Belajar-merdeka
By Qalama Institute

Merdeka Belajar

Seorang senior ketika ospek dulu, sok pintar dan sok bijak, dia memberi motivasi begini :
“Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru”. Saya tau, senior ini sebetulnya sedang membual saja untuk melegitimasi dirinya yang lebih suka seminar yang ada duit daripada berlama-lama duduk dikelas.

Hey, tapi bener juga. Karena saya baca di buku Roem Topatimasang, konon sebelum sekolah dilembagakan kayak sekarang, orang-orang dulu belajarnya di bawah-bawah pohon, di pinggir-pinggir sungai, di tepi-tepi pantai, tak ada gedung-gedung seperti sekarang ini. Sembari menikmati udara sepoi-sepoi, gemericik air atau cicit burung. Kala itu, siapapun boleh dan bebas belajar, belajar apa saja, dimana saja, pada siapa saja. Benar-benar belajar merdeka, tak ada tata tertib, tak ada bayar-bayar, tak ada kemdikbud yang ngatur-ngatur. Pokoknya belajar bebas merdeka….hehe betapa senangnya, atau malah amburadul he

Tapi Begitulah dulu, benar tidaknya, saya tidak yakin. Tapi okelah. Begitulah gambaran sekolah di awal-awal berkembangnya ilmu pengetahuan. Kembali ke hakikat belajar sepanjang hayat, menyebarkan kebaikan dengan memberi petunjuk baik buat orang lain.

Sekarang, ketika sekolah sudah melembaga, ada gedungnya, ada pemerintahnya. Bahkan pemerintahnya mengatur ketat harus gini, harus gitu, semangat merdeka belajar ini menjadi penting. Dalam pendidikan yang katanya Modern, guru berada di posisi terbawah yang menerima kebijakan dan isntruksi dari pusat.

Istilah yang sering terucap dari pemilu ke pemilu, ganti presiden ganti kebijakan, ganti menteri ganti aturan. Belum saja kebijakan lama berhasil dilaksanakan, muncul lagi kebijakan baru. Kurikulum sudah berkali-kali ganti. Aplikasi pendataan bahkan lebih sering, puluhan mungkin ratusan.

Sialnya, semua kebijakan-kebijakan itu seperti Kitab Suci yang sudah paten gag bisa diubah-ubah. Persetan dengan kondisi daerah yang tidak sesuai dengan yang ada di pusat. Yang jelas kebijakan itu harus terlaksana, jika tidak, maka guru itu buruk, sekolah itu buruk, penddikan itu buruk. Selesai dengan laporan-laporan baik yang bisa membuat mereka tersenyum.

Mengikuti alur birokrasi seperti membuat guru terengah-engah. Konsentrasi mengajar sudah jauh melayang kemana-mana. Guru sibuk bikin silabus dan rencana pembelajaran, sibuk dengan kelengkapan akreditasi sekolah, sibuk dengan ulangan dan ujian nasional. Akhirnya 3 tahun anak-anak kita sekolah dengan muka kusut, terakhir mereka diapresiasi dengan selembar kertas berisi angka-angka “Bodoh”, begitupun guru. Pembelajaran, lingkungan sekolah, guru dan murid belajar dalam kondisi Nir kebahagiaan, Nir Kemerdekaan!!

Melepas diri dari semua problem itulah diisebut-sebut Belajar Merdeka. Guru Merdeka, Murid Juga Merdeka. Pun lingkungan sekolah juga dengan situasi merdeka. Apakah semudah itu? Tidak! Situasi ini sudah telalu lama membeku. Belenggunya terlalu kuat sehingga menebar ketakutan sampai hilangnya kepercayaan diri. Itulah kondisi saat ini.

Tapi masih bisakah berubah? Bisa! Dengan apa? Dengan meretas tiga hal dibawah ini.

Pertama, meretas belenggu rasa takut. Rasa takut membuat guru takut salah, siswa takut keliru, sekolah takut ditegur, pejabat takut dipecat. Ketakutan telah membuat kita tak bisa berbuat banyak. Kreatifitas yang menjadi pintu masuk sudah tertutup rapat.-rapat. Guru sibuk dengan tugas, siswa sibuk dengan PR, para pejabat sibuk dengan laporan. Pendidika seperti penjara.

Kedua, meretas banyak harap. Karena terlalu lama kita dalam kondisi begini, akhirnya semua kita betumpu pada banyaknya ekspektasi alias harapan. Siswa berharap lulus dan mendapat pekerjaan baik, guru berharap diapresiasi dengan gaji, piagam dan prestasi, pejabat berharap dinilai baik atasan dan diangkat ke jabatan-jabatan yang lebih basah. Banyak harap menjadikan semua pekerjaan pendidikan sudah kehilangan ruhnya. Proses keteladanan dan menularkan rasa ingin tahu sudah hilang.

Ketiga, meretas belenggu dari fikirannya sendiri. Tujuan (Goal) pendidikan yang ingin dicapai, secara tidak sadar telah membuat fikiran kita tak bebas menentukan pilihan. Guru sibuk mengejar prestasi, lupa berkolaborasi dan bersinergi. Siswa sibuk mengejar nilai, lupa dengan potensinya yang besar dibidang lain.

Dengan meretas 3 hal inilah, merdeka belajar bisa dihasilkan. Jika masih dilanda ketakutan, masih banyak harap dan fikiran masih terbelenggu, jalan menuju Pendidikan Merdeka itu masih panjang.

Paok Dandak, 29 Okt 2017

menulis-belajar
By Qalama Institute

Menulis Kreatif ; Curhat diatas Kloset

Malam ini terus terang saya lagi pusing, entah pengalaman apa yang bisa saya bagikan esok ke teman2 blogger. Temanya “Tekhnik menulis kreatif bagi para blogger”. Tema yang saya rasa cukup berat, saya tak pernah terbiasa menulis yang berat-berat seperti ini.

Hmm, sepenggal paragraf diatas sebenarnya sudah bisa dikategorikan penulisan kreatif. Yang bisa kita pelajari dari paragraf diatas adalah tulisan bebas atau bahasa lainnya free writing.

Saat ini saya sedang berusaha menulis bebas untuk memberikan sedikit bagi-bagi pengalaman untuk anda. Dan mohon maaf sebelumnya, saya menulis ini sambil saya duduk diatas closed. Saya mohon anda memakluminya karena kebetulan idenya muncul disini hehe.

Jadi, langsung aja ya…jurus pertama menulis kreatif adalah MENULIS (MENGALIR) BEBAS. Apa yang saya maksud menulis mengalir bebas?

Menulis mengalir bebas – atau boleh juga kita sebut MENULIS MERDEKA adalah menulis yang tidak terikat pada macem-macem aturan penulisan, seperti EYD, tanda baca, huruf besar-huruf kecil, salah ketik dan sebagainya. Tulisan yang ditulis tanpa diedit, tulisan yang keluar dari apa yang kita fikirkan saat itu juga. Tulisan yang #TanpaBertanya; bagus atau tidak?

Tulisan model begini sering juga disebut aktifitas menulis untuk diri sendiri. Hernowo menyebutnya SELF WRITING alias menulis di ruang private. Tulisan yang hanya untuk konsumsi diri sendiri tidak untuk dibaca orang lain.

Self Writing akan membantu kita bebas memilih apapun yang ingin kita tuliskan, tulisan tanpa beban. Menulis apa yang kita baca, lalu membaca apa yang kita tulis. Membaca dan menulis ini dua aktifitas yang memang saling berhubungan. Menulis tanpa membaca tentu hasilnya akan berbeda dengan menulis berdasarkan membaca.

Mana yang prioritas? membaca dulu atau menilis dulu?. Keduanya samasaja, anda tinggal memilih suka-suka anda.

Menulis terlebih dahulu baru membaca itu bagus! karena anda pasti akan menulis apa yang pernah anda tahu, apapun itu. Baik dari ngobrol sama teman. Begitupun sebaliknya, membaca dulu, baru menulis bagus juga! Itu artinya, anda menulis apa yang sudah anda baca. Mana yang lebih efektif? Ya suka-suka anda saja. he

Selanjutnya, menulis membutuhkan banyak latihan. Tak ada satupun tekhnik menulis yang hebat dan bisa membuatmu menjadi penulis. Yang bisa menjadikan seseorang menjadi penulis hanyalah seberapa banyak dia berlatih menulis.

Seorang penulis pernah cerita ke saya, menulis itu seperti belajar memasak. Cara belajar paling efektif bagi orang yang sedang melajar memasak adalah langsung ke dapur. Cari bahan yang mau dimasak, racik dan masak bumbu-bumbunya, jangan difikirkan apakah masakannya nanti berasa enak atau tidak. Itu urusan nanti, yang penting masak dulu.

Sangat jarang seseorang yang baru pertama kali belajar memasak lalu masakannya langsung enak. Biasanya ada saja yang kurang atau kelebihan, kadang keasinan, kurang minyak, kurang terasi, bahkan kadang masakannya gosong karena apinya terlalu besar. Tapi itu semua akan jadi pelajaran berharga bagi anda ketika nanti masuk dapur kedua, ketiga keempat kalinya dan seterusnya. Cocoklah seorang kawan saya Maia Rahmayati menulis buku “Pawon”, ternyata Pawon itu memang Inspiratif dan menggugah selera terutama soal makan-memakan he.</div>

Apa Manfaatnya Bagiku (AMBAK!)

Menulis buku, menulis artikel, menulis apapun, apabila menggunakan cara Free Writing dan Personal Writing Ini yakin saya anda pasti bisa, apalagi menulis blog. Tapi ada baiknya, sebelum anda menulis, Anda bertanya pada diri anda, Apa Manfaat Menulis ini Bagiku? Atau Untuk apa menulis? Apakah sekadar belajar menulis saja, curhat pribadi, membagikan pengalaman, memberikan informasi, atau keinginan yang lain, misal supaya anda bisa hasilkan uang dari tulisan anda? promosi atau iklan barangkali?.

Pertanyaan ini saya kira penting dijawab, Tujuannya menggali Motivasi. Tekhnik Menulis secanggih apapun, apabila motivasi menulisnya kosong, maka selamanya tak akan menghasilkan sebuah tulisan. Sebaliknya apabila motivasi menulis sudah ada, menulis akan terasa mudah dan menyenangkan. Jadi, tidak terlalu penting cara menendang bola, suruh saja turun lapangan dan bolanya langsung ditendang nanti lama-laa juga bisa sendiri. Pertanyaannya seberapa banyak ia melakukan rutinitas menendang bola ini.

Motivasi Menulis Blog

1. Sharing informasi

Untuk berbagi informasi tentu saja anda harus banyak informasi juga. Hehe konyol ya kata-kata ini. Tapi ya benar, bagaimana anda bisa membagikan onformasi tapi anda tidak punya informasi yang akan anda bagikan. Bodoh bukan? Seperti kata Ali BD kemarin. He

2. Sharing pengalaman

Sama juga dengan ini. Tentu anda bisa membagikan pengalaman anda. Pengalaman apa saja, aneh, gila, konyol-sekonyol apaun. Jangan remehkan dulu pengalaman itu, karena boleh jadi pengalaman-pengalaman demikian justru besar manfaatnya untuk orang lain. Justru pengalaman masing-masing kita, ada kecenderungan bersifat unik. Dan konyolnya kita seringkali terlambat menyadarinya.

3. Bisnis

Menulis untuk bisnis. Nah ini saya paling suka, bisnis dengan memanfaatkan menulis di blog/ internet ini sangat menarik, saya bisa berbagi banyak tentang ini, (maaf tidak berbagi uang ya). Karena saya kebetulan menjadi pelaku juga.

Tahun 2007, ketika saya masih kuliah, saya sudah berhasil memanfaatkan internet buat mendapatkan uang. Cerita singkatnya, ada seorang teman saya datang dari jakarta dan saat akan pulang minta dicarikan madu asli. Saya berkeliling ke cakra dan ampenan mencari tau dimana saya bisa membeli madu asli. Saya akhirnya dapat di Karang Medain. Tahunya palsu. Kedatangan temab saya yang kedua, lagi saya mencari madu asli. Lagi-lagi saya menjadapatkan yang palsu. Dari sana saya mulai mencari orang yang benar2 menjual madu asli. Saya tulis pengalaman itu dan sampai sekarang menjadi artikel yang paling sering dibaca di blog saya. Dan sudah mendapatkan duit cukup banyak. Saya tak enak menyebutnya berapa.

Begitu sederhananya, sampai saya mendirikan CV bentang media, dan menjual beragam oleh-oleh khas lombok. Saya telah memanfaatkan blog saya untuk bisnis dan mendapatkan uang.

4. Seo

Memanfaatkan blog sebagai media iklan atau mendapatkan uang dengan cara lain. Di internet ada yang disebut dengan adsense. Skemanya begini, hotel tempat kita beracara ini memasang iklan di google dengan biaya 100 ribu, google tak mau kerja sendiri tapi menawarkan ke kita yang memiliki blog untuk memasang iklannya diblog kita. Apabila ada yang mengklik atau mengunjungi iklan yang dipasang di blog kita maka kita mendapatkan duit. Harganya tergantung nilai kata kuncinya dan dari negara mana iklan itu diklik.

Jika diklik dari luar asia seperti amerika dan eropa, harga kliknya tentu akan lebih besar jika dibandingkan dengan klik dari dalam negeri. Sehingga untuk blog type ini sebaiknya bebahasa inggris atau lainnya.

5. Bidik waktu Prime Time Anda

Waktu berkualitas masing-masing kita berbeda-beda, saya paling suka menulis malam hari sebelum tidur, sekitar jam 12 malam dan beberapa saat sebelum subuh. Mungkin anda berbeda lagi, siang hari barangkali?

6. Jangan menulis kalo tidak Happy!

7. Cari tempat yang asyik untuk menulis!Udah segitu aja kawan, apa yang bisa anda pelajari dari pengalaman saya ini? Gag ada ya? Hehe,,,,saya percaya anda sudah tau semua. Tapi jikapun sudah, semoga ini bermanfaat sebagai pengalaman bagi yang belum. Saya tunggu share anda dalam diskusi. Saya juga butuh belajar dari anda semua. Termakasih.  Ayo Diskusi!

Tulisan ini saya presentasikan di Acara Flash Blogging “Bijak Bermedia Sosial” yang diselenggarakan Kominfo dan Ditjen Informasi dan Komunikasi (IKP) di Hotel Lombok Astoria Pada, 15 September 2017.

By Qalama Institute

Penulis Pemula, Bagaimana Cara Menulis Buku ?

Kenapa Perlu Menulis Buku ? Sebuah pertanyaan yang biasa diajukan anak-anak baru di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) seaktu dulu sering jadi pembicara pelatihan menulis tingkat dasar di kampus. Kalo ditanya begitu, saya selalu menjawabnya, karena bagi kita yang gak punya harta benda, hanya menulis buku yang bisa jadi warisan dan amal setelah kita tiada.

Suatu ketika, saya mengisi pelatihan menulis di sebuah Ponpes di Lombok Tengah, seperti biasanya saya bertanya balik ke peserta , kalian tahu siapa pengarang kitab-kitab fiqh yang jumlahnya ratusan ribu bahkan jutaan itu, mereka itu imam syafi’i, Hanafi, Hambali dan masih banyak yang lain. Kenapa mereka selalu diingat hingga hari ini, karena mereka menulis buku. Lha…

Saya kemudian biasanya biasanya menegaskan ini dengan nyontek kata-kata motivasi dari Pramoedya Ananta Toer, kata dia, menulis itu proses mengabadikan diri. Hmm. Jadi, walau jawabanku agak me