tanda-kecanduan-media-sosial

Gadget dan Budaya Digital

Qalama.com – Yang sezaman dengan saya, tentu maklum, dulu sekitar tahun 90-an, di rumah, di sekolah, di kampus, di jalan, tak akan kita temukan orang-orang, berdiri atau duduk mengantri, sibuk sendiri sambil kulik-kulik hp, tak saling sapa.

Jaman begitu cepat berubah, sekarang kebalikannya. Kita menyaksikan itu terjadi dimana-mana dan sudah dianggap biasa pula. Dijaman ini gadget mengganti teman ngobrol dan kencan bahkan diskusi. Orang-orang sibuk sendiri. Demi teman setia ini, banyak orang saya liat lebih mementingkan gadgetnya daripada nyawanya sendiri. Ini berlaku buat teman saya yang suka baca pesan Whatsapp sambil mengemudi sepeda motornya.

Gadget adalah fenomena dunia yang menjadi kanal informasi paling private. Kita di paksa menggunakan media ini sebagai jalan satu-satunya komunikasi ditengah kemalasan kita bersilaturrahim. Bahkan di majelis silaturrahim saja, akhirnya kitapun sibuk sendiri dengan Gadget.

Terlalu banyak Media Sosial yang menyita waktu kita. Akhirnya kita lupa bersosial sesungguhnya dengan teman dan kerabat.

Akibatnya, kualitas otak manusia jaman now berkurang drastis. Generasi yang lahir pasca 2000-an menjadi kecanduan. Ini dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk meraih keuntungan.

Siapa yang untung, ya perusahaan handphone, perusahaan operator seluler, pengusaha iklan.

Kita saat ini lebih mementingkan Quota data daripada makan enak direstoran. Generasi kita saat ini tak perlu baju mahal karena narsis di sosial media tidak real time dan bisa di manipulasi secara digital. Cewek yang idungnya pesek bisa saja membuat dirinya mancung dan terlihat cantik bagi pengguna medsos yang lain. begitupula pria.

Para pebisnis juga lebih memilih memasarkan produknya dengan cara ini. Sebuah perusahaan yang tak punya kantor, tak memiliki karyawan, kredibilitas perusahaannya belum teruji, bisa saja menampilkan segala yang dia mau dengan citra terbaik. walaupun sebenarnya tak sebegitu amat.

Dus, kita sedang berada di budaya digital. Satu sisi sebuah kemajuan, disisi lain meresahkan. Satu sisi bisa meretas waktu dan jarak dengan sangat mudah, disisi lain kualitas hidup kita menjadi dibatasi Quota dan Sinyal 4G.

By Ahmad Jumaili Opini 0 Comments

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *