By Ahmad Jumaili

Ruang Dakwah, Bela NU dan Ulama

 

~ Turmudzi

Sekitar bulan November 2017, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kementerian Agama RI mengungkapkan hasil penelitian bahwa, Habibi Rizieq dan Bachtiar Nasir cenderung lebih populer dan diidolakan aktivis pembinaan rohani Islam (Rohis) di Sekolah Menengah Atas (SMA) wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta (Viva online)

Kepopuleran Habib Rizieq yang merupakan Ketua Front Pembela Islam (FPI) dan Bachtiar Nasir sebagai Pimpinan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI bahkan mengalahkan tokoh Islam moderat seperti Prof. Quraish Shihab, KH. Mustafa Bisri. Bahkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin disebut tidak populer di mata pelajar aktivis

Penelitian dilakukan Puslitbang Kemenag RI memang baru dilakukan sebatas aktivis pelajar Rohis sekolah umum di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kalau kemudian penelitian juga dilakukan di seluruh sekolah umum di Indonesia, termasuk masyarakat umum, bukan tidak mungkin gejala dan fenomena sama juga terjadi

Meski sampel penelitian Kemenag hanya baru sebatas Jawa Tengah dan Yogyakarta, tapi hasil penelitian tersebut setidaknya memberikan gambaran bagaimana tokoh – tokoh Islam garis justru lebih mendapatkan tempat lebih istimewa di hati para pelajar daripada tokoh Islam moderat, yang dari sisi pemahaman keagamaan lebih kuat dan cara berdakwah lebih santun

Kepopuleran Habib Rizieq dan Bachtiar Nasir tentu tidak bisa terlepas dari aksi demonstrasi berjild – jilid atau lebih dikenal dengan aksi 212 menuntut mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dipenjarakan atas dugaan penistaan agama, dikomandoi dua orang tersebut dan berhasil menggalang ratusan ribu massa umat Islam ikut melakukan aksi

Meski demikian aksi demonstrasi tersebut sebenarnya merupakan momentum dan bagian puncak dari pengetahuan masyarakat termasuk pelajar tentang sosok Habib Rizieq dan Bachtiar Nasir, ditambah polesan gerakan arus informasi media sosial tidak terbendung, termasuk berita hoax.

Sebab sebelum itu kedua tokoh tidak terlalu banyak dikenal masyarakat maupun pelajar, tapi momentum aksi demonstrasi berjilid telah memberikan panggung bagi kedua tokoh, termasuk gerakan dakwah media sosial facebook, twitter, youtobe yang banyak disebarluaskan pengikut dan pembela Habib Rizieq

Peran Nahdlatul Ulama

Mengamati fenomena tersebut, keberadaan Ormas lslam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah termasuk Ormas Islam moderat lain, harus mulai banyak tampil ke permukaan, tidak saja dalam bentuk sikap dan kebijakan dijalankan, juga dalam bentuk tindakan dan gerakan nyata, mengambil ruang yang selama ini banyak dikuasi kelompok radikal, terutama dakwah media digital dan media sosial

Apalagi dengan maraknya bertebaran berita hoax (bohong) dan dakwah provokatif yang tersebar luas di media sosial, telah banyak mempengaruhi dan meracuni otak serta perilaku masyarakat menjadi bagian dari pelaku penebar ujaran kebencian terhadap lembaga, institusi pemerintahan maupun tokoh bangsa maupun partai politik

Bahkan tokoh agama sekaligus tokoh sentral Ormas Keagamaan NU maupun Muhammadiyah yang selama ini menjadi panutan, dihormati dan disegani masyarakat juga ikut jadi sasaran tembak para pelaku ujaran kebencian dan fitnah melalui berita bohong di media sosial secara masif

Kalau kondisi ini dibiarkan akan sangat berbahaya, tidak saja bagi Ormas NU dengan tokoh – tokohnya, digerogoti dan dibuat kropos dari dalam, dengan cara membenturkan sesama tokoh, termasuk membangun rasa tidak percaya di kalangan warga NU, baik terhadap organisasi maupun tokoh NU yang selama ini jadi panutan

Berita bohong dan fitnah media sosial juga bisa menghancurkan sendi kehidupan berbangsa yang dengan susah payah telah dibangun para pendiri bangsa. Ketika berita bohong telah mampu meracuni dan merusak sendi kehidupan berbangsa, maka tidak ada lagi, toleransi, tidak ada kebersamaan, tapi yang ada hanya kebencian dan permusuhan

Sebagai Ormas Islam terbesar, NU tentu memiliki tanggungjawab besar menjaga ulama dan NKRI dari ancaman kelompok radikal. Warga NU melalui kader mudah sudah waktunya bergerak melawan kelompok yang berupaya membenturkan ulama dengan masyarakat, ulama dengan pemerintah dan memecah belah persatuan bangsa Indonesia

Melakukan transformasi dakwah secara masif dari offline ke digital online melalui berbagai sarana media sosial tersedia, dengan mengetengahkan dan mempopulerkan ceramah keagamaan tokoh – tokoh agama, Kiyai dan Tuan Guru pesantren yang dari sisi keilmuan tidak diragukan, terutama Kiyai dan Tuan Guru NU dan Muhammadiyah yang tersebar di setiap Pondok Pesantren

Mengingat NU memiliki segudang ulama dan Kiyai penceramah yang tersebar di Pondok Pesantren, yang dari sisi keilmuan tidak diragukan, dengan gaya ceramah menyejukkan dan mudah difahami

Meminjam bahasa Ketua LTNU NTB, Aksar Anshori, sekarang ini ada upaya dari kelompok tertentu berupaya memisahkan warga NU dari organisasi dan tokoh – tokohnya, dengan cara pembunuhan karakter, itu sebab banyak warga NU kehilangan kepercayaan terhadap organisasi dan tokoh sendiri

Kalau ini dibiarkan, percayalah meski secara keorganisasian NU besar akan tapi kalau warganya tidak melek media, melek teknologi, maka akan kehilangan tempat dan kalah oleh kelompok kecil yang menguasai teknologi media sosial.

By Ahmad Jumaili

Menebak Media Pasca Milenial

~ Ahmad Jumaili

Demam Blackberry sudah berlalu tahun 2009, diganti Whatsapp dan telegram dan masuknya kita di era milenial. Beberapa sosial media seperti facebook sempat mau ambruk, tapi canggihnya strategi facebook membuat whatssapp akhirnya bisa diakuisi. Duet FB dan WA ini ampuh, buktinya facebook menguasai pasar, WA menguasai chat dan group. Instagram setidaknya terlihat berlari sedikit menyalip twitter yang kaku dan miskin inovasi, namun begitu, tampaknya keduanya sudah punya segmen sendiri-sendiri.

Dilain fihak, ada google dengan search engginenya. Google menguasai search enggine, melibas dan menenggelamkan Yahoo ke dasar samudra. Google hingga kini masih memimpin pasar iklan melalui beberapa produknya, google adsense, admob, playstore dan google youtube.

Satu produk google yang nampaknya akan segera terdisrupsi adalah Blogger. Melemahnya Blogger sesungguhnya tak lepas dari massifnya penyebaran Hoax melalui kanal-kanal blogcepot ini. Hal ini membuat orang kian faham, informasi-informasi dari blogger 80% sulit dipercaya, disamping kanal itu gratis, juga bias pembuatnya tak bertuan. Walhasil, sekarang orang-orang back to site, kembali memberikan kepercayaan pada media online yang jelas alamat dan managemennya.

Perubahan-perubahan terus berlangsung. Dulu orang banyak mengira, pasca marak blogger, lalu sosial media lalu massengger (WA dan Telegram) lantas media cetak dan elektronik (Tv-radio) dikiranya akan bubar. Tapi ternyata tidak. Bias Hoax yang merajalela, viralnya broadcast-broadcast sampah membuat banyak orang hari ini mulai muak dan kembali mempercayai media cetak.

Masa terus berlanjut. Pengusaha-pengusaha media cetak bisa sejenak bernafas lega, mereka merasa kepercayaan manusia telah kembali. Sosial media dan massengger mereka manfaatkan sebagai Influence agar berita-berita mereka dibaca. Disaat yang sama, ternyata mereka butuh sensasi, butuh eksistensi. Mereka mengikuti irama yang terjadi di kanal-kanal group-group WA dan Telegram.Tak mau kalah cepat dan tak mau kalah informasi. Fatal akibatnya, Media Cetak akhirnya ikut-ikutan menjadi penyebar Hoax. Kasus Republika menjadi contoh terkini.

Pasca Milenial

Setelah masa ini, pasca milenial, apakah media cetak akan kehilangan reputasinya juga? Hmm….lalu media apa yang bisa kita percaya hari ini.

Sekarang sudah mulai bermunculan situs-situs berita yang menggunakan metode muti user, satu web dikelola rame-rame. Contohlah Seword, Kumparan, Quereta, Kompasiana dan juga blog ini Qalama.com. Mirip-mirip Citizen Journalism, semua orang bisa daftar dan menulis sesuatu semau udelnya, tanggungjawab kebenaram informasi ada di masing-masing user.

Apakah cara ini yang akan mengganti cara-cara lama dalam pemberitaan? entahlah.

Esok lusa, mungkin akan muncul beberapa inovasi lagi, tekhnologi yang lebih canggih, boleh jadi di HP kita, secara realtime bisa kita nikmati langsung dari lokasi, tanpa quota, tanpa sinyal 4G. Ini mungkin saja.

Dus, disaat keterbukaan informasi seperti ini. Satu hal yang perlu kita jaga-jaga. Jangan mudah percaya, saat ini janganlan akun media sosial, seorang calon presiden saja bisa berbohong dan ikut menjadi produsen Hoax. Jadi mari kembali ke diri masing-masing. Jagalah dirimu dan keluargamu dari informasi-informasi Hoax.

By Fahmie Zaky

Pungut Hikmah Puisi Panas Sukmawati

~ Fahmie Zaky

Hingga detik ini, masih hangat pembicaraan soal puisi ‘panas’ Sukmawati Soekarno Putri. Pro-kontra terutama di Media Sosial bikin pekak mata dan telinga.

Yang pro Sukmawati, membela mati-matian bahwa puisi yg dibacakan Sukmawati itu bukan penistaan melainkan hanya ekspresi pribadi yang tertuang dalam bentuk puisi.

Saudari kandung Megawati Soekarno Putri inipun sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya lengkap dengan drama air mata. Namun bagi masyarakat yang terlanjur terprovokasi dalam rangkaian hujatan untuk puisi itu, mereka malah semakin kalap dan melaporkan Ibu putri Proklamator Soekarno itu ke polisi. Tangis Sukmawati rupanya mereka anggap Drama saja.

Salah seorang yang paling ngotot mempermasalahkan Puisi Ibu indonesia itu adalah Ketua Persaudaraan Alumni 212 Dedi Suhardadi. Dedi mengulang-ulang pernyataannya di media, ia sangat tersinggung dengan puisi yang dibacakan Sukmawati.

Sekarang, laporan Dedi itu sudah ditangan Bareskrim Polri, masyarakat tentu menunggu perkembangannya.

Jika dilihat Pasal yang diperkarakan Dedi, tampaknya ia ingin mengikuti jejak kasus Ahok yang berhasil dijerat dengan undang-undang penodaan agama 1945. Mereka yakin, pasal karet warisan Orde Baru itu bakal mudah menjerat Sukmawati.

Polemik tentang “puisi panas” ini masih terus berlangsung hingga detik ini. Pendapat dari arus yang lain, puisi Sukmawati tak lebih dari urusan remeh temeh yang dibesar-besarkan. Itu hanyalah puisi tak ada kaitannya dengan penistaan agama. Ini kata mereka yang membela Sukmawati

Suara yang lain, Puisi Sukmawati itu mungkin ada masalah, tetapi dia sudah minta maaf dan masyarakat diajak memaafkan. Sikap seperti ini disuarakan secara kompak oleh dua organisasi terbesar Islam, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Dus, bagi saya kasus tersebut ambil saja hikmahnya. Hikmah yang bisa kita pungut, minimal, bangsa Indonesia khususnya generasi muda mengerti bahwa Puisi itu bukanlah karya sembarangan. Puisi itu punya daya dobrak yang kuat. Maka kearifan bagi sastrawan-sastrawan untuk menciptakan puisi-puisi yang mendamaikan. Sudah lelah kita dengan segala bentuk pertikaian.

Salam Satu Jiwa, Nahdliyyin punya cara!

By Miftah Hamid

Mangga Paling Enak

~ Miftah Hamid

Sejak beberapa bulan yang lalu, salah satu Tuan Guru yang kami ikuti hampir semua langkah dan tindak lakunya pergi ke Haribaan Sang Maha Kekasih. Malam itu berubah menjadi salah satu malam yang paling kelam dalam beberapa tahun setelah dua orang yang sangat dekat dengan hati dan jiwa saya juga beranjak pergi dan tak akan pernah kembali.

Banyak kisah penuh hikmah dari beliau selama kami menuntut ilmu. Kadang kami manggut2 karena setuju, sering juga kami menggeleng-gelengkan kepala karena takjub, bahkan juga tersenyum karena isi ceritanya janggal di telinga.

Ada satu kisah yang sangat berkesan dan masih saya ingat alur ceritanya sampai detik ini. Suatu kisah yang hanya bisa dialami oleh orang yang memiliki hati seluas langit, jiwa yang hangat, dada yang penuh ilmu dan hikmah, dan rasa percaya serta tawakkal yang tiada tara.

Tuan Guru kami siang itu bercerita begini:
Saya diajak oleh Guru saya menghadiri sebuah acara di suatu kampung yang tidak seberapa jauh dari pondok kami. Setelah acara selesai, perut kami lapar sekali karena belum makan waktu berangkat dan di acara itu tidak disediakan makanan berat seperti nasi beserta lauknya. Hanya sekedar air minum dan sepotong kue kecil.

Dalam perjalanan pulang, Guru saya itu berjalan pelan saja tanpa menghiraukan saya yang kelaparan. Yang saya inginkan saat itu hanya ingin cepat-cepat sampai pondok dan segera makan. Di tengah jalan, tiba2 ada seorang tua menghadang kami di jalan dan berkeras supaya kami mampir sebentar di rumahnya. Tampaknya dia sudah menunggu kami lewat dari tadi karena waktu pergi tadi kami juga melewati jalan itu dan orang itu sepertinya sudah ada di sana dan menunggu kami pulang dari acara dengan sabar.

Melihat keadaan orang itu yang sederhana dalam penampilan dan sopan dalam tutur, Guru saya tidak tega menolak permintaannya. Sang Guru pun mengajak saya mampir sebentar. Di dalam hati saya timbul harapan semoga di rumah ini kami disuguhi makanan.

Setelah sampai, Guru saya memimpin tahlilan dan doa. Setelah itu kami menunggu hidangan dari tuan rumah. Begitu keluar hidangan yang ditunggu-tunggu, saya tidak bisa melukiskan perasaan saya sendiri saat itu. Ada rasa kaget, geli, malu, kesal, dan tentu saja lapar karena hidangan yang disajikan oleh tuan rumah hanyalah satu buah mangga mentah!!! Pantesan dari tadi saya tidak melihat dan mendengar ada kesibukan di rumah itu.

Guru saya dengan senyum di bibirnya mengambil pisau dan mengupas buah mangga itu. Beliau tidak memberi kesempatan untuk saya mengupasnya. Setelah dikupas, beliau mengirisnya dan langsung memakannya. Kemudian beliau menyuruh saya memakannya juga. Saya pun dengan terpaksa berbuat yang sama, mengiris dan memakannya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada perut saya nanti yang dari pagi masih kosong dan siangnya diisi mangga mentah. Guru dan saya melahap mangga itu sampai habis. Setelah selesai, beliau berkata kepada tuan rumah, “Ini adalah mangga paling enak yang pernah saya makan.” Saya hanya menggeleng2 tak percaya tetapi tidak berani berkata apa2.

Betapa luhur akhlak beliau yang berusaha membuat senang hati si tuan rumah yang telah dengan tega menyiksa perut saya. Saya menangis membayangkan betapa lapang dada Guru saya. Beliau tidak membedakan siapa yang mengundangnya dan berapa isi amplopnya. Ketika ada yang berhajat mengundangnya, bila ada kesempatan dan kesehatan, beliau tidak pernah membuat alasan untuk tidak hadir.

yusuf_thantowi
By Yusuf Thantowi

Uang Kaget Dari Tuhan

Uang kaget itu menyadarkan saya bahwa rumus sukses adalah perpaduan kerja keras dan doa.

~ Yusuf Tantowi

Suatu malam saya benar-benar kehabisan uang. Di dalam dompet uang yang tersisa hanya Rp 2 ribu. Itu pun sisa membeli nasi bungkus malam sebelumnya. Dengan uang segitu, apa yang bisa dibeli di kota kecil saya ini? Uang sejumlah itu hanya bisa buat beli kerupuk yang tidak bisa mengenyangkan. Maka, saya harus puasa dari pagi sampai sore.

Anda mungkin pernah merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki uang. Pikiran tidak tenang, optimisme tiba-tiba hilang. Kepercayaan diri juga tiba-tiba lenyap entah kemana. Pokoknya, pikiran tidak menentu, seolah dunia ini sudah kehabisan harapan. Begitulah perasaan saya saat itu. Uang telah menjerat saya. Saya yang dianugrahi akal oleh Tuhan dihegemoni oleh benda yang bernama uang.

Bulan itu bukan tidak ada rencana rencana pemasukan. Seorang teman di Jakarta bahkan sudah berjanji akan segera mengirim honor menulis saya bila pekerjaan sudah selesai.

Kini, pekerjaan itu sudah lama saya selesaikan. Teman itu bahkan memuji hasil kerja saya yang dianggap cukup baik dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Katanya,tulisan saya lebih lengkap dan sistematis. Tetapi sayang, ketika saya sangat membutuhkan uang untuk makan, ternyata honor saya belum dikirim-kirim juga.

Jujur saja, sebenarnya sudah tiga malam saya berturut-turut datang ke ATM untuk mengecek. Tetapi, hasilnya masih sama. Nihil. Saldo tabungan saya tidak berubah. Saya juga sengaja datang malam hari, saya berpikir teman itu pasti akan mentransfernya siangnya. Tidak mungkin malam hari karena bank pasti tutup.

Terdesak oleh kebutuhan, malam keempat saya datang lagi ke ATM yang berada di gedung rektorat Universitas Mataram itu. Seperti biasa saya antri beberapa menit karena sebelum saya datang sudah ada beberapa orang yang antri. Beberapa saat menunggu saya pun akhirnya masuk ATM. Di belakang saya sudah berdiri beberapa orang yang menunggu giliran.

Ketika mendapat giliran, saya langsung mendorong pintu ATM yang terbuat dari kaca itu. Di dalam saya langsung memsukkan kartu ATM saya. Menekan nomor pin lalu melihat saldo tabungan. Sayang, saldo di rekening saya tidak bertambah, masih tercantum angka Rp 7.500. Itu artinya belum ada transfer sama sekali. Dua detik kemudian kartu ATM saya tarik keluar. Bersamaan dengan itu pandangan saya tiba-tiba tertuju pada sebuah kertas berwarna merah yang berada di bawah mesin ATM. Letaknya hanya beberapa sentimeter dari ujung sandal yang saya pakai. Lama saya perhatikan ternyata itu uang kertas Rp 10 ribuan.

Saat itu, pikiran saya terpecah menjadi dua, antara keinginan mengambil atau membiarkan. Kalau saya ambil sudah tentu uang itu bukan hak saya. Ada perasaan malu juga dilihat oleh orang dibelakang saya. Tetapi kalau tidak saya ambil, saya makan apa malam ini? Secara bersamaan saya juga masih percaya dengan anggapan–bila mengambil sesuatu yang bukan hak kita, maka Tuhan akan mengambil milik kita dengan cara yang tidak disangka-sangka. Itulah yang saya takutkan. Pengalaman seperti itu beberapa kali saya alami.

Pikiran itu kemudian bernegosiasi di benak saya. Tetapi, tuntutan perut akhirnya mengalahkan keragu-raguan saya. Sebagai gantinya, saya berjanji dalam hati kalau saya dapat uang, uang itu akan saya ganti dengan menyumbangkannya kepada anak yatim atau kepada masjid dua kali lipat dari jumlah uang tersebut. Selain itu saya juga akan menyumbangkannya atas nama pemilik uang tersebut, bukan untuk pribadi saya. Mencari pemiliknya tentu sangat susah. Saya pun mantap mengambilnya.

Selang beberapa hari setelah kejadian itu saya kemudian mendapatkan uang. Lumayan sebagai modal bertahan hidup untuk beberapa hari. Uniknya begitu saya dapat uang, ibu saya tiba-tiba menelepon dari kampung. Ia menanyakan keadaan saya. Di akhir pembicaraan kami ia tidak lupa berpesan bila ada uang lebih jangan lupa memberikan sebagiannya kepada anak yatim. Saya pun jadi teringat akan janji saya. Wow, Tuhan rupanya datang menagih janji saya. Maka, tanpa berpikir panjang saya pun memenuhi janji saya dengan memberikan uang dua kali lipat kepada seorang anak yatim yang kebetulan tetangga saya di kampung.

Pengalaman itu membuat saya semakin yakin betapa Tuhan sangat dekat dengan kita. Ia tidak pernah tidur untuk mendegar dan menunggu usaha kita. Ia bahkan lebih dekat dari urat nadi kita. Tuhan memang sangat pemurah. Memberikan rezeki kepada umatnya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Ia bahkan tidak pernah membeda-bedakan umatnya, baik yang beriman atau tidak.

Meski demikian, Tuhan akan senang membagaikan rezekinya kepada umatnya yang suka bekerja keras. Bukan kepada umatnya yang hanya pandai berdoa tetapi malas bekerja. ‘Uang kaget’ itu menyadarkan saya bahwa rumus sukses adalah perpaduan kerja keras dan doa. Tanpa perpaduan kedua, mustahil kesuksesan dapat kita raih.

Pelajaran lain, bila kita mendapatkan uang lebih, ada baiknya disumbangkan kepada orang yang tidak mampu. Manfaatnya bukan saja dapat dirasakan oleh orang lain tetapi tetapi bisa membawa investasi kebaikan untuk kita di masa depan. Bila tidak, Tuhan bisa mengambilkan melalui jalan yang tidak kita sangka-sangka. Apakah itu melalui penyakit, musibah, penipuan atau prahara rumah tangga. Itulah pelajaran berharga yang saya dapatkan malam itu.[yt]

Tulisan ini pernah di Muat di Andaluarbiasa[dot]com

By Ahmad Jumaili

Berani Menjadi Follower Gila

Berani Menjadi Follower Gila saya yakini sebagai jalan pintas membuat perubahan-perubahan kecil menggelinding menjadi perubahan-perubahan besar

Oleh : Ahmad Jumaili

Saat diskusi Teacher Day beberapa waktu lalu, saya mengatakan kepada teman-teman guru, “Untuk membuat sebuah gerakan perubahan, kita harus berani menjadi follower pertama yang menjadikan “orang gila” sebagai pemimpin”. Saya langsung ditertawakan!.

Penggunaan terminologi “Gila” bagi mereka ternyata masih asing. Padahal “Crazy” dalam bahasa inggris sudah populer lama sekali. “Crazy” dipake menyebut orang-orang  yang berfikiran kreatif, melawan mainstream, berfikir diluar cara berfikir orang-orang kebanyakan, berfikir diluar kotak “Think out of the box” atau bahkan berfikir tanpa kotak “Think wthout the box”.

Kata banyak penulis, fikiran-fikiran “orang gila” itu bercirikan tajam, kritis, kreatif dan berani berspekulasi. Mereka para mengambil resiko, tidak takut gagal,

Di Indonesia, istilah berfikir “gila” ini pernah diperkenalkan Purdi E Chandra dan Bob Sadino, pengusaha dan pemilik bimbingan belajar Primagama. Keduanya boleh jadi yang pertama menulis buku dengan judul “gila” – Purdi menulis “Cara Gila Menjadi Pengusaha” dan Murid-murid Bob Sadino yang menulis – “Belajar Gila dari Bob Sadino”. Setidaknya dua orang ini berhasil membuktikan, bahwa “Gila” itu hebat

Di buku “Cara Gila Jadi Pengusaha”. Purdi E Chandra bercerita, pertama mendirikan Primagama, ia tak berfikir siapa peserta belajarnya, siapa pengajarnya, darimana ia akan dapatkan modalnya. Yang ia lakukan memulai dari sebuah rumah kos-kosan, lalu ia mengundang anak-anak untuk mengikuti bimbel gratis, setelah ramai iapun mencoba menarik bayaran. Darimana pengajarnya, ia mengajar sendiri.

Keberanian dan keterampilan tidak harus sejalan, baginya fondasi utama hanya keberanian saja. Berani gagal, berani mencoba da berani merantau ke tempat jauh sementara keterampilan bisa menyusul, bisa dipelajari sambil berproses.

Disebuah wawancara ia katakan “Saya rasa jawaban mereka tidak bisa disalahkan. Mereka cenderung menggunakan otak rasional. Padahal untuk menjadi pengusaha, kita harus ‘berani’ dulu memulai usaha, baru setelah itu memiliki keterampilan. Bukan sebaliknya, terampil dulu, baru berani memulai usaha”

Dikesempatan yang lain, Maia Rahmayati penulis buku Pawon pernah mengajak saya “Gila” menyelami fikiran orang-orang gila di trotoar Jalan Airlangga. Kesimpulanya sederhana,  orang-orang gila adalah orang-orang kreatif yang fikirannya belum terjangkau fikiran-fikiran normal. Difikiran orang gila, boleh jadi orang-orang yang kita sebut berfikir normal inilah yang sesungguhnya gila. Gila dalam persfektif mereka.

Kembali ke konten video dari TED ini, lihat bagaimana proses perubahan besar telah terjadi, satu orang follower berani menjadikan orang gila menjadi pemimpin!

By Miftah Hamid

Komentator Film

“Semua mata tertuju pada si toke yg telah membuat suasana ‘hidup dan ceria’ dengan cara yg tak biasa. Mungkin karena merasa telah menyebabkan kegaduhan”

Oleh : Miftah Hamid

Orangnya berperawakan agak gemuk dengan tinggi sekitar 160-165. Mukanya seperti orang A**b A*pen*n. Gaya bicaranya seperti seorang ‘expert who knows everything’. Jalannya seperti orang buru2, cepat sekali seakan2 takut ketinggalan pesawat. Pakaiannya ‘casual’ kayak pemilik toko yg sedang jaga tokonya (you know laaah), baju kaos celana kain sandal slop hitam sepertinya dari kulit dengan kacamata. I think you can see his picture in your mind.

Saya bisa tahu detil orang ini setelah berusaha mengikutinya dengan setengah berlari waktu keluar dari bioskop XXI ketika ‘Death Wish’nya Bruce Willis usai kami tonton. You know laaah film merupakan chicken soup for my soul sejak lama dari waktu masih di bangku MTs.

Buat apa repot2 ngurusin orang yg kenal aja tidak? Ada hal yg unik dari orang ini yg awalnya sih bikin kesel setengah mati tetapi lama2 kok bikin ngakak. Bayangkan bagaimana dia bisa mengaduk2 atmosfer perasaan banyak orang (mungkin semua penonton saat itu), membuat emosi kita begitu berwarna. Pernahkah anda mengalami perasaan jengkel yg lama2 berubah menjadi geli dalam waktu tidak lebih dari 2 jam? Hal itu terjadi pada kami yg menonton film bersama orang tersebut saat itu.

Ceritanya dimulai sejak film belum mulai diputar. Orang itu tidak pernah diam lebih dari 5 detik. Sepanjang pengalaman saya nonton film, baru kali ini saya bertemu dengan orang yg terus menerus bicara seakan orang2 di sekelilingnya hanya sekumpulan manequin baju yg tidak perlu dihiraukan. Sikap cueknya begitu hebat. He was the star in the whole moment. Gaya bicaranya seperti komentator sepak bola waktu pertandingan antara Indonesia lawan Korea Selatan dulu yg dimenangkan Indonesia 3-2 kalau saya gak salah ingat. Dia begitu emosional.

Awalnya sebelum film main, dia menelfon seseorang dengan suara keras sekali seakan isi rumahnya mau diceritakan semua. The man without a secret. “Hei, gimana ceritanya kemarin, kayaknya kamu salah makan tuh, kalau saya sih gak bakalan makan di sana lagi, udah sehat sekarang? iya saya lagi di bioskop niiih, ada filmnya Bruce Willis bagus, kamu harusnya ikut biar seru, udah dulu ya, filmnya mau mulai.” Saya lihat hampir semua orang nengok ke sumber suara tentu dengan pandangan agak merasa terganggu.

And the drama went on. “Wah pasti bagus nih” salah satu komentar awal. Ketika adegan perampok.masuk rumah lewat jendela, orang ini teriak seakan mau memperingatkan kedua ibu dan anak yg mau disergap, “Wooyyy awas ada orang di belakang!!!” Kontan kita semua kaget. Ada yg ‘nggrundel’ di belakang saya, “Kampungan!!!” Saya sebagai orang kampung agak tersinggung juga sih kenapa kata itu digunakan untuk menggambarkan orang yg tidak tahu aturan padahal hidup kita di kampung sangat teratur. What the ***k.

Kadang2 dia mengikuti kalimat yg diucapkan para pemeran. Setelah beberapa lama, kita jadi terbiasa dengan komentar2 tidak pentingnya. Bahkan kita malah menunggu2 kira2 orang ini mau ngomen apa lagi. It’s so marvelous how the feelings changed rapidly. Akhirnya di tengah film kita jadi senyum2 sendiri mendengar sang komentator gratis membawakan perannya dengan cara heboh.

Begitu film selesai, semua mata tertuju pada si toke A**b yg telah membuat suasana ‘hidup dan ceria’ dengan cara yg tak biasa. Mungkin karena merasa telah menyebabkan kegaduhan, dia langsung bergegas keluar. Saya dengan penasaran berjalan dengan cepat berusaha mengikutinya dari jarak sekitar 6 meter. Ternyata kelakuannya seperti itu sudah menjadi karakternya. Tiap kali dia melihat sesuatu yg mungkin baginya beda, dia berkomentar tanpa peduli orang mau dengar atau tidak. Saya mengikutinya sampai area parkir tanpa berusaha untuk mengenalnya. Ngapain juga kenalan ama orang senewen wkwkwkwk. Saya cuma berdiri dan tertawa dalam hati melihatnya pergi tidak nengok2. See you, boss!!! Kapan lagi kita nonton bareng hahahaha.

tanda-kecanduan-media-sosial
By Ahmad Jumaili

Gadget dan Budaya Digital

Qalama.com – Yang sezaman dengan saya, tentu maklum, dulu sekitar tahun 90-an, di rumah, di sekolah, di kampus, di jalan, tak akan kita temukan orang-orang, berdiri atau duduk mengantri, sibuk sendiri sambil kulik-kulik hp, tak saling sapa.

Jaman begitu cepat berubah, sekarang kebalikannya. Kita menyaksikan itu terjadi dimana-mana dan sudah dianggap biasa pula. Dijaman ini gadget mengganti teman ngobrol dan kencan bahkan diskusi. Orang-orang sibuk sendiri. Demi teman setia ini, banyak orang saya liat lebih mementingkan gadgetnya daripada nyawanya sendiri. Ini berlaku buat teman saya yang suka baca pesan Whatsapp sambil mengemudi sepeda motornya.

Gadget adalah fenomena dunia yang menjadi kanal informasi paling private. Kita di paksa menggunakan media ini sebagai jalan satu-satunya komunikasi ditengah kemalasan kita bersilaturrahim. Bahkan di majelis silaturrahim saja, akhirnya kitapun sibuk sendiri dengan Gadget.

Terlalu banyak Media Sosial yang menyita waktu kita. Akhirnya kita lupa bersosial sesungguhnya dengan teman dan kerabat.

Akibatnya, kualitas otak manusia jaman now berkurang drastis. Generasi yang lahir pasca 2000-an menjadi kecanduan. Ini dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk meraih keuntungan.

Siapa yang untung, ya perusahaan handphone, perusahaan operator seluler, pengusaha iklan.

Kita saat ini lebih mementingkan Quota data daripada makan enak direstoran. Generasi kita saat ini tak perlu baju mahal karena narsis di sosial media tidak real time dan bisa di manipulasi secara digital. Cewek yang idungnya pesek bisa saja membuat dirinya mancung dan terlihat cantik bagi pengguna medsos yang lain. begitupula pria.

Para pebisnis juga lebih memilih memasarkan produknya dengan cara ini. Sebuah perusahaan yang tak punya kantor, tak memiliki karyawan, kredibilitas perusahaannya belum teruji, bisa saja menampilkan segala yang dia mau dengan citra terbaik. walaupun sebenarnya tak sebegitu amat.

Dus, kita sedang berada di budaya digital. Satu sisi sebuah kemajuan, disisi lain meresahkan. Satu sisi bisa meretas waktu dan jarak dengan sangat mudah, disisi lain kualitas hidup kita menjadi dibatasi Quota dan Sinyal 4G.

By Qalama Institute

Belajar Dari Pawon Maia

Oleh : Suhaili (Pembelajar Menulis)

Di pengantar Buku “Pawon” Karya teman saya Maya Rahmayati, Samsul Bahri yang tak lain adalah Kakak Kandung Maia ini menulis beberapa kalimat sugestif yang memotivasi penulis-penulis pemula seperti saya.

Samsul Bahri mengurai adiknya sebagai seorang penulis pemula yang pandai merangkai kalimat, menyambung kata, memilih diksi, dengan gaya bahasa tunggang langgang.

Ia katakan, Maia yang dia kenal adalah sosok  tangguh yang tak pernah menyerah berjuang menjadi penulis sampai lahirnya buku ini.

Awalnya ia mengira adiknya ini hanyalah penulis pemula yang tulisannya biasa-biasa saja. Hingga suatu hari, tanpa sengaja ia melihat nama Maia di halaman “Perpektif” koran terbesar di NTB, Lombok Post.

Samsul baru tersadar delapan tahun lamanya ia tidak pernah membaca tulisan adiknya. Maia, ternyata telah mengalami perubahan dalam dirinya, dan menulis dengan gaya yang tak biasa seperti yang dia kira hingga lahirnya buku “pawon” ini.

Menulis Pengalaman

Tulisan-tulisan Maia Rahmayati dibuku “Pawon”, mulai lembar pertama hingga lembar terakhir, adalah sebuah refleksi pribadi yang kembali ditulis secara apik dan menggugah.

Saya kok terinspirasi menulis dengan gaya yang sama. Benar memang, tulisan yang berdasarkan refleksi pribadi selalu lebih mengalir dan menginspirasi banyak orang.

Yuuk menulis, kita ikuti jejak Maia. Menulis refleksi pribadi untuk menjadi inspirasi semua orang.

Selamat menulis!

kompetensi-pesantren
By Qalama Institute

Kompetensi Dasar Pesantren

Jika saya amati model pesantren saat ini di Indonesia ada 3 jenis konsentrasi yang kemudian dijadikan kompetensi dasar yang diunggulkan atau dijual masing-masing pesantren. Pertama ada pesantren yang mengambil konsentrasi ke pengajaran kitab kuning, kedua pesantren yang mengunggulkan bahasa arab dan bahasa inggris dan yang ketiga pesantren yang mengunggulkan Al Qur’an.

Tiga kompetensi dasar ini, Alqur’an, kitab kuning dan bahasa arab ini sebetulnya memiliki kesamaan visi yakni sebagai ilmu alat mempelajari agama. Saya kira diantara jenis-jenis spesifikasi ini, hanya bahasa asing lain selain bahasa arab saja yang tidak terlalu kompatibel, dan masih dianggap sesuatu yang luarbiasa bagi masyarakat pesantren. Tetapi jika kita mau, sebetulnya masih bisa di hubung-hubungkan, misal bahasa-bahasa itu bisa dijadikan ilmu untuk membaca referensi agama berbahasa asing lain selain bahasa arab.

Nah saya memiliki mimpi mencoba justru tidak mengambil focus pada salah satunya ketiga. Justru saya akan lakukan adalah menggabungkannya. Tapi bagaimana caranya?
Apakah bisa menggabungkan ketiga hal ini dalam lingkungan yang sama secara bersamaan?

Baru lalu saya berkunjung ke ponpes ulil albab di perian gegek lombok timur. Dipintu gerbang kami terkesan, sejumlah santri menyalami kami dan dengan sangat sopan mengadakan sambutan yang luar biasa.

Di Ulil Albab saya mendapati pesantren ink berhasil mencetak karakter /akhlak santri dengan sangat baik. Dan ketiga kompetensi dasar pesantren itu berhasil digabungkan dan bejalan secara bersama.

Untuk merealisasikan itu,  Ulil albab mondokkan semua santri, semua santri diwajibkan berbahasa Asing, 3 hari Bahasa Inggris dan 3 Hari berbahasa Arab. Dan untuk mengajari santri agama dan kuninh Ulil Albab memprogramkan madrasah diniyah di sore sehabis sekolah.  Dan untuk mereka yang minat menghafalkan al quran juga diberikam kesempatan untuk mengikuti hafalan alqur’an melalui lembaga yang dinamai Maqdis atau Madrasah Quran dan Hadist.

Diluar tiga hal itu, Ulil Albab juga melakukan sistem pendidikan dengan metode pendidikan membebaskan. Pesantren memberikan kebebasan kepada guru dan santri untuk memanfaatkan potensi dirinya, baik seni, musik, sinematografi, lukis dan lain sebagainya. Sehingga dapt kita saksikan, Ulil Albab termasuk salah satu yang berani melakukan pembelajaran kontemporer dengan sistem semua kompatibel dengan program pondok.

Pondok Pesantren Sirajul Huda sebetulnya juga bisa melakukan hal yang sama. Dengan catatan kita semua memiliki visi dan misi serta tekad dan kemauan yang kuat begitu juga kekompakan para fihak dalam menjalankan program.

Nah, Program Tamyiz dan Bahasa Inggris yang sedang dan akan kita lakukan ini, bisa menjadi awal yang sangat bagus. Mulai sedikit-sedikit memondokkan semua siswa, memadati kegiatan pesantren dengan tiga kompetensi dasar pesantren yang saya ulas dimuka. Ditambah dengan berbagai kegiatan eskul kita yang sudah jalan seperti Agribisnis.

Sekali lagi, semua akan kembali pada kemauan dan tekad bersama. Karena itu, harapan saya, semua lembaga di yayasan mulai berakit-rakit ke arah itu. Saya siap menjadi “Gegeseng”.
#RenunganSebelumTidur