yusuf_thantowi

Uang Kaget Dari Tuhan

Spread the love

Uang kaget itu menyadarkan saya bahwa rumus sukses adalah perpaduan kerja keras dan doa.

~ Yusuf Tantowi

Suatu malam saya benar-benar kehabisan uang. Di dalam dompet uang yang tersisa hanya Rp 2 ribu. Itu pun sisa membeli nasi bungkus malam sebelumnya. Dengan uang segitu, apa yang bisa dibeli di kota kecil saya ini? Uang sejumlah itu hanya bisa buat beli kerupuk yang tidak bisa mengenyangkan. Maka, saya harus puasa dari pagi sampai sore.

Anda mungkin pernah merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki uang. Pikiran tidak tenang, optimisme tiba-tiba hilang. Kepercayaan diri juga tiba-tiba lenyap entah kemana. Pokoknya, pikiran tidak menentu, seolah dunia ini sudah kehabisan harapan. Begitulah perasaan saya saat itu. Uang telah menjerat saya. Saya yang dianugrahi akal oleh Tuhan dihegemoni oleh benda yang bernama uang.

Bulan itu bukan tidak ada rencana rencana pemasukan. Seorang teman di Jakarta bahkan sudah berjanji akan segera mengirim honor menulis saya bila pekerjaan sudah selesai.

Kini, pekerjaan itu sudah lama saya selesaikan. Teman itu bahkan memuji hasil kerja saya yang dianggap cukup baik dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Katanya,tulisan saya lebih lengkap dan sistematis. Tetapi sayang, ketika saya sangat membutuhkan uang untuk makan, ternyata honor saya belum dikirim-kirim juga.

Jujur saja, sebenarnya sudah tiga malam saya berturut-turut datang ke ATM untuk mengecek. Tetapi, hasilnya masih sama. Nihil. Saldo tabungan saya tidak berubah. Saya juga sengaja datang malam hari, saya berpikir teman itu pasti akan mentransfernya siangnya. Tidak mungkin malam hari karena bank pasti tutup.

Terdesak oleh kebutuhan, malam keempat saya datang lagi ke ATM yang berada di gedung rektorat Universitas Mataram itu. Seperti biasa saya antri beberapa menit karena sebelum saya datang sudah ada beberapa orang yang antri. Beberapa saat menunggu saya pun akhirnya masuk ATM. Di belakang saya sudah berdiri beberapa orang yang menunggu giliran.

Ketika mendapat giliran, saya langsung mendorong pintu ATM yang terbuat dari kaca itu. Di dalam saya langsung memsukkan kartu ATM saya. Menekan nomor pin lalu melihat saldo tabungan. Sayang, saldo di rekening saya tidak bertambah, masih tercantum angka Rp 7.500. Itu artinya belum ada transfer sama sekali. Dua detik kemudian kartu ATM saya tarik keluar. Bersamaan dengan itu pandangan saya tiba-tiba tertuju pada sebuah kertas berwarna merah yang berada di bawah mesin ATM. Letaknya hanya beberapa sentimeter dari ujung sandal yang saya pakai. Lama saya perhatikan ternyata itu uang kertas Rp 10 ribuan.

Saat itu, pikiran saya terpecah menjadi dua, antara keinginan mengambil atau membiarkan. Kalau saya ambil sudah tentu uang itu bukan hak saya. Ada perasaan malu juga dilihat oleh orang dibelakang saya. Tetapi kalau tidak saya ambil, saya makan apa malam ini? Secara bersamaan saya juga masih percaya dengan anggapan–bila mengambil sesuatu yang bukan hak kita, maka Tuhan akan mengambil milik kita dengan cara yang tidak disangka-sangka. Itulah yang saya takutkan. Pengalaman seperti itu beberapa kali saya alami.

Pikiran itu kemudian bernegosiasi di benak saya. Tetapi, tuntutan perut akhirnya mengalahkan keragu-raguan saya. Sebagai gantinya, saya berjanji dalam hati kalau saya dapat uang, uang itu akan saya ganti dengan menyumbangkannya kepada anak yatim atau kepada masjid dua kali lipat dari jumlah uang tersebut. Selain itu saya juga akan menyumbangkannya atas nama pemilik uang tersebut, bukan untuk pribadi saya. Mencari pemiliknya tentu sangat susah. Saya pun mantap mengambilnya.

Selang beberapa hari setelah kejadian itu saya kemudian mendapatkan uang. Lumayan sebagai modal bertahan hidup untuk beberapa hari. Uniknya begitu saya dapat uang, ibu saya tiba-tiba menelepon dari kampung. Ia menanyakan keadaan saya. Di akhir pembicaraan kami ia tidak lupa berpesan bila ada uang lebih jangan lupa memberikan sebagiannya kepada anak yatim. Saya pun jadi teringat akan janji saya. Wow, Tuhan rupanya datang menagih janji saya. Maka, tanpa berpikir panjang saya pun memenuhi janji saya dengan memberikan uang dua kali lipat kepada seorang anak yatim yang kebetulan tetangga saya di kampung.

Pengalaman itu membuat saya semakin yakin betapa Tuhan sangat dekat dengan kita. Ia tidak pernah tidur untuk mendegar dan menunggu usaha kita. Ia bahkan lebih dekat dari urat nadi kita. Tuhan memang sangat pemurah. Memberikan rezeki kepada umatnya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Ia bahkan tidak pernah membeda-bedakan umatnya, baik yang beriman atau tidak.

Meski demikian, Tuhan akan senang membagaikan rezekinya kepada umatnya yang suka bekerja keras. Bukan kepada umatnya yang hanya pandai berdoa tetapi malas bekerja. ‘Uang kaget’ itu menyadarkan saya bahwa rumus sukses adalah perpaduan kerja keras dan doa. Tanpa perpaduan kedua, mustahil kesuksesan dapat kita raih.

Pelajaran lain, bila kita mendapatkan uang lebih, ada baiknya disumbangkan kepada orang yang tidak mampu. Manfaatnya bukan saja dapat dirasakan oleh orang lain tetapi tetapi bisa membawa investasi kebaikan untuk kita di masa depan. Bila tidak, Tuhan bisa mengambilkan melalui jalan yang tidak kita sangka-sangka. Apakah itu melalui penyakit, musibah, penipuan atau prahara rumah tangga. Itulah pelajaran berharga yang saya dapatkan malam itu.[yt]

Tulisan ini pernah di Muat di Andaluarbiasa[dot]com

By Yusuf Thantowi Opini 0 Comments

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *