Pungut Hikmah Puisi Panas Sukmawati

Spread the love

~ Fahmie Zaky

Hingga detik ini, masih hangat pembicaraan soal puisi ‘panas’ Sukmawati Soekarno Putri. Pro-kontra terutama di Media Sosial bikin pekak mata dan telinga.

Yang pro Sukmawati, membela mati-matian bahwa puisi yg dibacakan Sukmawati itu bukan penistaan melainkan hanya ekspresi pribadi yang tertuang dalam bentuk puisi.

Saudari kandung Megawati Soekarno Putri inipun sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya lengkap dengan drama air mata. Namun bagi masyarakat yang terlanjur terprovokasi dalam rangkaian hujatan untuk puisi itu, mereka malah semakin kalap dan melaporkan Ibu putri Proklamator Soekarno itu ke polisi. Tangis Sukmawati rupanya mereka anggap Drama saja.

Salah seorang yang paling ngotot mempermasalahkan Puisi Ibu indonesia itu adalah Ketua Persaudaraan Alumni 212 Dedi Suhardadi. Dedi mengulang-ulang pernyataannya di media, ia sangat tersinggung dengan puisi yang dibacakan Sukmawati.

Sekarang, laporan Dedi itu sudah ditangan Bareskrim Polri, masyarakat tentu menunggu perkembangannya.

Jika dilihat Pasal yang diperkarakan Dedi, tampaknya ia ingin mengikuti jejak kasus Ahok yang berhasil dijerat dengan undang-undang penodaan agama 1945. Mereka yakin, pasal karet warisan Orde Baru itu bakal mudah menjerat Sukmawati.

Polemik tentang “puisi panas” ini masih terus berlangsung hingga detik ini. Pendapat dari arus yang lain, puisi Sukmawati tak lebih dari urusan remeh temeh yang dibesar-besarkan. Itu hanyalah puisi tak ada kaitannya dengan penistaan agama. Ini kata mereka yang membela Sukmawati

Suara yang lain, Puisi Sukmawati itu mungkin ada masalah, tetapi dia sudah minta maaf dan masyarakat diajak memaafkan. Sikap seperti ini disuarakan secara kompak oleh dua organisasi terbesar Islam, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Dus, bagi saya kasus tersebut ambil saja hikmahnya. Hikmah yang bisa kita pungut, minimal, bangsa Indonesia khususnya generasi muda mengerti bahwa Puisi itu bukanlah karya sembarangan. Puisi itu punya daya dobrak yang kuat. Maka kearifan bagi sastrawan-sastrawan untuk menciptakan puisi-puisi yang mendamaikan. Sudah lelah kita dengan segala bentuk pertikaian.

Salam Satu Jiwa, Nahdliyyin punya cara!

By Fahmie Zaky Opini 0 Comments

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *