Menebak Media Pasca Milenial

Spread the love

~ Ahmad Jumaili

Demam Blackberry sudah berlalu tahun 2009, diganti Whatsapp dan telegram dan masuknya kita di era milenial. Beberapa sosial media seperti facebook sempat mau ambruk, tapi canggihnya strategi facebook membuat whatssapp akhirnya bisa diakuisi. Duet FB dan WA ini ampuh, buktinya facebook menguasai pasar, WA menguasai chat dan group. Instagram setidaknya terlihat berlari sedikit menyalip twitter yang kaku dan miskin inovasi, namun begitu, tampaknya keduanya sudah punya segmen sendiri-sendiri.

Dilain fihak, ada google dengan search engginenya. Google menguasai search enggine, melibas dan menenggelamkan Yahoo ke dasar samudra. Google hingga kini masih memimpin pasar iklan melalui beberapa produknya, google adsense, admob, playstore dan google youtube.

Satu produk google yang nampaknya akan segera terdisrupsi adalah Blogger. Melemahnya Blogger sesungguhnya tak lepas dari massifnya penyebaran Hoax melalui kanal-kanal blogcepot ini. Hal ini membuat orang kian faham, informasi-informasi dari blogger 80% sulit dipercaya, disamping kanal itu gratis, juga bias pembuatnya tak bertuan. Walhasil, sekarang orang-orang back to site, kembali memberikan kepercayaan pada media online yang jelas alamat dan managemennya.

Perubahan-perubahan terus berlangsung. Dulu orang banyak mengira, pasca marak blogger, lalu sosial media lalu massengger (WA dan Telegram) lantas media cetak dan elektronik (Tv-radio) dikiranya akan bubar. Tapi ternyata tidak. Bias Hoax yang merajalela, viralnya broadcast-broadcast sampah membuat banyak orang hari ini mulai muak dan kembali mempercayai media cetak.

Masa terus berlanjut. Pengusaha-pengusaha media cetak bisa sejenak bernafas lega, mereka merasa kepercayaan manusia telah kembali. Sosial media dan massengger mereka manfaatkan sebagai Influence agar berita-berita mereka dibaca. Disaat yang sama, ternyata mereka butuh sensasi, butuh eksistensi. Mereka mengikuti irama yang terjadi di kanal-kanal group-group WA dan Telegram.Tak mau kalah cepat dan tak mau kalah informasi. Fatal akibatnya, Media Cetak akhirnya ikut-ikutan menjadi penyebar Hoax. Kasus Republika menjadi contoh terkini.

Pasca Milenial

Setelah masa ini, pasca milenial, apakah media cetak akan kehilangan reputasinya juga? Hmm….lalu media apa yang bisa kita percaya hari ini.

Sekarang sudah mulai bermunculan situs-situs berita yang menggunakan metode muti user, satu web dikelola rame-rame. Contohlah Seword, Kumparan, Quereta, Kompasiana dan juga blog ini Qalama.com. Mirip-mirip Citizen Journalism, semua orang bisa daftar dan menulis sesuatu semau udelnya, tanggungjawab kebenaram informasi ada di masing-masing user.

Apakah cara ini yang akan mengganti cara-cara lama dalam pemberitaan? entahlah.

Esok lusa, mungkin akan muncul beberapa inovasi lagi, tekhnologi yang lebih canggih, boleh jadi di HP kita, secara realtime bisa kita nikmati langsung dari lokasi, tanpa quota, tanpa sinyal 4G. Ini mungkin saja.

Dus, disaat keterbukaan informasi seperti ini. Satu hal yang perlu kita jaga-jaga. Jangan mudah percaya, saat ini janganlan akun media sosial, seorang calon presiden saja bisa berbohong dan ikut menjadi produsen Hoax. Jadi mari kembali ke diri masing-masing. Jagalah dirimu dan keluargamu dari informasi-informasi Hoax.

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *