Berani Menjadi Follower Gila

Berani Menjadi Follower Gila saya yakini sebagai jalan pintas membuat perubahan-perubahan kecil menggelinding menjadi perubahan-perubahan besar

Oleh : Ahmad Jumaili

Saat diskusi Teacher Day beberapa waktu lalu, saya mengatakan kepada teman-teman guru, “Untuk membuat sebuah gerakan perubahan, kita harus berani menjadi follower pertama yang menjadikan “orang gila” sebagai pemimpin”. Saya langsung ditertawakan!.

Penggunaan terminologi “Gila” bagi mereka ternyata masih asing. Padahal “Crazy” dalam bahasa inggris sudah populer lama sekali. “Crazy” dipake menyebut orang-orang  yang berfikiran kreatif, melawan mainstream, berfikir diluar cara berfikir orang-orang kebanyakan, berfikir diluar kotak “Think out of the box” atau bahkan berfikir tanpa kotak “Think wthout the box”.

Kata banyak penulis, fikiran-fikiran “orang gila” itu bercirikan tajam, kritis, kreatif dan berani berspekulasi. Mereka para mengambil resiko, tidak takut gagal,

Di Indonesia, istilah berfikir “gila” ini pernah diperkenalkan Purdi E Chandra dan Bob Sadino, pengusaha dan pemilik bimbingan belajar Primagama. Keduanya boleh jadi yang pertama menulis buku dengan judul “gila” – Purdi menulis “Cara Gila Menjadi Pengusaha” dan Murid-murid Bob Sadino yang menulis – “Belajar Gila dari Bob Sadino”. Setidaknya dua orang ini berhasil membuktikan, bahwa “Gila” itu hebat

Di buku “Cara Gila Jadi Pengusaha”. Purdi E Chandra bercerita, pertama mendirikan Primagama, ia tak berfikir siapa peserta belajarnya, siapa pengajarnya, darimana ia akan dapatkan modalnya. Yang ia lakukan memulai dari sebuah rumah kos-kosan, lalu ia mengundang anak-anak untuk mengikuti bimbel gratis, setelah ramai iapun mencoba menarik bayaran. Darimana pengajarnya, ia mengajar sendiri.

Keberanian dan keterampilan tidak harus sejalan, baginya fondasi utama hanya keberanian saja. Berani gagal, berani mencoba da berani merantau ke tempat jauh sementara keterampilan bisa menyusul, bisa dipelajari sambil berproses.

Disebuah wawancara ia katakan “Saya rasa jawaban mereka tidak bisa disalahkan. Mereka cenderung menggunakan otak rasional. Padahal untuk menjadi pengusaha, kita harus ‘berani’ dulu memulai usaha, baru setelah itu memiliki keterampilan. Bukan sebaliknya, terampil dulu, baru berani memulai usaha”

Dikesempatan yang lain, Maia Rahmayati penulis buku Pawon pernah mengajak saya “Gila” menyelami fikiran orang-orang gila di trotoar Jalan Airlangga. Kesimpulanya sederhana,  orang-orang gila adalah orang-orang kreatif yang fikirannya belum terjangkau fikiran-fikiran normal. Difikiran orang gila, boleh jadi orang-orang yang kita sebut berfikir normal inilah yang sesungguhnya gila. Gila dalam persfektif mereka.

Kembali ke konten video dari TED ini, lihat bagaimana proses perubahan besar telah terjadi, satu orang follower berani menjadikan orang gila menjadi pemimpin!

By Ahmad Jumaili Opini 0 Comments

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *