Gusdurian-gusdur-lombok-poros-langit
By Qalama Institute

Poros Langit Pendukung Gus Dur

Yusuf-gusdurian-lombok
Yusuf Tantowi
Alumni Ponpes Hidayatul Islamiyah (HI) Bagek Nyaka, Lotim

Diskusi ‘bergizi tinggi’ hasil duet Dr. M Sya’roni Rofii MA dengan Muhammad Said, M. Hum. Membincangkan “Gus Dur : Telaga Inspirasi Generasi Muda Santri Nusantara” bersama GusDurian Lombok, Keluarga Alumni Ponpes Hidayatul Islamiyah (HI) Bagek Nyaka dan Pengurus Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Lombok Timur.

Kalau Sya’roni membahas kebijakan strategis & gagasan-gagasan besar Gus Dur plus kontroversinya selama menjadi presiden, Said justru mengulas sisi-sisi aneh, mistik dan pikiran visioner seorang Gus Dur.

“Kalau orang bilang Gus Dur diusung jadi presiden oleh kelompok Poros Tengah, saya malah melihatnya Gus Dur didukung oleh poros langit” kata Muhammad Said.

“Buktinya Gus Dur didukung oleh kyai-kyai khos NU. Dia juga tidak daftar. Yusril Ihza Mahendra yang malah daftar, tidak dipilih oleh anggota MPR di Senayan. Jauh sebelum sidang umum MPR, Gus Dur sudah bilang ia akan jadi presiden” urainya. Itu menunjukan ‘penguasa langit’ merestui dan menghendaki Gus Dur jadi presiden.

Orang – orang yan mendengar pernyataan itu secara langsung tentu saja tidak percaya apa yang dikatakan Gus Dur ketika itu. Apa lagi saat itu Gus Dur sedang sakit keras.

“Tapi Gus Dur malah bilang, mudah menjadi presiden itu. Modal saya jadi presiden hanya modal dengkul. Itu pun menggunakan dengkul Amin Rais” tambah Said menyampai perkataan Gus Dur sebelum beliau meninggal.

Selesai acara dilanjutkan dengan silaturrahmi untuk mengecas kembali pemahaman tauhid kepada Al Mukarram TGH. Abdul Azim, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Islamiyah (HI), Desa Bagek Nyaka Santri, Kec. Aikmel, Lombok Timur, Kamis (21/6) 2018.[]

pkb-suhaili-amin-janapria-kopang
By Qalama Institute

PKB Janapria: Solid Menangkan Suhaili-Amin, Targetkan Legislatif 2 Kursi

pkb-suhaili-amin-janapria-kopangQalama.com – Tim Pemenangan Suhaili – Amin dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) PAC Janapria terus bergerak memenangkan Pasangan Suhaili-Amin. Bahkan, DPAC PKB Janapria memprediksi kemenangan Paslon Nomor 1 ini akan mencapai target 85%. Hal tersebut di tegaskan Suhaili, M.Si Ketua DPAC PKB Kecamatan Janapria pada Redaksi Qalama.com Rabu, (20/6) hari ini.

Suhaili menambahkan, prediksinya ini tidak akan jauh meleset karena belajar dari pengalaman pemilu yang sudah-sudah khususnya di Pilkada Lombok Tengah, suara Suhaili sudah bisa dihitung, baik ketika Pilkada bersama H.L. Normal Suzana maupun bersama L. Pathul Bahri.

“Suara Suhaili di Janapria termasuk sangat Fanatis, ini kami buktikan dari pemilu ke pemilu” ungkapnya.

Faktor lain yang membuat suara Suhali-Amin sangat signifikan di kecamatan paling timur Lombok Tengah ini, karena masyarakat Janapria hampir 70% adalah warga Nahdlatul Ulama dan merupakan jama’ah At Tohiriyah Alfadiliyah (Yatofa) Bodak.

“Mayoritas Warga NU dan Murid Almagfurlah TGH. Datok Fadil Bodak, pengaruhnya masih sangat kuat” Tambahnya.

Suhaili mengakui, dirinya di DPAC PKB termasuk cukup terbantu dengan kondisi ini. Sehingga, walaupun tidak ada instruksi partai secara khusus untuk bergerak siang-malam, ia dan timnya terus bergerak.

“Kami tidak hanya bawa semangat partai tapi juga semangat NU dan silsilah keilmuan kami ke Situbondo dan Bodak” Jelasnya

Suara PKB Melambung Tinggi

Disinggung soal suara PKB di Janapria, Suhaili menambahkan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di Janapria sejak awal tahun lalu sudah terbentuk kepengurusan mulai dari PAC hingga Ranting, sehingga untuk pemilu tahun ini PKB berani menargetkan suara yang signifikan.

“Tahun-tahun sebelumnya nyaris tak terdengar suara PKB karena pergerakan pengurusnya belum terlihat, nah tahun ini PKB di Janapria sudah massif, kita sudah siap” Tandas Suhaili yang juga pengurus Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda Paok Dandak ini.

Bahkan dikatakannya, sejak Maret 2018, PKB Janapria sudah mulai menjaring secara kultural dan internal Calon-Calon Legislatif yang akan maju dari Dapil Kopang Janapria.

“Untuk Dapil II kita dapat jatah 8 Calon, nah dari Janapria kita majukan 4 caleg yang masing-masing telah kita uji memiliki basis yang kuat di Masyarakat, mereka adalah pimpinan pondok pesantren dan juga tokoh masyarakat yang disegani” jelasnya.

Melihat kondisi PKB saat ini, terutama soliditas Ranting di 12 desa, Ia dan jajarannya sangat optimis PKB menang dan meraih dua kursi untuk Dapil II Kopang-Janapria.

“Kita sangat optimis, PKB sudah menjadi pembicaraan dimana-mana, Bahkan untuk caleg, boleh jadi kalo Kopang tak ada calon potensial menang, maka target dua wakil Insya Allah dari Janapria” Tambahnya.

Stop-bully-ulama
By Qalama Institute

Ulama Untuk Dihormati Bukan Dibully

Demi ambisi dan eksistensi, sebagian manusia akhir zaman ini dengan entengnya membully (baca: menghina dan mencaci-maki) para ulama. Entah darimana mereka mendapatkan inspirasi sesat itu, yang jelas ekspresi buruk itu mereka tumpahkan di media sosial dan internet dan dibaca banyak orang. Alasan merekapun sangat naïf “Amar Ma’ruf Nahi Mungkar” padahal sesungguhnya yang sedang mereka lakukan sebaliknya, ber-Nahi Ma’ruf dan Beramal Mungkar.

Sialnya, orang-orang yang melakukan “Caci Maki Ulama” ini bukanlah orang-orang hebat, mereka tak lebih dari orang-orang yang selama ini tidak tahu dirinya tidak tahu, mereka kurang ngaji dan mungkin tak pernah belajar Akhlakul Banin. Untuk kelompok yang ini boleh-boleh saja kita maafkan, tapi ada satu kelompok lagi yang kelakukannya tak kalah parah, mereka orang-orang yang pesantren, pernah ngaji Ta’limul Muta’allim, tau cara menghormati guru, tapi caci-makinya bahkan lebih “kenceng” dari kelompok yang pertama.

Hanya karena kebencian yang merasuk dihatinya, mereka lantas hilang hormat pada para ulama. Mata batin mereka telah dibutakan kebencian dan seakan tak sedikitpun nilai kebaikan pada para ulama dulunya mereka kagumi bahkan pernah belajar padanya.

Memang, seorang ulama atau seorang Tuan Guru bukanlah malaikat yang tak pernah salah, tapi apakah dengan kesalahannya -yang sedikit itu- lantas memantaskan seorang, apalagi muridnya pantas mengeluarkan caci-maki kebencian?.

Stop mencaci ulama meskipun kasat mata beliau salah. Kapasitas dan integritas seorang mereka jauh diatas anda. Ulama adalah pewaris para nabi, menghormatinya adalah wasilah keselamatan.

Untuk lebih dalamnya tulisan ini, saya ingin memaparkan beberapa kemuliaan ulama yang di sampaikan Jamaluddin Alhabisyi (W.786 H) dalam kitabnya “Nasyruttayyi’ at-Ta’rif fi Fadli Hamlatil Ilmi Syarif ” hal. 40-50

1. Ulama adalah ahli waris para Nabi

وإن العلماء ورثة الأنبياء , وإن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما ووإنما ورثوا العلم
Ulama adalah ahli waris para nabi. Para nabi hanya mewarisi ilmu (saja), tidak mewarisi dinar dan dirham.

Pasca ditutupnya gelar kenabian untuk manusia, maka saat itupula tugas menjadi pewaris nabi tentu bukanlah perkara yang mudah, tapi sangatlah berat sulit dan juga rumit. Hanya manusia level satu yang bisa mengemban itu semua. Jika para nabi dibekali dengan wahyu dan mukjizat maka ulama dibekali ilham dan karomah. Jika nabi adalah manusia pilihan, maka ulama demikian juga.Sifat-safat yang melekat pada nabi, pun juga melekat pada diri ulama.

وَقد بَين رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم أَن الْعلمَاء ثِقَات عدُول وأوضح بقوله عَلَيْهِ السَّلَام يحمل هَذَا الْعلم من كل خلف عدوله ينفون عَنهُ تَحْرِيف الغالين وانتحال المبطلين وَتَأْويل الْجَاهِلين. وَهَذَا حَدِيث حسن مَشْهُور وَهُوَ فِي كتب الْأَئِمَّة مُسْند مَذْكُور فَأخْبر صلى الله عَلَيْهِ وَسلم أَن حَملَة الْعلم فِي كل أَوَان هم عدُول أهل ذَلِك الْقرن وَالزَّمَان
Rasullah Saw menjelaskan dalam sabdanya bahwa ulama merupakan orang yang adil dan jujur. Nabi Bersabda, “Ilmu agama ini akan di bawa pada setiap generasi oleh orang-orang yang adil dari mereka, dan mereka akan menghilangkan/membersihkan ilmu agama dari upaya penyelewengan dari orang yang melampaui batas dan penakwilan dari orang bodoh.” Ini adalah hadis hasan yang mashur dan termaktub di kitab-kitab musnad para imam. Di dalam hadis yang lain, Rasullah bersabda “Ilmu dibawa di setiap bejana, bejana ilmu adalah orang-orang yang adil di zamannya”

2. Ulama sang juru keselamatan

Jika diibaratkan sebuah kendaraan, ulama adalah kapal besar yang menampung manusia dan mengantar mereka menujudermagapemilik jagad semesta.Layaknya sebuah kapal yang sedang mengarungi samudra, terjangan arus dan gelombang tidak dapat dihindari. Namun berkat kelihaian nahkoda dan kokohnya kapal, manusia dapat menepi di dermaga dengan selamat.

Begitulah perumpamaan jalan hidup manusia. Jalan menuju tuhan teramatlah panjang dan melelahkan. Dibutuhkan kendaraan dan navigator untuk bisa sampai kepada-Nya. Teramatlah sulit dan mustahil bagi orang awam untuk sampai pada tuhan tanpa dibimbingan oleh guide. Guide kehidupan diperankan oleh ulama. Maka disinilah manusia diharuskan untuk masuk di barisannya. Barisan yang mendidikan manusia menjadi manusia yang berbudi luhur. Barisan yang mengajarkan penghambaan secara totalitas kepada penciptanya. Barisan yang mengangkat derajat dan menghormati manusia. Keluar dari barisan ulama berarti kesesatan yang nyata untuk manusia.

وَقَالَرَسُولاللهصلىاللهعَلَيْهِوَسلمالْأَنْبِيَاءقادةوَالْفُقَهَاءسادةومجالستهمزِيَادَة
Para nabi adalah pembimbing, (sedangkan) ahli fikih orang yang mulia. Duduk di majlis mereka adalah keutamaan

قَالَالإِمَامالبُخَارِيّرَحمَهاللهفِيكتابالإعتصاممنجَامعهأَمررَسُولاللهصلىاللهعَلَيْهِوَسلمبِلُزُومالْجَمَاعَةوهمأهلالْعلمهَذَالَفظهوَفِيسنَنأبيدَاوُدأَنالنَّبِيصلىاللهعَلَيْهِوَسلمقَالَمنفَارقالْجَمَاعَةشبْرًافقدخلعربقةالْإِسْلَاممنعُنُقهوَنَحْوهفِيالصَّحِيحَيْنِأَيْضاَقَالَصلىاللهعَلَيْهِوَسلممنأَرَادَبحبوحةالْجنَّةفليلزمالْجَمَاعَةرَوَاهُالتِّرْمِذِيّوَقَالَحَدِيثحسنصَحِيح
وَرُوِيَأَيْضاأَنهصلىاللهعَلَيْهِوَسلمقَالَيَداللهمَعَالْجَمَاعَة

Imam Bukhari mengutip hadis Rasulallah Saw yang memerintahkan manusia untuk selalu dalam komunitas ahlul ilmi (ulama). Di dalam sunan Abi Daud Nabi bersabda, “Barang siapa yang melepas diri dari komunitas ulama sejengkal, maka lepaslah ikatan Islam dari lehernya.” Hadis yang semakna juga ada di kitab shahihaini, “Barang siapa yang ingin kedudukan di surga, maka hendaklah masuk di barisan jama’ah. Hadis ini adalah hadis hasan shahih. Di dalam riwayat yang lain, Rasulallah Saw bersabda, “Kekuasaan tuhan bersama jama’ah”

3. Kemulia ulama

Mengemban misi mulia para nabi dan rasul, dalam diri ulama juga mengalir kemuliaan para nabi. Kemulaan yang notabene tidak dimiliki manusia pada umumnya. Kemuliaan yang hanya pantas ditimbal dengan kemuliaan pula. Kemuliaan ilmu yang dipikulnya menasbihkan ia menjadi sosok yang kudus. Kemuliaan ilmu Allah Swt yang ada dalam dirinya adalah motivasi besar agar ia digugu dan ditiru serta dimuliakan.

Kemuliaannya tidak bisa berkurang sedikitpun, walau ia bertindak lalim. Tidak ada alasan untuk tidak menghormatinya. Tidak ada justifikasi yang halal untuk menghina dan membulinya. Menghina dan mencemoohnya hanya akan menjadi petaka bagi siapa saja yang berani untuk itu. Kekeramatan ulama bisa menjadi racun yang mematikan.

Imam Ibnu Asakir dalam gubahansyairnya mengatakan
تجنب الْعلمَاء وَإِن هم خلطوا * فالعلم يغْفر زلَّة الْعلمَاء
فلحومهم مَسْمُومَة وبأكلها * يخْشَى هَلَاك الشّعْر وَالشعرَاء
Dan berhati-hatilah terhadap ulama meskipun mereka bersalah * maka ilmu akan menghapus kesalahan ulama
Daging mereka beracun dan dengan memakannya * di khawatirkan hancurnya syair dan sang penyair .

Hal yang sama juga disampaikan oleh Imam As-Sahruwardi di dalam awal kitab “’Awariful Ma’arif” beliau menulis:

والعالم وَإِن لم يعْمل بِعَمَلِهِ ترجى لَهُ التَّوْبَة فَإِن الْعلم فِي الْإِسْلَام لَا يضيع أَهله ويرجى عود الْعَالم ببركتههَذَا كَلَامه رَحمَه الله
Orang alim walaupun tidak mengamalkan ilmunya maka diharapkan baginya bertaubat, karena sesungguhnya ilmu dalam agama Islam tidak menyia-nyiakan pemilik ilmu, dan ia (dapat) diharapkan bertaubat sebab barokahnya ilmu

فالعالم وَإِن لم يكن بِعِلْمِهِ عَاملا فَإِن لَهُ شرف الْعلم إِذْ صَار لَهُ حَامِلا وحامل الشَّيْء الشريف قد شرف بِمَا حمل وَمن أحب شَيْئا أحب حامله وَإِن لم يكن حامله حسن الْعَمَلوَقد شبه النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من أُوتِيَ الْقُرْآن وَلم يقم بِهِ بجراب أوكي على مسكفِي حَدِيث أخرجه التِّرْمِذِيّ وَالنَّسَائِيّ رحمهمَا الله فِي سُنَنهمَاوَفِي الحَدِيث :اتَّقوا زلَّة الْعَالم وَلَا تقطعوه وَانْتَظرُوا فيئته

Maka orang alim walaupun amaliahnya tidak sesuai dengan ilmunya, dia mempunyai kemuliaan ilmu karena dia menjadi orang yang membawa sesuatu yg mulia dan ia telah menjadi mulia sebab apa yang di bawa. Barang siapa mencintai sesuatu maka dia juga mencintai pembawanya walaupun sang pembawa amalannya tidak baik.

Nabi telah menyerupakan ia dengan orang yang telah diberi al-Qur’an namun tidak mengamalkan diserupakan dengan kantong kulit di isi dengan minyak misik. Hadits ini diriwayat oleh Imam at-Tirmidzi dan an-Nasa’i. Dalam sebuah hadits yang lain ” Berhati-hatilah dengan kesalahan orang alim dan janganlah kalian memutuskan dia, tapi kalian tunggulah masa taubatnya”.

Dan dalam haditsnya RatnulMa’mar yang masyhur dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تبرك بالعالم إِن عمل وَإِن لم يعْمل فتبرك بِهِ فللعالم حُرْمَة الْعلم الشريف وَإِن لم يعْمل ويرجى لَهُ ببركة الْعلم صَلَاحه فِي الْمُسْتَقْبل
Tabarruklah dengan orang alim jika mengamalkan ilmunya. Jika tidak mengamalkan ilmunya maka tabarruklah dengan ilmunya. Orang alim mempunyai kehormatan ilmu yang mulia walaupun tidak mengamalkannya, dan di harapkan baginya kebaikan dimasa mendatang dengan barokahnya ilmu.

Dalam sebuah riwayat ditegaskan kembali bahwa menghormati ulama adalah sebuah kewajiban dan sekaligus menjadi adalah haknya ulama.

وَمن أحب عَالما لأجل الْعلم الَّذِي فِي قلبه وَلم ينظر إِلَى مَا يتخيل من زلته وذنبه فقد أدّى مَا يجب من حق الْعَالم لأجل ربه
Barang siapa mencintai orang alim karena ilmu yang ada di dalam hatinya serta tidak melihat pada bayangan kesalahan dan dosanya maka dia telah memenuhi apa yg wajib dari haknya orang alim karena Robbnya,

Jika sampai saat ini kita belum mampu untuk menjadi orang yang alim sebagaimana ulama. Maka marilah kita tautkan hati ini untuk mencintai ilmu dan ahlul ilmi, insyaallah inilah jalan keselamatan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فقد قَالَ النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم من أحب الْعلم وَالْعُلَمَاء لم تكْتب عَلَيْهِ خَطِيئَة أَيَّام حَيَاته وَمن مَاتَ على محبَّة الْعلم وَالْعُلَمَاء فَهُوَ رفيقي فِي الْجنَّة
Barang siapa mencintai ilmu dan ulama maka tidak ditulis atasnya kesalahan di hari-hidupnya.Barang siapa meninggal dalam keadaan mencintai ilmu dan ulama maka dia menjadi temanku di surga.

من أحب طَالب الْعلم فقد أحب الْأَنْبِيَاء وَمن أحب الْأَنْبِيَاء كَانَ مَعَهم وَمن أبْغض طَالب الْعلم فقد أبْغض الْأَنْبِيَاء وَمن أبْغض الْأَنْبِيَاء فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّم
Barang siapa yang mencintai pencari ilmu maka sungguh telah mencintai para nabi. Barang siapa yang mencintai para nabi maka dia bersamaku. Barang siapa yang membenci pencari ilmu maka dia benar-benar telah membenci para nabi dan dibalas dengan siksa api neraka.

من حقر عَالما فَهُوَ مُنَافِق مَلْعُون فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة
Barang siapa yang melecehkan orang alim, dia termasuk orang munafiq yang dilaknat di dunia dan akhirat

وَقَالَ عَليّ رَضِي الله عَنهُ سَأَلت النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم عَن صَاحب الْعلم فَقَالَ هُوَ سراج أمتِي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة طُوبَى لمن عرفهم وأحبهم وويل لمن أنكر معرفتهم وأبغضهم وَمن أحبهم شَهِدنَا لَهُ أَنه فِي الْجنَّة وَمن أبْغضهُم أبغضناه وَشَهِدْنَا أَنه فِي النَّار
Ulama adalah pelita ummatku di dunia dan akhirat. Beruntunglah bagi mereka yang tahu dan mencintainya serta celakalah mereka yang menginkarinya keberadaanya dan membencinya.
Barang siapa yang mencintainya maka kami bersaksi untuknya di surga. Barang siapa yang membencinya maka kami membencinya dan menjadi saksinya kelak di neraka

يُوزن حبر الْعلمَاء وَدم الشُّهَدَاء فيرجح ثَوَاب حبر الْعلمَاء على ثَوَاب دم الشُّهَدَاء وَيُقَال للْعَالم اشفع فِي تلامذتك وَلَو بلغ عَددهمْ عدد نُجُوم السَّمَاء وَمن تقلد مَسْأَلَة وَاحِدَة قَلّدهُ الله يَوْم الْقِيَامَة ألف قلادة من نور وَغفر لَهُ ألف ذَنْب وَبنى لَهُ مَدِينَة من ذهب
Di timbang tinta ulama dan darah syuhada, (ternyata) lebih berat pahalanya tinta ulama atas pahala darahnya syuhada. Kemudian dikatakan kepada orang alim, berikanlah syafa’’t kepada murid-muridmu walaupun jumlahnya laksana bintang-bintang dilangit. Dan barang siapa mengikuti satu persoalan saja (taqlid), maka Allah memberikan seribu kalung yang terbuat dari cahaya dan diampuni seribu dosanya serta dibangun baginya sebuah kota yang terbuat dari emas.

Mengakhiri tulisan ini, sekali lagi saya mengajak anda, stop mencaci-maki para ulama. Selain akan membuat ilmu anda tidak berkah, juga anda akan dikarunia kehinaan yang luarbiasa. Wassalam

Penulis :
Doni Saputra
Santri Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo

Candra-malik-gusdur
By Qalama Institute

Gus Dur, Musuh Bersama, dan Kita

Qalama.com  ~ Ketika semakin banyak yang merindukan Gus Dur, saya akhirnya mengatakan, “Kau, aku, dia, kalian, mereka, kita adalah Gus Dur. Ya, kita semua yang seharusnya jadi Gus Dur, bukan hanya meneriakkan rindu dan menunggu.”

Itu pula yang saya seru kepada anak-anak muda di Cirebon dalam dialog publik bertajuk Begadang Inshomniyah, beberapa malam yang lalu. Tapi, sebenarnya mengapa kita rindu pada sosok KH Abdurrahman Wahid?

Saya yakin, kita memiliki jawaban masing-masing. Namun, sadarkah kita bahwa tak hanya beliau yang kita rindukan? Di alam bawah sadar, kita merindukan pula sosok musuh bersama. Karena musuh bersama itulah, kita bersatu dan bersama melawan.

Ya, memang tidak semua maju melawan. Tapi, setidaknya, terang terlihat musuh bersama kita ialah penguasa yang zalim. Nah, selepas era Reformasi, sudah tidak jelas lagi siapa musuh siapa kawan. Tapi, nanti dulu.

Siapakah sesungguhnya musuh bersama yang kita rindukan kini untuk menstimulan persatuan? Apakah penguasa yang zalim? Atau, kebencian yang menjadikan kita berbuat tidak adil?

Di Subang, dalam Begadang Inshomniyah pula, seorang pemerhati sosial mengatakan, “Kita perlu hati-hati, kini agama-agama lokal bangkit lagi dan lembaga-lembaga adat dijadikan kedok.” Terlepas dari benar atau tidaknya sinyalemen itu, saya kira kita perlu kritis.

Tahukah apa beda antara kita dan Gus Dur? Saya menanggapi, “Tapi, mengapa Gus Dur bahkan sampai dielu-elukan dan sangat dicintai para pemeluk agama lokal, penganut kepercayaan, dan masyarakat adat?”

Orang-orang tercenung. “Karena Gus Dur mampu mengambil batas antara wilayah privat dan publik. Dia membela hak beragama dan berkeyakinan setiap orang seraya berpesan: mari kita jaga bersama Tanah Air dan bangsa Indonesia.”

Petuah Ali bin Abu Thalib RA memang kontekstual. “Ia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan,” teguhnya. Kurang lebih, itulah yang diperjuangkan Gus Dur hingga beliau teramat dicintai banyak kalangan.

Gus Dur memperjuangkan hak hidup manusia, yang di dalamnya terkandung hak hidup sesuai agama dan keyakinan, dengan mengikatkan rasa persaudaraan.

Pada masa kepresidenannya, Gus Dur berjasa memperjuangkan Kong Hu Chu hingga mendapatkan pengakuan dari negara sebagai agama resmi. Hingga akhir hayatnya, Gus Dur bahkan masih mempraktikkan seni silaturahmi paling tinggi, yaitu tidak memusuhi siapa pun yang memusuhinya.

Beliau mengerti benar adagium “seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.”

Kini, hari-hari ini, justru kita sendiri yang terus-menerus mengembangkan rasa curiga dan kebencian. Mengutuk ujaran kebencian dan permusuhan dengan cara menunjukkan kebencian dan permusuhan pula. Melawan caci-maki dengan olok-olok. Menganggap siapa yang jatuh ke jurang kehinaan karena pernah salah, tak akan pernah bisa bangkit lagi untuk berbuat benar.

Kita suka menghukum seumur hidup. Sekali lagi, siapa sesungguhnya musuh bersama kita? Apakah penguasa yang zalim ataukah kebencian yang menjadikan kita berbuat tidak adil? Mungkin terlalu berlebihan menjadikan seseorang sebagai teladan dalam segala hal, apalagi jika itu justru menimbulkan fanatisme dogmatis.

Sebab, bukan hanya kita yang menyebut musuh sebagai bigot, mereka juga sah-sah saja menjuluki kita demikian, bukan? Atau, jangan-jangan, musuh bersama kita adalah ketidakjujuran?

Holland Taylor, sahabat Gus Dur, mengentak batin saya dalam Halaqah Internasional Gerakan Pemuda Ansor di Ponpes Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, yang mengangkat tema “Islam untuk Kemanusiaan”, pekan terakhir Mei lalu. Holland menegaskan,”Kita harus mengerti pokok masalah dan jujur terhadap masalah.” Sudahkah kita jujur?

Soal perang, misalnya. Sebagian dari kita menganggap perang sebagai perang belaka –dengan segala syak wasangka yang diyakininya– dan, tentu saya tulis ini dengan empati mendalam atas penderitaan para korban perang. Sebagian lagi berjuang melawan perang, bahkan dengan mengorbankan jiwa dan raga, serta harta benda –dan, saya tulis ini dengan penghormatan yang setinggi-tingginya pada pejuang dan syuhada.

Sebagian lainnya terus mengampanyekan perdamaian dengan mengupayakan aksi gencatan senjata dan aksi-aksi diplomasi lain. Sisanya memperjualbelikan senjata dan amunisi. Rasanya, kita bisa menebak siapa yang mengerti pokok masalah tapi tidak jujur terhadap masalah, yang bisa jadi malah berpura-pura tidak memahami akar persoalan.

Tapi, toh selalu ada yang mengail di air keruh, atau mengolah air keruh untuk dijual sebagai air minum.

Jika musuh bersama itu adalah penguasa zalim atau kebencian yang menjadikan kita berbuat tidak adil atau ketidakjujuran, benarkah kita rindu kepada salah satu di antara ketiganya? Bukankah selayaknya kita merindukan pemimpin yang adil dan berpihak pada keadilan, kasih sayang yang peduli dan tidak memecah-belah, serta kejujuran?

Benarkah kita sudah benar-benar memahami pangkal persoalan, dan jujur terhadap persoalan bangsa dan negara ini?

Alih-alih terus-menerus menyalahkan setan sebagai musuh yang nyata, kita sebaiknya memohon perlindungan pada Allah dari godaan dan keburukan nafsu-nafsu kita sendiri. Sebab, kezaliman, kebencian, dan ketidakjujuran, bahkan masih ditambah dengan kesombongan, bisa berkumpul pada diri seseorang.

Duh, jangan-jangan orang itu adalah kita. Na’udzu billahi min dzalik. Jangan!

Candra Malik budayawan sufi

Sumber : detik.com

dawam-rahardjo-gusdur-wahid
By Ahmad Jumaili

Saya dan Gusdur: Perseteruan dan Persahabatan

~ M. Dawam Rahardjo

Saya bukanlah orang yang pada awalnya berseteru dengan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, pertama kali mengenal namanya yang asli, Abdurrahman adDakhil, Abdurrahman Sang Pendobrak-dari buku biografi dan dokumentasi K.H. Wahid Hasyim, karya seorang cendekiawan sekaligus ulama, H. Abubakar Aceh-saya sudah menaruh perhatian dan harapan terhadap putra berdarah biru pesantren itu. Ketika itu saya berharap, orang muda itu kelak menjadi pemimpin Islam yang besar. Dalam jangka waktu yang cukup lama, saya tidak pernah berjumpa dengan orang muda itu, sampai pada suatu hari namanya saya kenal melalui tulisannya di halaman 3 Harian Kompas tentang peta kesusasteraan Arab modern, dunia sastra yang saya ingin mengenal lebih banyak, sebagai seorang peminat sastra.

Saya baru berkenalan secara pribadi dengan Gus Dur, melalui Abdullah Sarwani, ketika saya menjadi Wakil Direktur LP3ES proyek pengembangan pesantren. Ketika itu Gus Dur masih tinggal di Pondok Tebuireng sebagai Sekretaris Pondok dan saya memintanya untuk mengusulkan daftar nama para kiai yang bisa diundang untuk ikut serta dalam musyawarah besar pesantren di Hotel Tugu, Puncak. Dari forum itulah saya
berkenalan dengan para kiai besar, misalnya Kiai Ilyas Ruchyat, Kiai Sahal Mahfudz, Kiai Maimun Zubair, atau kiai penggemar keroncong, Kiai Najih Ahmad dari Pesantren Maskumambang.

Dari forum itulah lahir proyek-proyek pengembangan pesantren yang di era 70-an rawan dicurigai, baik dari kalangan pesantren maupun pemerintah. Ketika itu NU yang berbasis pesantren adalah sebuah kekuatan oposisi dalam Pemilu 1971, terutama karena tokohnya Pak Ud atau Yusuf Hasyim, paman Gus Dur, berasal dari dunia pesantren dan menjadi tokoh PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Program ini dicurigai bukan saja oleh pihak pesantren sebagai proyek kooptasi Orde Baru, begitu pun pemerintah mencurigainya sebagai alat PPP dalam melakukan oposisi, karena ternyata PPP dalam Pemilu 1971 memperoleh dukungan yang cukup kuat dari umat Islam dan keluar sebagai pemenang kedua dalam Pemilu sesudah Golkar.

Padahal, saya menempatkan diri sebagai agen pembaru mengikuti Cak Nur yang mencanangkan pembaruan pemikiran keagamaan dalam Islam pada tahun 1970, walaupun dalam program pesantren saya mengutamakan pembaruan sosial dan bukan keagamaan. Dalam kaitan ini, Gus Dur dan Pak Ud menjembatani saya dengan dunia pesantren.

Gur Dur maupun Pak Ud tampaknya percaya pada saya karena secara konkret saya turut mendidik kader-kader pesantren dalam pengembangan masyarakat. Metode yang saya pilih adalah membiarkan pesantren dikembangkan oleh orang-orang pesantren sendiri, saya tidak peduli bahwa mereka itu adalah kader-kader NU. Saya sebagai orang Muhammadiyah justru secara sengaja membina kader-kader NU agar NU menjadi organisasi kemasyarakatan yang kuat dalam melakukan modernisasi dunia pesantren yang dikenal tradisional dan konservatif itu. Salah satu cara yang saya tempuh adalah membangun perpustakaan dan pusat informasi dengan mendidik para pustakawan. Pengembangannya dikoordinasi oleh Perpustakaan Wahid Hasyim. Perpustakaan ini didirikan di lingkungan Pesantren Tebuireng. Sementara, nama Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur, saya usulkan sebagai nama perpustakaan karena ia adalah simbol ulama intelektual di kalangan pesantren. Di samping itu, ia pernah memimpin Pesantren Tebuireng itu sendiri.

Namun, pada suatu ketika timbul masalah antara saya dan Gus Dur. Pada saat itu ia dikabarkan melakukan konspirasi mendongkel Pak Ud sebagai pemimpin pesantren dan ia sendiri berambisi untuk menggantikan kedudukan pamannya itu dengan bantuan ibunya, Bu Wahid, kakak ipar Pak Ud yang sangat disegani, politisi perempuan anggota DPRGR yang fasih berbahasa Belanda. Sampai-sampai saya mendapat kabar, Pak Ud yang terkenal tokoh politik yang tegar itu menangis karena kena marah kakak iparnya. Tetapi celakanya, Pak Ud menuduh saya ikut membantu Gus Dur mendongkelnya, karena itu saya ditegur oleh Direktur LP3ES Tawangalun. Tentu saja saya membantah tuduhan itu walaupun saya memang bersahabat dan mendukung usaha-usaha Gus Dur mengembangkan pesantren. Tetapi untuk membuktikan kebenaran bantahan itu saya diminta untuk menarik Gus Dur ke Jakarta sehingga tidak mengganggu kestabilan kepemimpinan pesantren.

Saya pada waktu itu menyadari bahwa jika Pak Ud kehilangan kedudukan sebagai pemimpin pesantren, maka peran dan pengaruh politiknya di PPP akan goyah, tanpa basis. Saya sendiri mendudukkan diri saya dalam posisi yang netral politik, karena itulah saya juga tidak dicurigai oleh pemerintah. Sebaliknya, saya dipercaya sebagai mediator antara pemerintah dan pesantren. Saya pernah diundang oleh Pangkomkamtib Laksamana Sudomo ke rumahnya untuk mendiskusikan hal ini. Pak Domo waktu itu dikenal sebagai tokoh yang ditakuti banyak orang, sehingga saya terkejut hampir tidak percaya ketika mendapat telepon langsung darinya.

Dengan persetujuan Direktrur LP3ES, saya kemudian merekrut Gus Dur sebagai staf LP3ES menjadi penasihat dalam program pengembangan pesantren. Dalam persepsi Mas Tawang berdasarkan informasi dari pamannya sendiri, Gus Dur ini adalah seorang politisi yang ambisius dan lihai. Ketika menjadi Direktur LP3ES saya membina hubungan internasional di kalangan LSM internasional Asia Tenggara dan Asia Selatan. Saya banyak menyelenggarakan pertemuan-pertemuan dengan para aktivis LSM yang kebanyakan adalah tokoh-tokoh kiri, seperti Randy David, Jomo K. Sundaram, Martin Khor, Surichai, Suthi Prasechat, atau Sayed Husain Ali. Saya tentu tidak lupa melibatkan Gus Dur dalam pertemuan-pertemuan. Ternyata Gus Dur tidak canggung bergaul dengan orang-orang Marxis secara personal maupun intelektual. Karena itulah maka Gus Dur, selain Adi Sasono dan Arief Budiman dari Indonesia, berada dalam lingkaran kiri internasional. Saya melihat Gus Dur cepat beradaptasi bergaul dengan orang-orang kiri yang menjadi lingkungan intelektual saya. Padahal Gus Dur adalah tokoh Muslim. Karena itu Gus Dur di mata saya bukanlah seteru secara intelektual. Ketika kami, Sritua Arief, Tawangalun, Adi Sasono, dan saya sendiri, mendirikan Lembaga Studi Pembangunan (LSP), dengan dukungan Bang Ali Sadikin,
maka saya juga merekrut Gus Dur menjadi salah seorang staf, antara lain mengasuh jurnal ilmiah “Wawasan” bersama-sama dengan Nirwono yang berpikiran kiri. Di jurnal itu Gus Dur menulis profil Prof. Widjojo Nitisasatro, Ketua Bappenas saat itu. Dari tulisan itu terlihat Gus Dur memahami masalah-masalah pembangunan. Ia bukan hanya menuliskan profil tokoh, tetapi juga profil pemikirannya. Dalam bekerja, Gus Dur memanfaatkan sumber daya LSP untuk menerbitkan sebuah buku kumpulan karangannya mengenai pesantren, yang dokumen penerbitannya perlu dicari dalam rangka penelitian arkeologi pemikiran Gus Dur.

Sebagai penasihat saya selaku Direktur LP3ES, Gus Dur selalu melakukan perjalanan dari pesantren ke pesantren lainnya, menemui para kiai, ustad muda, dan para santri. Di sinilah terbangun kekuatan Gus Dur dalam memperoleh simpati dan dukungan, karena ketokohannya pada waktu muda. Pengembaraan silaturahmi yang dilakukannya tidak tertandingi oleh siapa pun di antara para kiai pesantren.

Dalam seminar internasional Indonesia-Timur Tengah yang saya organisasikan bersama Adi Sasono, saya juga memberi kesempatan pada Gus Dur untuk tampil sebagai pembicara bersama-sama dengan Pak Natsir mewakili Indonesia. Ia berbicara dengan bahasa Arab yang fasih, sedangkan Pak Natsir sendiri berbicara dalam bahasa Inggris, padahal Pak Natsir dikenal sebagai tokoh ulama. Inilah kelebihan ulama NU dalam penguasaannya terhadap bahasa Arab literer, terlebih Gus Dur adalah seorang pemerhati sastra Arab modern. Perhatiannya terhadap sastra ini ikut menunjang penghargaan saya terhadapnya, karena pemerhati sastra Arab Islam ketika itu hanyalah Ali Audah yang telah menerjemahkan berbagai karya sastra Arab Islam kontemporer.

Ketika masih duduk sebagai staf LP3ES itulah lahir rencana Gus Dur untuk menggantikan kedudukan K.H. Idham Khalid selaku Ketua PBNU. Saya sendiri tidak begitu memperhatikan ambisi dan kemampuan Gus Dur. Yang melihat potensi Gus Dur sebagai pemimpin NU yang baru adalah Aswab Mahasin, yang demikian mengagumi dan mengenal Gus Dur. Sebagai seorang yang punya pengetahuan mendalam mengenai agama, Aswab Mahasin mengetahui potensi Gus Dur sebagai pemikir Islam. Dialah yang banyak bercerita kepada saya mengenai rencana-rencana politik Gus Dur. Termasuk gagasannya mengenai “kembali kepada khittah” sebagai kendaraan ideologinya untuk mencapai jenjang kepemimpinannya di PBNU. Salah satu kecerdikan Gus Dur sebagai politikus adalah membawa Prof. Nakamura dari Jepang ke dunia NU. Padahal, Nakamura adalah ahli soal Muhammadiyah dan menulis disertasi yang terkenal mengenai organisasi ini yang ditulisnya di rumah K.H. Abdul Kahar Muzakkir, seorang tokoh Muhammadiyah dari Kota Gede pencetus gagasan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Saya sangat bersimpati dan mendukung gagasan kembali kepada khittah yang menempatkan NU sebagai organisasi sosial-keagamaan. Sebaliknya, saya tidak bersimpati kepada NU sebagai organisasi dan partai politik. Saya menginginkan agar NU menjadi kekuatan civil society. Karena itulah saya terlibat dalam pembinaan pesantren sebagai agen perubahan sosial. Namun demikian, saya merasakan bahwa justru ketika sudah kembali kepada khittah itulah warna politik NU makin kentara, karena dibawakan oleh Gus Dur sebagai politikus. Melihat minatnya di bidang politik, saya terus-terang kurang yakin tentang ketepatan Gus Dur sebagai Ketua PBNU. Ia lebih mencerminkan keintelektualan dan politik daripada keulamaan. Karena itu, ketika NU berada di bawah Gus Dur, NU berkembang menjadi kekuatan politik informal. Sementara itu saya lebih mendukung Gus Dur sebagai budayawan dan cendekiawan. Selain itu, saya banyak melibatkan kawan-kawan Indonesia dalam forum dialog INCI (International Non-government Group on Indonesia), sebagai tantangan dan tandingan IGGI (Inter-Governmental Group on Indonesia) yang merupakan organ penyaluran utang Indonesia kepada lembaga keuangan dalam konferensi-konferensi internasional di Eropa Barat. Di situ Gus Dur berkenalan dengan dua kelompok yang agak berseberangan, di satu pihak NOVIB sebagai organ Partai Buruh Belanda dan Friedrich Naumann Stiftung dari Jerman yang berhaluan liberal organ Partai Liberal Jerman. Dalam forum itulah kami berjuang melawan kemiskinan dalam rangka menegakkan hak-hak asasi manusia, hak-hak ekonomi dan hak-hak sipil. Sebagai Direktur LP3ES saya memegang posisi koordidator di antara LSM-LSM Indonesia maupun Asia Tenggara dan Asia Selatan. Dari forum-forum itulah maka Gus Dur mengembangkan peranannya sebagai intelektual organik, meminjam istilah Gramsci.

Saya mulai berseberangan dengan Gus Dur ketika ia mulai memainkan peranannya sebagai politisi. Di sini saya melihat Gus Dur dalam kepribadian ganda. Di satu pihak ia meletakkan posisinya sebagai budayawan dan cendekiawan organik, tetapi di lain pihak ia memerankan diri sebagai shrewd politician. Perseteruan itu mulai serius ketika ia menantang dan mengkritik pendirian ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang saya adalah salah seorang pendirinya yang paling awal bersama 4 orang mahasiswa fakultas teknik Universitas Brawijaya dan Bang Imad (Immaduddin Abdurrahim).

Saya sangat tersinggung ketika ia menuduh ICMI sebagai organisasi sektarian, padahal saya merasakan justru, secara politis, Gus Dur-lah yang sangat sectarian NU. Ia menyusup ke mana-mana dan menempatkan orang-orang NU dalam berbagai organisasi dan pemerintahan dengan kegiatan-kegiatannya sangat berorientasi
kepada kepentingan NU. Sementara itu dalam persepsi saya ICMI justru melakukan integrasi, yaitu antara santri dan abangan, orang pemerintah dan masyarakat, ulama dan cendekiawan, dan antara umaro dan ulama. Oleh Pak Habibie saya ditugaskan untuk membina kerukunan dan kerjasama antara organisasi keagamaan. Karena itulah saya secara rutin memimpin diskusi-diskusi tokoh lintas agama dengan meminjam ruang diskusi BKKBN. ICMI juga berusaha mengarusutamakan gerakan Islam dalam pembangunan dan kebangsaan. Pak Habibie sendiri adalah seorang nasionalis pengagum berat Bung Karno.

Perseteruan saya dengan Gus Dur memuncak ketika ia bersama-sama dengan Amien Rais dan Akbar Tandjung berkonspirasi menjatuhkan Pak Habibie dari kursi kepresidenan. Waktu itu saya mendapat informasi bahwa Gus Dur selalu menteror Pak Habibie dan menuduh ICMI sebagai organisasi monster yang sektarian dan anti Kristen. Sementara itu saya sejak SMP sudah banyak bergaul dengan orang-orang Katolik dan Kristen melalui perkumpulan peminat sastra muda. Secara kepribadian saya adalah seorang pluralis. Waktu sekolah di AS, saya ikut giat dalam organisasi kegerejaan Presbiterian dan punya banyak kawan di lingkungan Mormon.

Sejak mahasiswa saya sudah aktif di PP Muhammadiyah di Yogyakarta bersama Syafii Ma’arif. Namun demikian saya bergaul akrab dengan orang-orang Ahmadiyah dan banyak membaca literatur Ahmadiyah. Agaknya yang mempertemukan kembali saya dan Gus Dur adalah sikap terhadap Ahmadiyah. Ternyata Gus Dur juga menjadi pembela Ahmadiyah ketika komunitas ini dianiaya. Saya kemudian juga membela umat Kristen dari penganiayaan orang-orang Islam. Saya sendiri sama sekali tidak ragu dalam membela umat Kristen yang rumah ibadahnya banyak diserang. Gus Dur ternyata juga sudah lama membela umat Kristen dan kelompok minoritas. Dari situlah saya mulai merenung kembali jejak langkah Gus Dur yang tampak di mata saya tidak konsisten dan bagi banyak orang membingungkan.

Sekarang ini timbul jawaban, pemikiran Gus Dur itu visioner melampaui zamannya, sehingga tidak mudah dipahami. Saya sendiri berusaha mencari jawaban mengenai tiga hal. Pertama, mengapa Gus Dur menuduh kelompok lain sektarian, sementara ia sendiri sangat menonjolkan identitastnya sebagai orang NU? Kedua, mengapa ia begitu kuat membangun NU sebagai kekuatan politik, dengan mendhikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sementara itu menggiring NU kembali kepada khittah-nya sebagai organisasi sosial keagamaan dalam kerangka civil society? Ketiga, mengapa mencitrakan dirinya sebagai budayawan dan cendekiawan, tetapi dalam realitas ia memainkan peranannya sebagai insan politik dan begitu berambisi menjadi presiden RI?

Pertama, Gus Dur memang sangat menonjolkan identitas NU dalam arena pergaulan kemasyarakatan dankeagamaan, tetapi ia memperhatikan dart menghargai identitas kelompok lain dari agama lain. Bayangkan jika Gus Dur hanya menonjolkan pluralisrne dan multikulturalisme, maka ia akan terkena tuduhan yang berdasarkan fatwa MUI, bahwa pluralisrne itu merupakan sikap yang memandang semua agama itu sama, dan karena itu agama akan kehilangan identitasnya. Tetapi, ia pun tampak tidak suka dengan penonjolan identitas keislaman, karena akan rawan terhadap tuduhan fanatisme dan sektarianisme. Sehingga, ia iebih mernilih menonjolkan ke-NU-an sebagai salah satu saja dari simbol keislaman dalam konteks kebudayaan dan kemajemukan. Ikhtiar tersebut ia lakukan supaya tidak dituduh mengklaim monopoli keislaman. Karena itu, di lain pihak ia juga mengajak hargai kelompok lain, baik di lingkungan Islam maupun di luar Islam.

Gus Dur juga membesarkan NU dengan pengaruh kuat, karena dengan itu ia akan memperoleh dukungan dari kalangannya sendiri. Dengan kuatnya NU, maka ia bisa menjadi kekuatan pendobrak, melakukan terobosan terobosan dan mengambil sikap yang bisa kontroversi misalnya ketika ia atas nama NU meminta maaf atas Peristiwa pembunuhan besar-besaran terhadap warga PKI dan mereka yang dituduh PKI, di mana warga NU punya peranan besar.

Kedua, Gus Dur memang pelopor kembali kepada khittah dalam Muktamar NU Situbondo 1984. Langkah ini memang diperlukan agar NU tetap bisa menjaga jati dirinya dan tidak terombang-ambing oleh godaan politik, sehingga NU tetap akan menjadi orginasi sosial-keagamaan di arena civil society. Namun dalam perjalanan sejarahnya, NU juga merupakan komunitas yang memiliki aspirasi politik. Agar aspirasi ini tidak mengganggu NU-di masa lalu banyak kiai yang meninggalkan pesantren karena aktif di bidang politik-maka oleh Gus Dur disalurkannya melalui suatu
wadah partai politik. Selain itu, ia juga ingin menunjukkan bahwa PKB merupakan partai terbuka dan bukan penganut ideologi Islamisme yang mencita-citakan Negara Islam dan ingin memberlakukan hukum agama sebagai hukum positif.

Ketiga, Gus Dur memang menginginkan kekuasaan politik. Sebab dengan kekuasaan politik ia bisa berbuat banyak, misalnya mengambil keputusan untuk mengakui Kong Hu Cu sebagai agama dan menjamin hak dan kebebasan mereka menjalankan ajarannya. Jika mereka tidak diakui sebagai agama, misalnya sebagai aliran kepercayaan atau filsafat, maka orang-orang Tionghoa bisa meninggalkan agama leluhumya dan terpaksa masuk agama lain. Dengan kekuasaan politik yang dia punyai, Gus Dur dapat menjalankan politik multikulturalisme. Jika ia memegang kekuasaan, maka kejadian yang menimpa Ahmadiyah, komunitas Eden, atau penutupan rumah-rumah ibadah umat Kristen tidak akan terjadi. Dengan kekuasaannya ia juga bisa mendobrak TNI melakukan reformasi internal. Ia bahkan berani mengeluarkan dekrit pembubaran parlemen walaupun tindakan ini menjadi sebab kejatuhannya karena dianggap melanggar konstitusi, tetapi ia menuduh balik bahwa justru penjatuhannya itu justru yang melanggar konstitusi.

Sebenarnya saya sudah tidak lagi berseteru dengan Gus Dur sejak ia membela Ahmadiyah dan umat Kristen yang teraniaya. Saya juga mengakui sisi positif kepemimpinan Gus Dur dengan menyaksikan perkembangan NU dan lahirnya generasi muda NU progresif seperti Ulil Abshar-Abdalla, A Moqsith Ghazali, Zuhairi Misrawi, M. Guntur Romli, Kiai muda Maman Imanulhaq Faqieh, dan lainnya yang tampil berani dengan mengusung symbol liberalisme, pluralisme, dan sekularisme. Mereka itu saya pandang sebagai Gus Dur-Gus Dur muda yang mewarisi dan meneruskan perjuangan Gus Dur.

Saya mengakui Gus Dur sebagai seorang pembaru pemikiran dalam Islam, selain Cak Nur. Dan saya sudah merumuskan 10 poin pemikiran Gus Dur mengenai Islam dan kebangsaan sebagai dasar alasan saya menganggapnya sebagai orang yang memiliki konsep mengenai pemikiran Islam dan kenegaraaan serta kemasyarakatan. Saya menyatakan perubahan sikap saya itu ketika saya diminta untuk memberi sambutan dalam acara Ulang Tahun Gus Dur di Ciganjur. Saya juga menyatakan bahwa saya memahami mengapa sebagian generasi muda NU menganggap Gus Dur sebagai seorang wali.

Namun saya memiliki kriteria tersendiri mengenai siapa di antara pemimpin Muslim yang dapat disebut wali. Pertama, orang banyak merasakan bahwa kehadirannya membawa rahmat atau kasih sayang kepada sesama manusia dan makhluk Tuhan. Kedua, orang lain bisa melihai bahwa dirinya adalah wali, orang yang dikasihi Tuhan. Sedangkan kasih Tuhan itu tampak pada kasih orang banyak kepada orang itu. Ketiga, terdapat kesepakatan umat Islam maupun penganut agama lain
yang mengakui bahwa ia adalah seorang pemimpin atau guru bangsa. Penilaian itu tentu berbeda dari satu orang ke orang lain. Tetapi tanda seorang wali adalah bila pengakuan itu diperolehnya dari hampir semua orang.

Mengenai anggapan bahwa Gus Dur adalah seorang wali, saya mendapat informasi bahwa Gus Dur sangat marah mendengar orang menganggap dirinya sebagai seorang wali, sejajar dengan Walisongo. Ia tidak menyetujui sikap kultus terhadap seseorang, sekalipun kepada orang besar atau dirinya sendiri. Walau bagaimanapun juga, tetap saja ada yang menganggap Gus Dur sebagai wali, misalnya orang dekat Gus Dur sendiri, Gus Nuril, seorang kiai sekaligus pendekar pluralis yang sedang mengembangkan pesantren antaragama.

Ketika Gus Dur meninggal, pemerintah memutuskan hari berkabung dengan mengibarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari. Selama tujuh hari itu pula berbagai pesantren menyelanggarakan tahlilan dengan pengunjung puluhan ribu orang. Selama tujuh hari tidak habis-habisnya pemberitaan mengenai dan keistimewaan Gus Dur sebagai pendekar ‘hak-hak asasi manusia, dan pluralisme.

Mungkin di masa mendatang aJakartakan lahir tradisi haul Gus Dur setiap tahun di akhir tahun, dengan pengajian akbar memperingati Gus Dur yang dihadiri oleh anggota masyarakat dan para pemimpin dari semua kalangan yang berbeda agama dan kepercayaan. Ini akan menunjukkan kecintaan umat dan rakyat kepada Gus Dur yang merupakan tanda-tanda kasih Tuhan kepada Gus Dur. Di sini bisa terbukti sendiri bahwa Gus Dur adalah seorang wali Tuhan, seorang yang sangat dikasihi Tuhan. Semua orang akan memanggil dia “ya habibi” Vox Populi Vox Dei, suara rakyat suara Tuhan.

Jakarta, 15 Januari 2010

Damai Bersama Gus Dur (: Kompas, 2010)

(foto: koleksi Habib Chirzin

Dawam-rahardjo
By Ahmad Jumaili

Wirid

Dawam-rahardjoAkhirnya kuputuskan untuk pergi ke Pabelan saja. Ya, mengapa kok sulit-sulit memilih pesantren? Bukankah aku sudah demikian akrab dengan pondok yang terletak di Muntilan itu? Kiainya sahabatku. Barangkali di antara para kiai yang kukenal, dialah, Kiai Hamam Dja’far, yang paling dekat, dalam pikiran maupun perasaan. Lagi pula itulah pondok yang paling indah bagiku. Aku berkenalan dengan pondok ini kira-kira pada tahun 1973 ketika aku mula pertama mengunjunginya, atas anjuran Pak Ud.

Kukira aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dalam romantisasiku, pesantren itu mestilah rindang. Tapi jarang aku melihat pesantren yang halamannya masih ditanami pohon-pohon yang lebat. Dulu mungkin. Namun kini telah banyak ditebangi untuk memberi tempat pada bangunan baru yang umumnya ceroboh itu. Pabelan, sangat berbeda. Pohon-pohon di desa itu masih lebat. Malah Pak Kiai menambahnya dengan tanaman-tanaman baru. Ketika itu sedang musim menanam jeruk. Buah jeruknya besar-besar, tidak seperti biasa. Tapi ada juga ditanam pohon melinjo dan kemudian flamboyan.

Sebelum kuputuskan pergi ke Pabelan saja, aku sudah mempertimbangkan pesantren lain, terutama di Jawa Timur. Pernah kupertimbangkan untuk memilih Tebuireng. Pak Ud pasti mengizinkan. Suasana peribadatannya pun enak. Dalam lima waktu, masjid utamanya pasti penuh jamaahnya. Tapi aku pakewuh dengan Pak Ud. Jangan-jangan kedatanganku merepotkannya. Karena aku, maksudku istriku, pasti tak akan diizinkan untuk bisa memasak sendiri.

Aku juga pernah berpikir, alangkah indahnya bisa tinggal untuk beberapa hari di Gontor, Ponorogo. Tapi sudah lama aku di persona non grata-kan Kiai Zarkasi, gara-gara aku pernah mengritik pondok modern ini, karena sikap isolatifnya terhadap masyarakat sekelilingnya. Padahal sahabat-sahabat mudaku banyak yang alumni Gontor. Cocok aku dengan kebanyakan mereka itu, dengan pola akidahnya, akhlaknya yang manis-manis dan kepandaian mereka umumnya dalam bahasa Arab.

Lalu, oleh Pak Malik Fadjar, aku pernah dianjurkan pula untuk menengok sebuah pesantren di pantai utara Jawa. “Kiainya Muhammadiyah lho!” katanya. Dia pikir aku pasti cocok dengan cara berpikir kiai ini. “Kiainya gemar qira’ah dan tafsir,” ujarnya lagi sambil mengacungkan jempolnya. Pak Malik mungkin menyadari bahwa aku senang dengan qira’ah dan tafsir. “Cobalah ditengok dulu,” ia menganjurkan.

Sebuah mobil dengan sopirnya membawaku dan istriku menyusuri pantai utara Jawa. Sebelumnya, karena ingin menempuh jalan pintas, mobil sedan kecil itu menembus jalan-jalan kecil di antara bentangan tambak yang gemerlapan ditimpa sinar mentari pagi. Di sebuah kota kecil di tepi pantai yang panas tapi juga cukup rindang itu, bercokol pesantren itu. Di situ aku bisa “menghilang” untuk sementara waktu yang telah kurencanakan, pikirku. Tak mungkin bisa orang menghubungiku. Ketika orang mencariku, mungkin aku sedang berjalan-jalan dengan istriku di sampingku, menatap tongkang-tongkang mengapung di perairan. Kami berdua bisa menghafal wirid sambil menikmati debur ombak.

Karena aku tidak begitu sreg dengan situasi pondok yang kurang bersih itu, aku mengurungkan niatku. Dan tiba-tiba aku berpikir, mengapa tidak ke Pabelan saja?

Kurundingkan ideku dengan Hawariah, istriku. Ia tampak begitu senang. “Ke mana saja Mas pergi dan membawaku, aku akan senang. Kebahagiaanku adalah bila bersamamu Mas,” katanya mendukung dan membesarkan hatiku. Kata-kata inilah yang sering dikatakan kepadaku, hampir klise. Maka kulayangkan sepucuk surat kepada Kiai Hamam, mohon untuk bisa diterima. “Saya bersama istri mau nyantri barang sebulan, bila diterima,” kataku dalam surat.

***

Dari jalan raya Yogya-Magelang, aku naik dokar. Istriku memakai kebaya dan kerudung yang berenda kembang. Kerudung tradisional yang masih dipakai ibuku dan perempuan-perempuan desa. Wajahnya yang putih dan bulat seperti rembulan itu selalu tersenyum. Hatiku selalu hangat bersamanya.

Kami disambut dengan tawa lepas, khas Kiai Hamam.

“Mau belajar wirid? Ha, ha, ha,” tawanya berderai.

“Apa mau jadi sufi?” tanyanya lagi dengan nada senda gurau. Walaupun begitu tanggapan formalnya, tetapi Kiai Hamam penuh pengertian.

“Saya membutuhkan guru yang bisa membimbing, Kiai,” kataku.

“Siapa yang bisa jadi guru Mas Dawam?” jawabnya penuh keyakinan. Kami, dalam waktu-waktu sebelumnya, memang sering bicara mengenai tasauf dan filsafat, sebuah pembicaraan “tingkat tinggi”. Kalau berbincang-bincang, tentu sampai larut malam. Yang tadinya menemani kami, biasanya mundur satu per satu. Akhirnya tinggal kami berdua, hingga subuh.

“Saya ingin bisa wirid yang agak panjang,” kataku. “Juga ingin bisa membaca doa iftitah untuk pidato atau ceramah.” Kalau diminta ceramah keagamaan, aku sebenarnya malu jika hanya bisa membaca yang itu-itu saja. Syukur kepada Allah dan salawat untuk nabi, itu saja. Aku juga sering diminta untuk memberi khotbah Jumat. Bahkan juga khotbah Idul Fitri atau Idul Adha. Dan aku selalu menolak. Mereka tidak tahu bahwa aku tak bisa mengucapkan bacaan-bacaan yang diperlukan itu di luar kepala. Tahu mereka, aku adalah “tokoh Islam”, atau “cendekiawan Muslim”.

Akhirnya Kiai Hamam maklum juga. Tapi guru-guru muda yang pintar-pintar di situ, tak seorang pun bersedia menjadi guru mursyid-ku. Mereka hanya menuliskan doa-doa untukku. Malah mereka memberiku doa wirid bikinan Pondok Gontor yang ditulis sendiri oleh Kiai Imam Zarkasyi. Ternyata doa ala Gontor itulah yang paling bisa kuterima.

Ingin bisa baca wirid yang agak panjang. Itulah obsesiku. Dengan wirid itu aku akan merasa tak perlu lagi berdoa dan meminta sesuatu kepada Tuhan secara verbal. Kupikir, Tuhan itu Maha Tahu dan Maha Mendengar suara batin sekalipun. “Berzikirlah kalian akan Daku, niscaya Aku akan mengingatmu,” demikian tertulis dalam surat Al Baqarah ayat 152.

Karena tak ada yang bersedia menjadi guruku, akhirnya aku belajar sendiri saja. Tentu saja aku mengalami kesulitan, karena aku sudah tidak lagi lancar membaca huruf-huruf Arab. Tapi aku ini memang tolol benar. Mengapa aku tak melihat potensi istriku? Bukankah ia lulusan Mu’alimat Muhammadiyah Yogya yang terkenal itu? K.H. Yunus Anis dan K.H. Ahmad Badawi, keduanya pernah menjadi Ketua Umum Muhammadiyah, termasuk guru-gurunya.

Sungguh keterlaluan aku ini. Tidak pernah berpikir bahwa seorang perempuan itu bisa menjadi guru mengaji lelakinya. Maklum, aku selalu menjadi imam waktu shalat.

“Dengar baik-baik ya Mas! Aku baca pelan-pelan, Mas menirukanku,” katanya mulai menjadi guru mursyid-ku. Kalau ia membimbing doa wirid habis shalat, kedengarannya biasa saja. Tetapi kalau doa-doa untuk khotbah, memang agak janggal. Mungkin karena adanya persepsi bahwa perempuan itu tidak pernah jadi khatib.

Kalau shalat, tentu saja aku yang menjadi imam. Aku bangga sekali bisa menjadi imam istriku. Seolah-olah itulah tanda kelaki-lakianku yang sejati. Ketika berdoa, kami berdoa bersama. Kadang-kadang bacaanku dikoreksi. Ada kalanya aku jengkel dikoreksi. Apa ini karena pengaruh alam patriarki? Hawariah hanya tersenyum sabar dan terus membimbingku.

Di waktu magrib, isya dan subuh, kami selalu pergi berjamaah ke masjid. Tapi kami sering bepergian kala siang. Jadi tak bisa pergi ke masjid di waktu lohor dan isya, kecuali salat dhuha. Kami selalu menjalankannya. Sehabis subuh kami menderas Alquran bersama-sama. Hanya saja mengajiku terputus-putus, karena aku sering membaca terjemahannya. Aku bawa The Holy Quran, terjemahan dan catatan kaki Maulana Muhammad Ali. Aku paling matuk (cocok) dengan tafsir ini, rasional dan optimis.

Ketika matahari sudah terbit, ia mulai memasak sarapan. Aku keluar jogging yang sudah menjadi kebiasaanku itu. Lalu kami makan bersama. Sesudah masak, langsung ia mencuci piring. Dan aku menimba air sumur. Air dari pompa dragon bukan air yang baik. Jadi aku ngangsu sumur tetangga yang jernih, mengisi kolah dan ember persediaan untuk dimasak menjadi air minum. Setelah itu kami membersihkan halaman yang setiap pagi bertabur dedaunan yang rontok. Sambil menyapu, aku melatih hapalanku keras-keras agar bisa dikoreksi kalau salah.

***

Sayang sekali, aku datang ke Pabelan pada saat liburan. Jadi kampus kosong, tak ada santrinya, kecuali beberapa yang tinggal, mungkin untuk mengikuti kursus khusus. Tapi justru karena itulah kami seperti diberi kesempatan untuk bisa mandi di Kali Pabelan. Kali sepi dari santri yang biasa mandi di situ.

Air sungai itu mengalir bening. Batu-batuan besar kecil yang bertebaran membuat suara gemercik dialiri arus. Hawariah, seperti orang desa lainnya, memakai kain dan mandi di pancuran dan kali yang dangkal. Bagi orang yang biasa hidup di Jakarta, ini adalah suatu kemewahan. Ketika mandi, Hawariah seperti bidadari yang turun dari kayangan. Kain batik melilit ketat di tubuhnya yang basah. Rambutnya tergerai.

Di jalan pulang kami berbelanja di warung desa. Hawariah selalu berbicara renyah waktu membeli bahan-bahan kebutuhan. Karena itu ia memang lekas dikenal. Menurut perasaanku yang subyektif, istriku itu mungil, putih dan bersih. Posturnya seperti putri bangsawan atau mungkin berwajah “elitis” dalam bahasa masyarakat kota. Tapi penampilannya sederhana, seolah-olah ia tak sadar akan kecantikannya sendiri. Tak usah berusaha menampilkan diri, kehadirannya di desa itu sudah sangat terasa. Orang-orang melihat kami, waktu kami berjalan. Kadang-kadang mereka menegur. Orang lelaki tentu melihat kepadanya. Yang perempuan juga melihatnya, lalu menengok kepadaku seolah-olah ingin tahu siapa lelaki yang beruntung di sampingnya itu.

Ia rajin datang ke pengajian di rumah tetangga sebelah. Suatu ketika pengajian memutuskan untuk memperbarui tikar yang telah banyak rusak itu. Uang yang terkumpul agaknya masih jauh dari mencukupi. Istriku langsung bilang, ialah yang menutupnya. Baginya, uang itu tidak seberapa. Tapi bagi ibu-ibu di desa itu nilainya masih lumayan besar.

Di waktu malam sering terdengar suara berzanji. Inilah yang khas di desa itu. Penduduk desa umumnya memang jamaahnya NU. Tetapi pesantrennya beraliran reformis. Santrinya mengikuti wirid Gontor. Tapi imam masjidnya tetap berada di tangan kiai desa. Masjid pondok itu tetap dibiarkan seperti aslinya. Ini cocok dengan suasana desa yang rindang.

Kami sering ingin mengejar dari mana datangnya suara berzanji itu. Ada kalanya dari perhelatan perkawinan. Di waktu sore, menjelang magrib, kami mengejar suara salawat nabi yang dikumandangkan itu. Kalau tidak hujan kami jalan-jalan. Yang kami jumpai adalah langgar-langgar atau masjid-masjid kecil. Pohon-pohon kelapa meneduhi halaman masjid.

“Mas, bangun Mas, sudah subuh lho,” kata istriku membangunkan. Aku sebenarnya sudah mendengar suara azan. Malah sudah kudengar suara orang mengaji atau membaca sesuatu, dengan irama khas. Aku pun bangun, bergegas ke kamar mandi, mengambil air wudhu.

Tapi di luar masih sangat gelapnya. Tak ada lampu. Apalagi gerimis agak lebat turun. Kami pergi pakai lampu senter. Untung di Pabelan, tanahnya berpasir, jadi tak begitu becek. Kalau berjalan, tangannya pasti menggandengku, agak di belakang. Terasa benar aku menjadi lelaki, sandaran hidupnya. Memang sulit benar berjalan berdua dengan satu payung. Air pun tak bisa kami hindari. Aku seperti sedang berpacaran, dalam beribadah.

Aku bersyukur punya istri yang cocok. Coba bayangkan, jika istriku itu bukan “ahli ibadah”, repot. Aku tidak pernah menjelaskan maksudku nyantri seperti itu. Ia sudah tahu dengan sendirinya. Malah itu menjadi keinginannya juga. “Mondok” seperti itu lebih memberi kebahagiaan daripada piknik. Dengan beribadah berdua seperti itu kami sekaligus berpacaran, menunjukkan rasa cinta. Kami tidak pernah merasa sedang bertapa.

Sebelum meninggalkan Pabelan, Hawariah pamit. Para ibu pada semedot, dengan berat hati menerima pamitan itu. Beberapa waktu kemudian bu nyai menceriterakan betapa tetangga-tetangga di sekitar rumah tempat kami menginap itu, semacam “guest house” pesantren, sangat gelo kami meninggalkan Pabelan. Sangka mereka kami adalah penghuni baru. Mereka senang mendengar suara-suara yang terdengar dari pondokan kami. Suara orang mengaji atau kaset salawat dan doa yang dilagukan oleh Ustadz H. Salahuddin Benyamin dengan paduan suara perempuan-perempuan yang mengiringi atau alunan suara ustadz Umar Said yang merdu. Tapi yang paling terkesan pada mereka agaknya adalah pasangan kami berdua yang tampak runtang-runtung, seorang perempuan berkebaya dan lelaki yang selalu berkopiah.

***

Empat tahun kemudian, tak kusangka, istriku di panggil Allah. Kini, kurasakan dalam kenangan, itulah sepotong kenangan yang begitu indah dalam hidupku.

Istriku pergi untuk selamanya di kamar kami, di suatu subuh. Ketika itu istriku tak berdaya, sakit. Ia hanya bisa terbaring miring. Setelah salat sunat koblal subuh, aku pun bersalat subuh. Kubaca Al Fathihah, surat Al-Tin dan surat Al-Qadr seperti yang selalu dibaca imam di Masjid Pabelan, agar dia mendengarkan, seolah-olah kami sedang berjamaah. Aku yakin ia sedang ma’mum kepadaku. Belum sempat wirid, Hawariah telah memintaku mengelus-elus dengkulnya yang sakit. Ia seperti menikmatinya, karena aku mengelus-elusnya dengan mesra sambil membaca wirid.

Ketika aku kemudian keluar dari kamar, Yu Jum, pembantu yang merawat istriku, berganti masuk ke kamar. Beberapa saat kemudian ia berteriak-teriak dan meminta agar aku masuk ke kamar. Aku lihat istriku seperti telah tiada. Anakku lelaki yang memeriksanya merasakan bahwa mamaknya tak lagi bernapas. Nadinya pun tak lagi berdenyut. Tangis dua anak pun berderai bersama dengan tangisku dan orang-orang rumah.

Di hari kedua, sesudah kematian itu aku salat subuh di tempat yang sama. Aku pun membaca wirid yang dulu pernah kupelajari di Pabelan. Tangisku meledak. Wiridku tersendat-sendat di sela-sela sedu tangis yang berat. Terkenang olehku ketika aku sedang dibimbing olehnya, membaca wirid di Pondok Pabelan. Mungkinkah rohnya mencari jalan keluar lewat wirid dan elusanku di dengkulnya itu.

Masih segar dalam ingatanku kami berjalan bergandengan, sambil membawa payung dan lampu senter, sarimbit ke masjid, dalam hujan gerimis di waktu malam dan subuh, yang menyebabkan pakaian kami basah. Terkenang olehku kami bercinta dalam salat berjamaah berdua yang sudah menjadi kebiasaan yang indah itu. Sehabis salat dan wirid, ia selalu mengajakku bersalaman dan menciumi tanganku berulang-ulang. Dan aku pun mengecup keningnya.

Aku mengecup kedua mata-istriku yang terakhir kalinya ketika jenazahnya hendak digotong ke masjid sebelah, hendak disalatkan. Bulu matanya terasa dibibirku, seolah ia masih hidup.

Jakarta, 10 Oktober 1994

Pahingan-magelang-jawa
By Ahmad Jumaili

Save Pahingan, Save Tradisi, Save NKRI

Pahingan-magelang-jawaPahingan adalah kegiatan pengajian selapanan yang dilaksanakan setiap ahad pahing di Masjid Jami’ Kota Magelang Jawa Tengah.

Jamaah yang hadir pun bisa hingga ribuan orang dan bukan hanya berasal dari Magelang saja, kota-kota sekitarnya seperti Purworejo, Kebumen, Wonosobo, Temanggung dan Salatiga juga ikut meramaikan pengajian selapanan Ahad Pahing.

Seperti mahfumnya suatu pengajian, selalu ada pedagang yang menyertai dan ikut meramaikan. Awal mulanya, para pedagang tersebut merupakan bagian dari jamaah yang ‘Ngayuk’, ngaji sambil jualan. Namun lama kelamaan, banyak pedagang murni yang ikut bergabung untuk menjual barang dan makanan. Makanan paling identik dari semua yang dijual adalah ‘gebleg’ dan ‘kacang godhog’. Pengajian dan ‘Pasar tiban’ tersebut lama kelamaan kian melekat satu sama lain, saling bersinergi, membentuk suatu tradisi yang khas. “Berbicara mengenai Pahingan tidak saja soal pengajiannya, namun juga pasarnya. Begitu pula sebaliknya, keduanya saling berhubungan” ungkap Danu, salah satu penggerak komunitas Save Pahingan.

Polemik tahun 2016

Semangat program ‘Smart City’ dari Pemerintah Kota Magelang pada tahun 2016 silam yang berupaya memisahkan antara pengajian dan ‘Pasar Tiban’ yang mana nantinya pasar akan direlokasi, digabungkan dengan CFD di Rindam. Banyak alasan pemerintah kota yang mendasari program relokasi ini, diantaranya sebab adanya pasar tiban menjadikan pasar Rejowinangun sepi. Alasan lain, ada perda yang tidak memperbolehkan berdagang di area alun-alun, termasuk trotoarnya.

Ada beberapa kesalahan pemerintah kota dalam wacana program relokasi pasar tiban seperti :

1. Beranggapan bahwa pasar pahingan sama dengan pasar-pasar pada umumnya. Padahal, pasar ini bersifat spesifik, jelas melekat dengan pengajian pahingan dan telah berusia setengah abad lebih. Sehingga layak disebut sebagai cahar budaya non bendawi.
2. Alasan pemerintah kota yang mengatakan bahwa keberadaan pasar pahingan membuat pasar rejowinangun sepi merupakan alasan yang tidak logis dan tidak rasional. Bagaimana mungkim pasar yang hanya beroperasi selama 35 hari sekali menjadikan pasar yang setiap hari beroperasi menjadi sepi?.
3. Sisi ambiguitas pemerintah kota yang melarang pedagang pasar pahingan berjualan di alun-alun, sementara memberikan ruang luas untuk kuliner ‘Tuin Van Java’, angkringan dan pedagang-pedagang liar. Termasuk, saat Idul Fitri tiba, alun-alun bebas untuk berjualan selama 2 minggu. Lalu yang menjadi polemik di mata masyarakat, dimanakah azas keadilan yang ada?, begitu sekiranya.

Sebab didasari beberapa alasan tersebut diatas, maka munculah komunitas ‘#Save Pahingan’.

Penggerak daripada komunitas ini (#Save Pahingan), berangkat dari lintas sektoral baik profesi maupun agama. “Waktu itu, jumlahnya 12 orang” ingat Danu yang juga merupakan bagian dari komunitas #Save Pahingan.

Mereka melakukan perlawanan dengan mengajukan protes kepada DPRD, menggelar event Perfoming art, diskusi-diskusi, membuat polling, demo dan lain sebagainya. Termasuk menjalin komunikasi dengan Ganjar Pranowo, selaku Gubernur Provinsi Jawa Tengah.

Perjuangan untuk mempertahankan tradisi pasar pahingan cukup memakan waktu, tenaga dan pikiran. Termasuk beberapa kejadian intimidasi, demo dan lain sebagainya. Akan tetapi, setelah publik banyak yang mendukung gerakan #Save Pahingan ini, akhirnya Walikota menyerah dan membiarkan pasar tetap berjalan dengan syarat menggunakan konsep baru. Yakni, pedagang tetap tidak boleh berjualan di area alun-alun, namun dipindah di jalan raya depan Masjid Jami’, Kauman, Kota Magelang. Dan bersyukur, berkat antusias ‘pahlawan tradisi’ dan dukungan masyarakat untuk mempertahankan pasar pahingan, maka tradisi tersebut tetap berjalan hingga saat ini.

Komunitas #Save Pahingan ini pula yang kemudian melahirkan paguyuban diskusi lintas agama yang bernama Jamaah Kopdariyah. Hingga saat ini, keduanya saling melengkapi. Jamaah kopdariyah turut serta dalam menjaga, mempertahankan tradisi pahingan dan selalu melibatkan #Save Pahingan di setiap agendanya, begitupun sebaliknya, komunitas Save Pahingan selalu melibatkan ‘Jamkop’ di setiap eventnya yang diselenggarakan setiap 35 hari sekali.

Mari, jaga tradisi untuk kawal NKRI.
(Sumber narasi : tanya via WA kepada narasumber, Danu Wiratmoko, Vocalis Grup Band ‘Danu & The Last Winery’, penggerak komunitas #SavePahingan dan penggerak paguyuban Jamaah Kopdariyah Magelang Raya).

Terus tebarkan kebaikan, taburkan cinta kasih dan berbagi karunia, kedamaian untuk semua insan. Tetap bersatu dalam kebhinnekaan.

Save Pahingan, save tradisi, save NKRI !!

Vinanda Febriani
Siswi kelas XI di MA Ma’arif Borobudur
Netizen Jamaah Kopdariyah, Magelang Raya

Borobudur. Rabu, 23 Mei 2018.

By Ahmad Jumaili

Ruang Dakwah, Bela NU dan Ulama

 

~ Turmudzi

Sekitar bulan November 2017, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kementerian Agama RI mengungkapkan hasil penelitian bahwa, Habibi Rizieq dan Bachtiar Nasir cenderung lebih populer dan diidolakan aktivis pembinaan rohani Islam (Rohis) di Sekolah Menengah Atas (SMA) wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta (Viva online)

Kepopuleran Habib Rizieq yang merupakan Ketua Front Pembela Islam (FPI) dan Bachtiar Nasir sebagai Pimpinan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI bahkan mengalahkan tokoh Islam moderat seperti Prof. Quraish Shihab, KH. Mustafa Bisri. Bahkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin disebut tidak populer di mata pelajar aktivis

Penelitian dilakukan Puslitbang Kemenag RI memang baru dilakukan sebatas aktivis pelajar Rohis sekolah umum di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kalau kemudian penelitian juga dilakukan di seluruh sekolah umum di Indonesia, termasuk masyarakat umum, bukan tidak mungkin gejala dan fenomena sama juga terjadi

Meski sampel penelitian Kemenag hanya baru sebatas Jawa Tengah dan Yogyakarta, tapi hasil penelitian tersebut setidaknya memberikan gambaran bagaimana tokoh – tokoh Islam garis justru lebih mendapatkan tempat lebih istimewa di hati para pelajar daripada tokoh Islam moderat, yang dari sisi pemahaman keagamaan lebih kuat dan cara berdakwah lebih santun

Kepopuleran Habib Rizieq dan Bachtiar Nasir tentu tidak bisa terlepas dari aksi demonstrasi berjild – jilid atau lebih dikenal dengan aksi 212 menuntut mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dipenjarakan atas dugaan penistaan agama, dikomandoi dua orang tersebut dan berhasil menggalang ratusan ribu massa umat Islam ikut melakukan aksi

Meski demikian aksi demonstrasi tersebut sebenarnya merupakan momentum dan bagian puncak dari pengetahuan masyarakat termasuk pelajar tentang sosok Habib Rizieq dan Bachtiar Nasir, ditambah polesan gerakan arus informasi media sosial tidak terbendung, termasuk berita hoax.

Sebab sebelum itu kedua tokoh tidak terlalu banyak dikenal masyarakat maupun pelajar, tapi momentum aksi demonstrasi berjilid telah memberikan panggung bagi kedua tokoh, termasuk gerakan dakwah media sosial facebook, twitter, youtobe yang banyak disebarluaskan pengikut dan pembela Habib Rizieq

Peran Nahdlatul Ulama

Mengamati fenomena tersebut, keberadaan Ormas lslam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah termasuk Ormas Islam moderat lain, harus mulai banyak tampil ke permukaan, tidak saja dalam bentuk sikap dan kebijakan dijalankan, juga dalam bentuk tindakan dan gerakan nyata, mengambil ruang yang selama ini banyak dikuasi kelompok radikal, terutama dakwah media digital dan media sosial

Apalagi dengan maraknya bertebaran berita hoax (bohong) dan dakwah provokatif yang tersebar luas di media sosial, telah banyak mempengaruhi dan meracuni otak serta perilaku masyarakat menjadi bagian dari pelaku penebar ujaran kebencian terhadap lembaga, institusi pemerintahan maupun tokoh bangsa maupun partai politik

Bahkan tokoh agama sekaligus tokoh sentral Ormas Keagamaan NU maupun Muhammadiyah yang selama ini menjadi panutan, dihormati dan disegani masyarakat juga ikut jadi sasaran tembak para pelaku ujaran kebencian dan fitnah melalui berita bohong di media sosial secara masif

Kalau kondisi ini dibiarkan akan sangat berbahaya, tidak saja bagi Ormas NU dengan tokoh – tokohnya, digerogoti dan dibuat kropos dari dalam, dengan cara membenturkan sesama tokoh, termasuk membangun rasa tidak percaya di kalangan warga NU, baik terhadap organisasi maupun tokoh NU yang selama ini jadi panutan

Berita bohong dan fitnah media sosial juga bisa menghancurkan sendi kehidupan berbangsa yang dengan susah payah telah dibangun para pendiri bangsa. Ketika berita bohong telah mampu meracuni dan merusak sendi kehidupan berbangsa, maka tidak ada lagi, toleransi, tidak ada kebersamaan, tapi yang ada hanya kebencian dan permusuhan

Sebagai Ormas Islam terbesar, NU tentu memiliki tanggungjawab besar menjaga ulama dan NKRI dari ancaman kelompok radikal. Warga NU melalui kader mudah sudah waktunya bergerak melawan kelompok yang berupaya membenturkan ulama dengan masyarakat, ulama dengan pemerintah dan memecah belah persatuan bangsa Indonesia

Melakukan transformasi dakwah secara masif dari offline ke digital online melalui berbagai sarana media sosial tersedia, dengan mengetengahkan dan mempopulerkan ceramah keagamaan tokoh – tokoh agama, Kiyai dan Tuan Guru pesantren yang dari sisi keilmuan tidak diragukan, terutama Kiyai dan Tuan Guru NU dan Muhammadiyah yang tersebar di setiap Pondok Pesantren

Mengingat NU memiliki segudang ulama dan Kiyai penceramah yang tersebar di Pondok Pesantren, yang dari sisi keilmuan tidak diragukan, dengan gaya ceramah menyejukkan dan mudah difahami

Meminjam bahasa Ketua LTNU NTB, Aksar Anshori, sekarang ini ada upaya dari kelompok tertentu berupaya memisahkan warga NU dari organisasi dan tokoh – tokohnya, dengan cara pembunuhan karakter, itu sebab banyak warga NU kehilangan kepercayaan terhadap organisasi dan tokoh sendiri

Kalau ini dibiarkan, percayalah meski secara keorganisasian NU besar akan tapi kalau warganya tidak melek media, melek teknologi, maka akan kehilangan tempat dan kalah oleh kelompok kecil yang menguasai teknologi media sosial.

By Ahmad Jumaili

Menebak Media Pasca Milenial

~ Ahmad Jumaili

Demam Blackberry sudah berlalu tahun 2009, diganti Whatsapp dan telegram dan masuknya kita di era milenial. Beberapa sosial media seperti facebook sempat mau ambruk, tapi canggihnya strategi facebook membuat whatssapp akhirnya bisa diakuisi. Duet FB dan WA ini ampuh, buktinya facebook menguasai pasar, WA menguasai chat dan group. Instagram setidaknya terlihat berlari sedikit menyalip twitter yang kaku dan miskin inovasi, namun begitu, tampaknya keduanya sudah punya segmen sendiri-sendiri.

Dilain fihak, ada google dengan search engginenya. Google menguasai search enggine, melibas dan menenggelamkan Yahoo ke dasar samudra. Google hingga kini masih memimpin pasar iklan melalui beberapa produknya, google adsense, admob, playstore dan google youtube.

Satu produk google yang nampaknya akan segera terdisrupsi adalah Blogger. Melemahnya Blogger sesungguhnya tak lepas dari massifnya penyebaran Hoax melalui kanal-kanal blogcepot ini. Hal ini membuat orang kian faham, informasi-informasi dari blogger 80% sulit dipercaya, disamping kanal itu gratis, juga bias pembuatnya tak bertuan. Walhasil, sekarang orang-orang back to site, kembali memberikan kepercayaan pada media online yang jelas alamat dan managemennya.

Perubahan-perubahan terus berlangsung. Dulu orang banyak mengira, pasca marak blogger, lalu sosial media lalu massengger (WA dan Telegram) lantas media cetak dan elektronik (Tv-radio) dikiranya akan bubar. Tapi ternyata tidak. Bias Hoax yang merajalela, viralnya broadcast-broadcast sampah membuat banyak orang hari ini mulai muak dan kembali mempercayai media cetak.

Masa terus berlanjut. Pengusaha-pengusaha media cetak bisa sejenak bernafas lega, mereka merasa kepercayaan manusia telah kembali. Sosial media dan massengger mereka manfaatkan sebagai Influence agar berita-berita mereka dibaca. Disaat yang sama, ternyata mereka butuh sensasi, butuh eksistensi. Mereka mengikuti irama yang terjadi di kanal-kanal group-group WA dan Telegram.Tak mau kalah cepat dan tak mau kalah informasi. Fatal akibatnya, Media Cetak akhirnya ikut-ikutan menjadi penyebar Hoax. Kasus Republika menjadi contoh terkini.

Pasca Milenial

Setelah masa ini, pasca milenial, apakah media cetak akan kehilangan reputasinya juga? Hmm….lalu media apa yang bisa kita percaya hari ini.

Sekarang sudah mulai bermunculan situs-situs berita yang menggunakan metode muti user, satu web dikelola rame-rame. Contohlah Seword, Kumparan, Quereta, Kompasiana dan juga blog ini Qalama.com. Mirip-mirip Citizen Journalism, semua orang bisa daftar dan menulis sesuatu semau udelnya, tanggungjawab kebenaram informasi ada di masing-masing user.

Apakah cara ini yang akan mengganti cara-cara lama dalam pemberitaan? entahlah.

Esok lusa, mungkin akan muncul beberapa inovasi lagi, tekhnologi yang lebih canggih, boleh jadi di HP kita, secara realtime bisa kita nikmati langsung dari lokasi, tanpa quota, tanpa sinyal 4G. Ini mungkin saja.

Dus, disaat keterbukaan informasi seperti ini. Satu hal yang perlu kita jaga-jaga. Jangan mudah percaya, saat ini janganlan akun media sosial, seorang calon presiden saja bisa berbohong dan ikut menjadi produsen Hoax. Jadi mari kembali ke diri masing-masing. Jagalah dirimu dan keluargamu dari informasi-informasi Hoax.

By Fahmie Zaky

Pungut Hikmah Puisi Panas Sukmawati

~ Fahmie Zaky

Hingga detik ini, masih hangat pembicaraan soal puisi ‘panas’ Sukmawati Soekarno Putri. Pro-kontra terutama di Media Sosial bikin pekak mata dan telinga.

Yang pro Sukmawati, membela mati-matian bahwa puisi yg dibacakan Sukmawati itu bukan penistaan melainkan hanya ekspresi pribadi yang tertuang dalam bentuk puisi.

Saudari kandung Megawati Soekarno Putri inipun sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya lengkap dengan drama air mata. Namun bagi masyarakat yang terlanjur terprovokasi dalam rangkaian hujatan untuk puisi itu, mereka malah semakin kalap dan melaporkan Ibu putri Proklamator Soekarno itu ke polisi. Tangis Sukmawati rupanya mereka anggap Drama saja.

Salah seorang yang paling ngotot mempermasalahkan Puisi Ibu indonesia itu adalah Ketua Persaudaraan Alumni 212 Dedi Suhardadi. Dedi mengulang-ulang pernyataannya di media, ia sangat tersinggung dengan puisi yang dibacakan Sukmawati.

Sekarang, laporan Dedi itu sudah ditangan Bareskrim Polri, masyarakat tentu menunggu perkembangannya.

Jika dilihat Pasal yang diperkarakan Dedi, tampaknya ia ingin mengikuti jejak kasus Ahok yang berhasil dijerat dengan undang-undang penodaan agama 1945. Mereka yakin, pasal karet warisan Orde Baru itu bakal mudah menjerat Sukmawati.

Polemik tentang “puisi panas” ini masih terus berlangsung hingga detik ini. Pendapat dari arus yang lain, puisi Sukmawati tak lebih dari urusan remeh temeh yang dibesar-besarkan. Itu hanyalah puisi tak ada kaitannya dengan penistaan agama. Ini kata mereka yang membela Sukmawati

Suara yang lain, Puisi Sukmawati itu mungkin ada masalah, tetapi dia sudah minta maaf dan masyarakat diajak memaafkan. Sikap seperti ini disuarakan secara kompak oleh dua organisasi terbesar Islam, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Dus, bagi saya kasus tersebut ambil saja hikmahnya. Hikmah yang bisa kita pungut, minimal, bangsa Indonesia khususnya generasi muda mengerti bahwa Puisi itu bukanlah karya sembarangan. Puisi itu punya daya dobrak yang kuat. Maka kearifan bagi sastrawan-sastrawan untuk menciptakan puisi-puisi yang mendamaikan. Sudah lelah kita dengan segala bentuk pertikaian.

Salam Satu Jiwa, Nahdliyyin punya cara!