Mangga Paling Enak

~ Miftah Hamid

Sejak beberapa bulan yang lalu, salah satu Tuan Guru yang kami ikuti hampir semua langkah dan tindak lakunya pergi ke Haribaan Sang Maha Kekasih. Malam itu berubah menjadi salah satu malam yang paling kelam dalam beberapa tahun setelah dua orang yang sangat dekat dengan hati dan jiwa saya juga beranjak pergi dan tak akan pernah kembali.

Banyak kisah penuh hikmah dari beliau selama kami menuntut ilmu. Kadang kami manggut2 karena setuju, sering juga kami menggeleng-gelengkan kepala karena takjub, bahkan juga tersenyum karena isi ceritanya janggal di telinga.

Ada satu kisah yang sangat berkesan dan masih saya ingat alur ceritanya sampai detik ini. Suatu kisah yang hanya bisa dialami oleh orang yang memiliki hati seluas langit, jiwa yang hangat, dada yang penuh ilmu dan hikmah, dan rasa percaya serta tawakkal yang tiada tara.

Tuan Guru kami siang itu bercerita begini:
Saya diajak oleh Guru saya menghadiri sebuah acara di suatu kampung yang tidak seberapa jauh dari pondok kami. Setelah acara selesai, perut kami lapar sekali karena belum makan waktu berangkat dan di acara itu tidak disediakan makanan berat seperti nasi beserta lauknya. Hanya sekedar air minum dan sepotong kue kecil.

Dalam perjalanan pulang, Guru saya itu berjalan pelan saja tanpa menghiraukan saya yang kelaparan. Yang saya inginkan saat itu hanya ingin cepat-cepat sampai pondok dan segera makan. Di tengah jalan, tiba2 ada seorang tua menghadang kami di jalan dan berkeras supaya kami mampir sebentar di rumahnya. Tampaknya dia sudah menunggu kami lewat dari tadi karena waktu pergi tadi kami juga melewati jalan itu dan orang itu sepertinya sudah ada di sana dan menunggu kami pulang dari acara dengan sabar.

Melihat keadaan orang itu yang sederhana dalam penampilan dan sopan dalam tutur, Guru saya tidak tega menolak permintaannya. Sang Guru pun mengajak saya mampir sebentar. Di dalam hati saya timbul harapan semoga di rumah ini kami disuguhi makanan.

Setelah sampai, Guru saya memimpin tahlilan dan doa. Setelah itu kami menunggu hidangan dari tuan rumah. Begitu keluar hidangan yang ditunggu-tunggu, saya tidak bisa melukiskan perasaan saya sendiri saat itu. Ada rasa kaget, geli, malu, kesal, dan tentu saja lapar karena hidangan yang disajikan oleh tuan rumah hanyalah satu buah mangga mentah!!! Pantesan dari tadi saya tidak melihat dan mendengar ada kesibukan di rumah itu.

Guru saya dengan senyum di bibirnya mengambil pisau dan mengupas buah mangga itu. Beliau tidak memberi kesempatan untuk saya mengupasnya. Setelah dikupas, beliau mengirisnya dan langsung memakannya. Kemudian beliau menyuruh saya memakannya juga. Saya pun dengan terpaksa berbuat yang sama, mengiris dan memakannya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada perut saya nanti yang dari pagi masih kosong dan siangnya diisi mangga mentah. Guru dan saya melahap mangga itu sampai habis. Setelah selesai, beliau berkata kepada tuan rumah, “Ini adalah mangga paling enak yang pernah saya makan.” Saya hanya menggeleng2 tak percaya tetapi tidak berani berkata apa2.

Betapa luhur akhlak beliau yang berusaha membuat senang hati si tuan rumah yang telah dengan tega menyiksa perut saya. Saya menangis membayangkan betapa lapang dada Guru saya. Beliau tidak membedakan siapa yang mengundangnya dan berapa isi amplopnya. Ketika ada yang berhajat mengundangnya, bila ada kesempatan dan kesehatan, beliau tidak pernah membuat alasan untuk tidak hadir.

By Miftah Hamid Pesantren 0 Comments

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *