kompetensi-pesantren

Kompetensi Dasar Pesantren

Jika saya amati model pesantren saat ini di Indonesia ada 3 jenis konsentrasi yang kemudian dijadikan kompetensi dasar yang diunggulkan atau dijual masing-masing pesantren. Pertama ada pesantren yang mengambil konsentrasi ke pengajaran kitab kuning, kedua pesantren yang mengunggulkan bahasa arab dan bahasa inggris dan yang ketiga pesantren yang mengunggulkan Al Qur’an.

Tiga kompetensi dasar ini, Alqur’an, kitab kuning dan bahasa arab ini sebetulnya memiliki kesamaan visi yakni sebagai ilmu alat mempelajari agama. Saya kira diantara jenis-jenis spesifikasi ini, hanya bahasa asing lain selain bahasa arab saja yang tidak terlalu kompatibel, dan masih dianggap sesuatu yang luarbiasa bagi masyarakat pesantren. Tetapi jika kita mau, sebetulnya masih bisa di hubung-hubungkan, misal bahasa-bahasa itu bisa dijadikan ilmu untuk membaca referensi agama berbahasa asing lain selain bahasa arab.

Nah saya memiliki mimpi mencoba justru tidak mengambil focus pada salah satunya ketiga. Justru saya akan lakukan adalah menggabungkannya. Tapi bagaimana caranya?
Apakah bisa menggabungkan ketiga hal ini dalam lingkungan yang sama secara bersamaan?

Baru lalu saya berkunjung ke ponpes ulil albab di perian gegek lombok timur. Dipintu gerbang kami terkesan, sejumlah santri menyalami kami dan dengan sangat sopan mengadakan sambutan yang luar biasa.

Di Ulil Albab saya mendapati pesantren ink berhasil mencetak karakter /akhlak santri dengan sangat baik. Dan ketiga kompetensi dasar pesantren itu berhasil digabungkan dan bejalan secara bersama.

Untuk merealisasikan itu,  Ulil albab mondokkan semua santri, semua santri diwajibkan berbahasa Asing, 3 hari Bahasa Inggris dan 3 Hari berbahasa Arab. Dan untuk mengajari santri agama dan kuninh Ulil Albab memprogramkan madrasah diniyah di sore sehabis sekolah.  Dan untuk mereka yang minat menghafalkan al quran juga diberikam kesempatan untuk mengikuti hafalan alqur’an melalui lembaga yang dinamai Maqdis atau Madrasah Quran dan Hadist.

Diluar tiga hal itu, Ulil Albab juga melakukan sistem pendidikan dengan metode pendidikan membebaskan. Pesantren memberikan kebebasan kepada guru dan santri untuk memanfaatkan potensi dirinya, baik seni, musik, sinematografi, lukis dan lain sebagainya. Sehingga dapt kita saksikan, Ulil Albab termasuk salah satu yang berani melakukan pembelajaran kontemporer dengan sistem semua kompatibel dengan program pondok.

Pondok Pesantren Sirajul Huda sebetulnya juga bisa melakukan hal yang sama. Dengan catatan kita semua memiliki visi dan misi serta tekad dan kemauan yang kuat begitu juga kekompakan para fihak dalam menjalankan program.

Nah, Program Tamyiz dan Bahasa Inggris yang sedang dan akan kita lakukan ini, bisa menjadi awal yang sangat bagus. Mulai sedikit-sedikit memondokkan semua siswa, memadati kegiatan pesantren dengan tiga kompetensi dasar pesantren yang saya ulas dimuka. Ditambah dengan berbagai kegiatan eskul kita yang sudah jalan seperti Agribisnis.

Sekali lagi, semua akan kembali pada kemauan dan tekad bersama. Karena itu, harapan saya, semua lembaga di yayasan mulai berakit-rakit ke arah itu. Saya siap menjadi “Gegeseng”.
#RenunganSebelumTidur

By Qalama Institute Opini Pesantren 0 Comments

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *