana IAIN Jember
* Tulisan ini pernah dimuat di Jawa Post Jumat, 3 Agt 2018, di Radar Jember Jawa Pos.

By Muhammad Tohri

Liga Santri Nusantara Regional I Resmi Dibuka Oleh Sekda NTB.

Sekda NTB, Kadispora NTB, Polda NTB, dan Panitia Pelaksana

Liga Santri Nusantara (LSN) Region NTB I, melakukan Opening ceremonial Pada rabu tanggal 01 agustus 2018 beberapa hari yang lalu.

Acara tersebut dihadiri langsung oleh beberapa pejabat Provinsi yakni Sekda NTB, Dr. Rosiadi Sayuti dan Kadispora ibu Husnanidiaty Nurdin, serta beberapa jajaran dari kapolda NTB.

Kegiatan liga santri Nusantara (LSN) diikuti oleh 32 club sepak bola dari Ponpes yang tersebar di kota mataram, lombok barat, lombok tengah dan KLU.

Dalam Sambutannya Drs. H. Jamhur M.Pd, ketua RMI-NU NTB yang sekaligus Sebagai Koordinator Regional (Koreg) Bali Nusra I menyatakan bahwa santri kerap kali identik dengan mengaji atau mmbaca kitab, namun melalui LSN ini santri Bisa membuktikan kemampuannya dalam berolaharaga khususnya di bidang Sepak bola.

Ia juga menyampaiakan bahwasanya pembinaan yang minim dan perhatian yg kurang, menyebabkan santri di NTB belum mencapai hasil yang memuaskan, sehingga Pada seri Nasional kemarin, perwakilan Ponpes juara LSN Reg I hanya bertahan sampai 16 Besar.

Kegiatan LSN 2018 kali ini dipusatkan di Lapangan GOR Turide Mataram. Kick off langsung dibuka oleh Sekda Provinsi NTB bapak Rosiady Sayuti.

Dalam pidatonya, Sekda NTB memberikan Motivasi kepada para santri untuk terus menggelorakan semangat olaharaga, serta ia pun menyanggupi bahwa Tiket Ke Seri Nasional nanti akan ditanggung oleh Pemrintah Provisnsi melalui Kadispora NTB.

Dalam wawancara diakhir kegiata Ketua LSN Nusra I, Syukron Hadi ME. Menuturkan bahwasanya LSN bertujuan mencari bibit pemain sepak bola dari kalangan santri, ditambahkan, ia sngat yakin bahwa santri merupakan gudangnya pemain berbakat.

Ia juga cukup bangga, bahwa pembukaan LSN kali ini sangat meriah dibanding dengan LSN tahun tahun sebelumnya, antusias santri luar biasa, serta ditambah dengan dukungan dari pemerintah yang sudah mengijinkan untuk penggunaan Lapangan GOR sebagai pusat LSN, bahkan yang sangat membahagiakan adalah pernyataan sekda NTB yg menyanggupi akan menanggung Tiket Ke seri Nasional.

“Apa yg disampaikan Sekda NTB merupakan angin segar bagi LSN tahun ini, kita berharap dengan dukungan tersebut bisa menambah semangat santri dalam berlomba, serta target kita mampu masuk final di seri Nasional” jelas Syukron.