Ruang Dakwah, Bela NU dan Ulama

 

~ Turmudzi

Sekitar bulan November 2017, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kementerian Agama RI mengungkapkan hasil penelitian bahwa, Habibi Rizieq dan Bachtiar Nasir cenderung lebih populer dan diidolakan aktivis pembinaan rohani Islam (Rohis) di Sekolah Menengah Atas (SMA) wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta (Viva online)

Kepopuleran Habib Rizieq yang merupakan Ketua Front Pembela Islam (FPI) dan Bachtiar Nasir sebagai Pimpinan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI bahkan mengalahkan tokoh Islam moderat seperti Prof. Quraish Shihab, KH. Mustafa Bisri. Bahkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin disebut tidak populer di mata pelajar aktivis

Penelitian dilakukan Puslitbang Kemenag RI memang baru dilakukan sebatas aktivis pelajar Rohis sekolah umum di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kalau kemudian penelitian juga dilakukan di seluruh sekolah umum di Indonesia, termasuk masyarakat umum, bukan tidak mungkin gejala dan fenomena sama juga terjadi

Meski sampel penelitian Kemenag hanya baru sebatas Jawa Tengah dan Yogyakarta, tapi hasil penelitian tersebut setidaknya memberikan gambaran bagaimana tokoh – tokoh Islam garis justru lebih mendapatkan tempat lebih istimewa di hati para pelajar daripada tokoh Islam moderat, yang dari sisi pemahaman keagamaan lebih kuat dan cara berdakwah lebih santun

Kepopuleran Habib Rizieq dan Bachtiar Nasir tentu tidak bisa terlepas dari aksi demonstrasi berjild – jilid atau lebih dikenal dengan aksi 212 menuntut mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dipenjarakan atas dugaan penistaan agama, dikomandoi dua orang tersebut dan berhasil menggalang ratusan ribu massa umat Islam ikut melakukan aksi

Meski demikian aksi demonstrasi tersebut sebenarnya merupakan momentum dan bagian puncak dari pengetahuan masyarakat termasuk pelajar tentang sosok Habib Rizieq dan Bachtiar Nasir, ditambah polesan gerakan arus informasi media sosial tidak terbendung, termasuk berita hoax.

Sebab sebelum itu kedua tokoh tidak terlalu banyak dikenal masyarakat maupun pelajar, tapi momentum aksi demonstrasi berjilid telah memberikan panggung bagi kedua tokoh, termasuk gerakan dakwah media sosial facebook, twitter, youtobe yang banyak disebarluaskan pengikut dan pembela Habib Rizieq

Peran Nahdlatul Ulama

Mengamati fenomena tersebut, keberadaan Ormas lslam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah termasuk Ormas Islam moderat lain, harus mulai banyak tampil ke permukaan, tidak saja dalam bentuk sikap dan kebijakan dijalankan, juga dalam bentuk tindakan dan gerakan nyata, mengambil ruang yang selama ini banyak dikuasi kelompok radikal, terutama dakwah media digital dan media sosial

Apalagi dengan maraknya bertebaran berita hoax (bohong) dan dakwah provokatif yang tersebar luas di media sosial, telah banyak mempengaruhi dan meracuni otak serta perilaku masyarakat menjadi bagian dari pelaku penebar ujaran kebencian terhadap lembaga, institusi pemerintahan maupun tokoh bangsa maupun partai politik

Bahkan tokoh agama sekaligus tokoh sentral Ormas Keagamaan NU maupun Muhammadiyah yang selama ini menjadi panutan, dihormati dan disegani masyarakat juga ikut jadi sasaran tembak para pelaku ujaran kebencian dan fitnah melalui berita bohong di media sosial secara masif

Kalau kondisi ini dibiarkan akan sangat berbahaya, tidak saja bagi Ormas NU dengan tokoh – tokohnya, digerogoti dan dibuat kropos dari dalam, dengan cara membenturkan sesama tokoh, termasuk membangun rasa tidak percaya di kalangan warga NU, baik terhadap organisasi maupun tokoh NU yang selama ini jadi panutan

Berita bohong dan fitnah media sosial juga bisa menghancurkan sendi kehidupan berbangsa yang dengan susah payah telah dibangun para pendiri bangsa. Ketika berita bohong telah mampu meracuni dan merusak sendi kehidupan berbangsa, maka tidak ada lagi, toleransi, tidak ada kebersamaan, tapi yang ada hanya kebencian dan permusuhan

Sebagai Ormas Islam terbesar, NU tentu memiliki tanggungjawab besar menjaga ulama dan NKRI dari ancaman kelompok radikal. Warga NU melalui kader mudah sudah waktunya bergerak melawan kelompok yang berupaya membenturkan ulama dengan masyarakat, ulama dengan pemerintah dan memecah belah persatuan bangsa Indonesia

Melakukan transformasi dakwah secara masif dari offline ke digital online melalui berbagai sarana media sosial tersedia, dengan mengetengahkan dan mempopulerkan ceramah keagamaan tokoh – tokoh agama, Kiyai dan Tuan Guru pesantren yang dari sisi keilmuan tidak diragukan, terutama Kiyai dan Tuan Guru NU dan Muhammadiyah yang tersebar di setiap Pondok Pesantren

Mengingat NU memiliki segudang ulama dan Kiyai penceramah yang tersebar di Pondok Pesantren, yang dari sisi keilmuan tidak diragukan, dengan gaya ceramah menyejukkan dan mudah difahami

Meminjam bahasa Ketua LTNU NTB, Aksar Anshori, sekarang ini ada upaya dari kelompok tertentu berupaya memisahkan warga NU dari organisasi dan tokoh – tokohnya, dengan cara pembunuhan karakter, itu sebab banyak warga NU kehilangan kepercayaan terhadap organisasi dan tokoh sendiri

Kalau ini dibiarkan, percayalah meski secara keorganisasian NU besar akan tapi kalau warganya tidak melek media, melek teknologi, maka akan kehilangan tempat dan kalah oleh kelompok kecil yang menguasai teknologi media sosial.

By Ahmad Jumaili Opini 0 Comments

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *