By Qalama Institute

Melawan Narasi Kengerian di Bulan Gusdur #

Ini bulan Desember. Ada lagu tentang Desember ceria. Di bulan ceria ini, tepatnya tanggal 30 Desember 2009, salah satu bapak bangsa, KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur), wafat. Bagi para pecinta Gusdur, Desember adalah bulan tempat mereka mengenang, mengapresiasi dan merefleksikan seluruh pikiran dan tindakan Gusdur. Ia adalah tokoh komplit yang dicintai semua orang oleh karena kiprahnya memanusiakan manusia. Ya. Desember ceria, Desember rileks, Desember lucu, sebab demikianlah Gusdur memandang hidup, lucu, lugas, tapi sarat makna. Bukankah manusia ini lahir dari proses kesenangan, keseruan bercampur kelucuan? Itu berarti Tuhan ingin menegaskan bahwa manusia diutus sebagai khalifah di bumi dengan cara2 yang rileks namun mengena. Dengan senyum tapi tegas. Dengan lucu tapi penuh filosofis. Hehehe..

Saya bayangkan Gusdur masih hidup, lalu pada suatu saat ketemu Bahar Bin Smith, penceramah yang tengah naik daun akibat suka mencaci dan terakhir karena mukul anak. Gusdur menjenguk Bahar di penjara. “Har, emang doa ente makbul. Ente pernah bilang lebih baik busuk di penjara. Nah, sekarang udah dikabulkan. Tuhan sayang sama ente, Har,” katanya.

Tapi kasus Bahar ini memang tidak bisa dianggap enteng. Bahar adalah bagian dari fenomena kekinian, gejala politik (Islam) identitas yang justru bertentangan dengan prinsip2 dasar bernegara sebagaimana aturan Islam. Jangan mengira Bahar berceramah tentang Jokowi banci hanya celetukan biasa. Narasi gerakan politik Islam di belahan dunia manapun ya begitu. Ada objek (pemerintah), ada landasan (ayat-ayat yang dimodifikasi sedemikian rupa menjadi pesan kebencian), lalu terakhir ada ajakan yang berkonsekwensi (yang mau dapat pahala, yang tidak mau dapat dosa). Bahar adalah bagian dari aktor itu. Itu sebabnya kepala saya pening saat orang melabelinya ulama. Tidak! Dia penceramah! Dia agitator! Lebih mungkin lagi, dia demagog!

Demagog adalah mereka yang kesana kemari kerjaannya menghasut. Mereka mencederai prinsip dasar kemanusiaan bahwa orang bisa baik bisa juga buruk. Maksudnya? Ada narasi pemalaikatan dan pengiblisan. Ada orang atau kelompok yang diibliskan selamanya. Pokoknya dia pada posisi salah selamanya. Tidak ada benarnya. Pokoknya iblis dah. Sebaliknya, ada yang dimalaikatkan selamanya. Pokoknya malaikat. Dia kencing di kepala orang aja nggak apa-apa, wong dia keturunan nabi. Nah, demagog punya peran membuat klasifikasi abadi ini supaya arena pertentangan akan terus ada, supaya pundi keuntungan dari praktek pertentangan terus mengalir. Nggak ada istilah saling menasihati dengan baik, lalu yang dinasihati menerima nasihat karena yang menasihati bicaranya baik.

Bahar, namanya seindah nama Anisa Bahar, si cantik pemilik goyang bergaji. Saya juga kalau ketemu dia akan bilang beberapa hal. Mungkin saya akan singgung soal patsun iblisisasi dan malaikatisasi itu. La, ada guru-guru saya yang secara sadar mendukung Jokowi, mereka diplot jadi iblis dong. Tega benar kau Har.

Kalau ketemu sama Bahar, saya juga akan berbagi kisah yang pernah ditulis Jalaluddin Rumi dalam kitabnya yang mashur, Matsnawi. Tentang seorang perempuan Yahudi yang galau memikirkan anak perempuannya yang sedang tertarik dengan Islam. Berbagai cara ia lakukan agar anaknya tidak masuk agama lain. Ia hampir putus asa. Suatu saat si anak ini mendengar suara azan dari salah satu masjid. Suara muazzin jelek sekali. Meski jelek, dia saja yang maju jadi muazzin. Suara azan yang jelek membuat si anak berubah pikiran. Ia tidak mau lagi mendalami Islam. Aha… Sang ibu senang sekali. Ia riang sekali. Pada suatu hari ia datangi si Muazzin itu. Ia bawa permen dan hadiah lainnya. Muazzin kaget, ada Yahudi yang membawakannya makanan dan hadiah. ” Terimalah. Ini bentuk syukur saya. Anak saya nggak jadi masuk Islam karena dengar suaramu,”. Mendengar itu, Bahar, eh maksud saya, si Muazzin, melongo.

Ini Desember ceria. Desember tempat saya mengapresiasi jejak perjuangan kemanusiaan Gusdur. Apa intisari ajaran Gusdur? Cinta! Itu sebabnya di tengah apa saja harus diselesaikan dengan bertengkar dan berkelahi ini, cinta penting dihadirkan. Ia akan merekatkan segala macam perbedaan yang ada. Ini mirip dengan cara aktivis unifikasi Korea setelah sekian lama menghadapi kebutuhan. Bagaimana caranya? Menghadirkan perempuan penari. Perempuan memang identik dengan cinta dan pesan damai. Ohh,, laki-laki Korea Selatan maupun Korea Utara terperangah, terpesona, lalu lupa dengan perdebatan-perdebatan tidak penting mereka. Mungkin dalam waktu tidak terlalu lama lagi, dua Korea akan bersatu. Berkat penari-penari perempuan itu. Hehehe

Kemarin saya melakukan percakapan imajinatif dengan Gusdur. “Saya ajukan satu pertanyaan, boleh? Begini lo, Gus, kenapa kebencian di Indonesia ini musiman? Kayak terjadwal dengan baik begitu. Misalnya, bulan Desember objeknya ini, Januari pindah ke itu, Maret atau April pindah ke yang lain. Begitu terus siklusnya. Tahun depan akan begitu lagi, tapi orang2 tidak menyadari siklus kebencian yang diulang – ulang itu. Kenapa begitu, Gus?”

” Ya kerja mesin kan begitu,” ungkap Gusdur simpel.

Aha.. Mesin Kebencian. Saya ingat tulisan lama saya soal bagaimana mesin kebencian bekerja. Sampai Pemilu dia akan semakin banyak memproduksi kebencian supaya kondisi berhadap-hadapan publik kian tajam. Siapa yang untung? Ya politisi lah.

Ini saya lagi membuka Fesbuk. Orang sedang ramai bahas umat minoritas Islam Uighur Cina yang kabarnya mendapat penyiksaan dari Pemerintah China. Sensitif membahas yang ini. Ntar kritis dikit dikira nggak peduli terhadap saudara seiman. Tapi ketimbang mengganjal, saya ajukan saja pertanyaan-pertanyaan. Mengapa tiba-tiba solidaritas Uighur menggema tanpa angin tanpa hujan pada bulan Natal ini? Mengapa tiba-tiba narasinya berbelok, bahwa pemerintah Indonesia tidak peduli terhadap nasib Muslim Uighur? Mengapa Uighur muncul saat tegang-tegangnya perang dagang antara Amerika dan China? Mengapa Uighur menenggelamkan kasus Kashogi di Arab Saudi dan kisah pembelian spare part senjata Israel oleh Saudi?

Ahh… Saya pusing, Gus. Saya mau ngopi dulu. Habis ini jumatan. Habis jumatan ada warga ngundang roah. Makan-makan. Semoga lapang kuburmu, Gus. Engkau adalah guruku. I Love You!

#Gerung

Oleh : Rasinah Abdul Igit

By Qalama Institute

Mendukung, Menentang atau Membiarkan?

Saya awalnya apolitik, tapi 10 tahun belakangan saya gregetan menyaksikan para politisi yang hilir mudik meminta dipilih rakyat tapi setelah terpilih meninggalkan rakyat begitu saja.

Situasi ini mengkhawatirkan, sebab, rakyat mulai apatis ke politik terutama kalangan muda milenial. Padahal, secara nyata, dalam situasi apapun, kita tetap tak bisa lepas dari politik.

Sekadar bercerita. Kita yang muda-muda ini biasanya baru bangun langsung cari HP. Kita sudah menggunakan pulsa, harga pulsa siapa yang tentukan? Para pengusaha, siapa yang mengatur perusahaannya? Tentu saja negara, kemana mereka bayar pajak dari pulsa yang kita konsumsi, negara. Negaralah yang punya kebijakan mengatur itu semua.

Beberapa menit kemudian kitapun ke kamar mandi, kita bersentuhan dengan Air PDAM, bersentuhan dengan sabun, shampo, sikat dan pasta gigi. Siapa yang menentukan harga-harga itu semua? Pengusaha, siapa yang mengatur pengusaha, negara!.

Remaja putri ke dapur, berurusan dengan cabe, terasi, beras, tomat, garam, minyak goreng dan segala kebutuhan dapur. Siapa yang menentukan harga-harga kebutuhan pokok itu? Negara.

Sejurus kemudian, kita sudah berangkat ke sekolah, ke kampus atau ke kantor, kita pakai kendaraan. Siapa yang menentukan harga bensin? Negara. Siapa yang menentukan pajak sepeda motor? Negara. Lalu mana wilayah kehidupan kita yang bisa terlepas dari politik?. Nyaris gag ada.

Kita bukanlah manusia pedalaman yang hidup di tengah hutan sendirian. Kita hidup dibawah kekuasaan sistem yang disebut negara. Negara memiliki lembaga-lembaga yang ikut menentukan masa depan kehidupan kita sampai sedetail-detailnya. Ada Presiden sampai kepala desa, ada DPR RI sampai DPRD Kabupaten.

Mereka yang menentukan kebijakan ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan. Mereka yang menentukan nasib petani, nasib guru, nasib karyawan, nasib usaha kecil kita dirumah, nasib adik-adik dan anak-anak kita yang tidak bisa kuliah.

Sayangnya, kita rakyat yang menjadi objek kebijakan tidak dianggap konstitusional jika hanya berkoar-koar diluar gedung. Ada proses politik yang mewajibkan kita memiliki keterwakilan dan bisa membawa suara atau aspirasi kita secara sah ke dalam gedung dan diperjuangkan menjadi keputusan-keputusan politik. Mereka-mereka inilah yang kita pilih dalam sistem demokrasi melalui partai dan pemilihan umum.

Kata Mahfud MD, karena sistem mewajibkan itu, maka dalam politik kita hanya punya tiga pilihan mendukung, menentang atau membiarkan alias tak mau ikut-ikutan (Golput). Sialnya, apapun pilihan sikap kita, semuanya akan tetap tunduk pada siapa yang menang.

Sementara ini, saya setuju dengan banyak teman-teman muda yang berfikir. Ah politik itu kotor, penuh tipu daya, penuh persaingan, kebohongan dan seterusnya. Fikiran itu muncul karena kita memang menyaksikan praktik politik yang ditampilkan para senior-senior kita di politik demikian adanya, vulgar dan nyakitin hati. Tapi apakah dengan begitu kita mesti Golput? Diam dan mendiamkan?

Saya kira tidak. Mestinya, masa depan kaum muda jangan ditentukan oleh orang lain, kita yang tentukan nasib sendiri. Saya ajak teman-teman memulainya, jika tidak, pada siapa lagi kita berharap?. Politik akan baik jika diisi orang-orang baik.

Semangat berjuang

AHMAD JUMAILI (MAJU7)

Calon “Legislator Muda” DPRD Kab. Lombok Tengah Dapil 2 Kopang – Janapria
Fb. @MAJU7UntukKebersamaan

By Qalama Institute

Pengumuman Peserta Social Media Marketing 2018

Berikut kami umumkan nama-nama peserta yang dinyatakan lulus seleksi Pelatihan Social Media Marketing Qalama Institute dan Kampung Media NTB
Tanggal, 24 November 2018

  1. Muhammad suhaimi – BKU Lombok Tengah
  2. Kis – Kute Lombok Tengah
  3. Muh. Mukhlis – Janapria Lombok Tengah
  4. Hamzaiturrahman – Penimbung Selatan
  5. Robi Purnawan – Janapria Lombok Tengah
  6. Lalu Hamidi Atmaja – Pujut Lombok Tengah
  7. Saprudin – Beraim Lombok Tengah
  8. Muhammad Kartubi – Kompong Pejanggik
  9. Wawan Hermansyah – Ampenan Mataram
  10. Moh. Ayup – Beleka Lombok Tengah
  11. Lalu Atmaji Satya Kawirian – Janapria Lombok Tengah
  12. Lalu denune anjar kurniawan – Kopang Lombok Tengah
  13. Rohmaniah – Janapria Lombok Tengah
  14. Linda Purnamasari – Ranggagata Lombok Tengah
  15. Pauzan Basri – Kayangan KLU
  16. Lalu Dedi Hartono – Selebung BKU Loteng
  17. Rina Kamiswariningsih – BKU
  18. Nova rozita – Sawing
  19. Baiq mita dwi putri kusumawardani – Janapria
  20. Baiq Marlia Andini – Kopang Loteng
  21. Efendi – Janapria Loteng
By Qalama Institute

Aku Membenci Maka Aku Ada

Kalau Descartes pernah bilang, “Aku berpikir maka aku ada,” di era media sosial ini, tidak banyak komentar dengan pikiran yang ditopang oleh argumen yang kokoh. Terlebih ada gagasan konstruktif di dalamnya. Malah yang kerap terjadi adalah: aku membenci maka aku ada.
Sistem berpikir di era virtual semakin mudah menemui ruang dialog, tapi begitu rentan menyiptakan permusuhan. Situasi semacam ini salah satunya dipicu oleh mudahnya menghakimi dan menyurigai pendapat orang lain. Prasangka-prasangka dijadikan sebagai dalil menyerang seseorang.

Di sinilah perbedaan antara ujaran kebencian dan kritik. Kalau kritik terbangun dari argumentasi yang kuat dan menyasar gagasan seseorang atau kebijakan sebuah lembaga publik. Sebaliknya, ujaran kebencian diarahkan lebih ke pribadi seseorang dan acapkali disampaikan tanpa argumentasi yang teguh.

Tulisan juga punya keterikatan dengan kaidah-kaidah berbahasa. Sementara di media sosial terjadi semacam tuturan yang dituliskan.
Berbeda dengan bahasa tulis yang dilisankan, itu mungkin akan lebih mirip pidato formal-seromonial. Bahasa di media sosial umumnya, baik dari diksi maupun struktur adalah bahasa lisan yang dipermanenkan dalam tulisan.

Hal itu terjadi selain karena tuntutan medium, juga karena desakan dalam diri untuk mengungkapkan serpihan perasaan dan pikiran dengan cepat. Media sosial memancing orang menerapkan paradigma berujar ke dalam tulisan. Karenanya apa yang ditulis juga kerapkali tak utuh. Di sanalah perkaranya.

Di forum-forum faktual, seseorang kadang dapat mengamati bagaimana emosi lawan bicara lewat bahasa tubuhnya. Semisal kita dapat melihat bagaimana cara lawan bicara memandang kita. Di saat seperti itu, ada situasi yang mengharuskan seseorang memahami atau setidaknya memerhalus ujaran. Meski tak sepenuhnya bebas dari ujaran-ujaran kasar bahkan pertengkaran.

Di ruang virtual malah sebaliknya. Seseorang merasa leluasa memilih bahasa yang merepresentasikan emosinya. Lebih terbuka tinimbang di ruang faktual. Di sana kita tak bisa menatap mata lawan bicara yang mungkin mampu membungkus ujaran kala ada yang tiba-tiba memancing emosi.

Di sisi lain sesungguhnya ujaran yang tertulis dalam media sosial adalah apa yang dipikirkan secara terbuka. Tak terbungkus dan terikat oleh semacam ketaksanggupan mengujarkan. Apa yang selama ini mungkin disembunyikan dalam kehidupan faktual, di media sosial tampak telanjang.

Di titik itu media sosial memberi ruang dialog dan silarurrahim yang sangat terbuka. Hanya saja pola silaturrahim dalam media sosial kerapkali tak terkontrol. Orang-orang umumnya menumpahkan apa yang dirasakan tanpa pertimbagan akal sehat.

Banyak di antanya belum mampu menyikapi segala perbedaan yang tiba-tiba mucul. Padahal bukankah perbedaan itu sejatinya sangat lazim ditemui di tengah lingkungan sosial?

Situasi semacam itu menyebabkan para netizen mendapat ruang melampiaskan kekesalan, amarah, dan kebencian. Sekaligus sebagai semacam cara menegaskan eksistensi diri. Akun lainnya juga merasa perlu menanggapinya. Tak jarang dengan tanggapan yang mengandung ujaran kebencian pula.

Ramainya ujaran kebencian saat ini bahkan berimbas pada eksistensi kebangsaan kita. Persoalan ini dapat dilihat sebagai ujian terhadap toleransi yang telah terbangun lama.
Persoalannya, kenapa toleransi kita begitu rapuh? Adakah suatu konsep dalam tradisi kita yang berupaya membendung ujaran kebencian dalam media sosial?

Dibutuhkan Pelempar Handuk

Semenjak lama, bangsa ini sudah menerapkan suatu sistem kekerabatan yang disebut sebagai musyawarah. Bahkan telah dibakukan oleh para pendiri bangsa dalam Pancasila. Nilai dari musyawarah bukan berdasarkan semata penunjukan eksistensi diri, melainkan eksistensi sebagai komuni yang menempati sebuah ruang bersama.

Lewat media sosial, batas-batas demografi dilampaui. Menembus dan menyingkirkan konteks jalinan ruang dan pijakan budaya dalam sistem kekerabatan tradisional. Eksistensi diri ditebalkan lewat sarana.

Media sosial sebagai semacam logika internal yang bagi Lyotar, dapat membalikkan penekanan dari tujuan tindakan menjadi sekedar sarana belaka. Persoalan-persoalan personal berubah menjadi ekstrapersonal dan semakin kompleks. Keterbelahan cara melihat diri sebagai warga negara, penganut agama dan perkara identitas lainnya. Bahkan intoleransi secara tak langsung memperoleh legitimasi lewat pembenaran-pembenaran yang tak jarang menggunakan pendekatan konspiratif.

Apa boleh buat, sistem kekerabatan dalam musyawarah kini termediasi oleh ‘media baru’ secara niscaya. Kita hanya melihat wajah seseorang dari akun media sosial masing-masing. Kehadiran tubuh dalam media sosial tak lagi menjadi prasyarat untuk membahas sebuah persoalan.

Akhirnya terjadi situasi yang menjerat orang untuk memertahankan argumen yang dibaca oleh jamaah lainnya. Barangkali lantaran tak rela di-bully dan merasa tak perlu mengalah saat banyak orang membacanya.

Dalam sebuah musyawarah, umumnya terdapat seseorang yang dapat memoderasi pelbagai perbedaan pendapat. Sementara di media sosial perselisihan terus berlangsung. Di saat semacam itu media sosial tak ubahnya seperti ring tinju.

Sebenarnya dibutuhkan seorang pelempar handuk untuk mengakhirnya. Lemparan handuk itu harusnya dilakukan setiapkali ada upaya untuk terus memertahankan diri, dalam kondisi (argumen) yang lemah.

Sayangnya pelempar handuk pun kadang-kadang tak didengar dan terjerat dalam dikotomi yang terbentuk. Dan para netizen biasanya enggan menanggapi pendapat yang lebih memoderasi. Akhirnya perbedaan pendapat di media sosial tak berujung. Ujaran kebencian semakin bergelayut.

Netizen akan lebih tertarik menanggapi komentar secara lebih emosional. Kalau tak demikian, bisa jadi seseorang tak akan dianggap ‘ada’ dalam perbincangan virtual. Dengan kata lain tak akan direspon oleh jamaah medsos lainnya. Sebab pertaruhannya sekali lagi adalah eksistensi diri dan kelompoknya.

Rupanya spirit kehidupan kota yang lekat dengan individualitas, semakin ditegaskan di media sosial. Di permukaan tampak bersama, tapi di balik itu orang-orang mengukuhkan kepentingan dan pikirannya masing-masing.

Di saat seperti itu sebenarnya spirit musayawarah dibutuhkan. Tidak hanya untuk merekatkan eksisensi bersama, melainkan juga sebagai ruang yang mampu memberi imunitas diri dari konflik (politik) yang dikemas dalam isu-isu primordial dan sektarian.

Siapa yang dapat mengakhiri ujaran kebencian? Tak lain adalah kesadaran untuk mengontrol setiap ujaran di media sosial.

Oleh Mohamad Baihaqi Alkawy
Kelompok Studi Sosial dan Kebudayaan (KlaSika)

By Qalama Institute

Qalama Institute Adakan Pelatihan Social Media Marketing Untuk Milenial

Kabar menarik untuk anda yang doyan online dan bersosial media. Sabtu, 24 November 2018 mendatang, Qalama Institute dan Kampung Media At Tabayyun akan mengadakan pelatihan “Social Media Marketing” dengan tema, “Cara Dahsyat Jualan Online di Sosial Media”.

Direktur Qalama Institute Ahmad Jumaili mengatakan, salah satu tujuan kegiatan ini adalah memberikan pemahaman dasar pada generasi milenial tentang dunia Internet Marketing dan Pemasaran di Sosial Media khususnya untuk generasi milenial.

Dikatakannya, milenial rata-rata mengakses Internet dan sosial media 10-12 jam sehari. Bahkan sebuah penelitian independen mengatakan, generasi milenial memegang smarphone mereka rata-rata 10-20 jam sehari. Ini artinya, mereka tidak bersentuhan dengan smartphone hanya 2-5 jam saja perhari.

“Waktu dan uang akan sangat banyak sia-sia jika bermedsos hanya update status galau dan lebay, kita ingin tau caranya bagaimana mendatangkan uang dengan aktifitas online ini” katanya

Jumaili menambahkan, dalam pelatihan nanti, para peserta tidak hanya dibekali teori-teori sosial media marketing tetapi juga langsung praktik jualan. Beberapa flatform yang akan digunakan adalah Facebook dan instagram.

“Para peserta diharapkan sudah memiliki usaha atau rencana usaha apa yang akan dikembangkan via Online, sehingga di pelatihan nanti peserra langsung praktikkan” Tambahnya.

Pelatihan yang akan dilaksanakan di Taman Baca Berugak Buku Pondok Pesantren Sirajul Huda ini akan menghadirkan Fairus Zabadi atau Abu Macel, yang merupakan motivator sekaligus ketua Kampung Media NTB, sebuah portal Media Online Jurnalisme Warga berbasis kampung.

Karena itu, Jumaili mengajak para milenial bahkan generasi Z untuk terlibat dalam kegiatan ini. Ia berharap, dari pelatihan ini lahir marketer-marketer handal yang bisa mandiri dan mengembangkan hobi bersosmed menjadi sesuatu yang positif.

Bagi anda yang ingin terlibat, silakan ikuti seleksinya dengan mengisi formulir berikut ini :
https://goo.gl/forms/joIoPslqCozJDuX03

By Qalama Institute

“Aik Meneng” Tak Mau Jadi Penonton

Dalam waktu dekat, Pasar Modern Jelojok Kopang akan segera dibangun. Dananya 79 Miliar. Dengan dana sebesar itu, saya kira pasar ini akan menjadi Pasar modern terbesar di NTB.

Proyek pembangunan Pasar Modern ini adalah “Gong” Baru pembangunan ekonomi Lombok Tengah. Apresiatif luarbiasa buat Abah Uhel dan Miq Hul atas keberaniannya selama ini membangun Loteng dengan hutang dan hutang termasuk pasar Jelojok.

Harapan publik, pasar ini nantinya akan membuka kutub pertumbuhan baru di Loteng. Jika selama ini pergerakan ekonomi hanya berputar-putar di Kota Praya, kedepan akan ditambah spot ekonomi baru ini di Kopang.

Setiap pembangunan, apalagi ini yang mau dibangun pasar modern, positif-negatifnya juga perlu diantisipasi. Terbukanya lapangan kerja baru, meningkatnya investasi terutama infrastruktur menjadi hal positif yang kita harapkan.

Tetapi jangan dilupa, pembangunan ekonomi pasti akan diikuti oleh perubahan struktur ekonomi masyarakat. Biasanya, dari ekonomi agraris akan berubah ke ekonomi industri. Sementara, rakyat masih berharap, pemerintahan Suhaili-Fathul Istiqomah dengan Roadmap Zonasi Loteng yang dulu diceritakan, wilayah utara Loteng (zona aik meneng) untuk pengembangan agribisnis.

Untuk itu, Pemda Loteng perlu kita ingatkan dari sekarang. Pembangunan Pasar Modern Jelojok jangan sampai mematikan potensi lokal, perlu langkah kreatif mensinergikan aktifitas masyarakat agraris untuk tetap sejalan dengan aktifitas ekonomi yang cenderung liberal dan kapitalistik. Kami yang tinggal di Zona Aik Meneng tidak mau nantinya hanya jadi penonton.

Wallahul Muwafiq Ila Aqwamit Thariq

Ahmad Jumaili
Calon Legislator Muda PKB Lombok Tengah

By Qalama Institute

Gagal Faham Soal Cadar

Pagi ini saya ingin menulis tentang niqob/burqa/cadar. Saya ingin menulis ini karena sedikit resah dengan semakin bertambahnya siswa SMK saya yang tiba-tiba menggunakan cadar.

Tapi sebelum kesitu, buat teman-teman yang mengidentikkan cadar dengan pemahaman tertentu, saya ingin katakan. Santri-santri saya, siswi SMK yang menggunakan cadar itu saya pastikan tidak karena pemahaman agamanya, tidak karena alasan ideologis, melainkan tak lebih dari sekadar mode, ikut-ikutan atau sekadar suka-suka. Saya pernah bertanya langsung ke mereka dan saya sangat sedih mendengar jawaban mereka.

Menurut saya, pemakai cadar yang ada di Indonesia termasuk santri saya, adalah orang yang gagal faham tentang Islam dan Arab. Orang-orang ini gagal memisahkan mana Islam mana budaya Arab, seperti pakaian, bahasa, aksara, bentuk rumah, arsesoris tubuh seperti rambut dan jenggot bahkan cara makan dan minum.

Budaya-budaya Arab itu sudah ada jauh sebelum Rasulullah Muhammad SAW lahir. Bahkan dalam sejarah Makkah kita bisa baca, sebelum Bangunan Ka’bah menjadi kiblat kaum muslimin, masyarakat Arab sudah lebih dulu memuliakannya. Begitu juga beragam ibadah seperti Puasa, Haji, penghormatan terhadap hari-hari dan bulan arab sudah ada lebih dulu daripada Islam.

Demikian pula perihal kehidupan beragama. Di Arab bukan hanya dihuni oleh ummat Islam, tapi juga ada agama lain seperti Yahudi, Nasrani, Majusi bahkan Atheis. Di Arab juga dihuni oleh banyak etnis dan suku, persis seperti Indonesia, punya marga-marga kesukuan. Hal-hal itu bisa kita baca kisahnya dalam banyak ayat Al Quran, Sirah dan Hadist Nabi.

Karena itu, Islam harus difahami sebagai satu hal dan budaya arab sebagai satu hal yang lain. Islam kita tempatkan sebagai salah satu agama orang yang tinggal di Arab, dan Budaya Arab kita tempatkan secara antropologis, sebagai salah satu bagian dari kehidupan masyarakat yang memang sudah ada sebelum Islam datang.

Ada beberapa budaya arab yang terakulturasi menjadi ajaran Islam misalnya Ka’bah, Qurban, Haji dan lain lain, tapi banyak juga budaya arab yang hingga sempurnanya dirurunkan Alquran tidak diakui bahkan ditentang oleh Islam seperti perbudakan, membunuh bayi perempuan, kawin-mawin saling mewarisi dan lain-lain.

Disamping itu, ada budaya-budaya arab yang memiliki irisan-irisan dengan Islam, seperti antara perintah menutup Aurat dengan Hijab dan Niqob (Cadar) atau perihal “sunnah nabi” soal jenggot dengan fakta orang arab yang memang suka menggunakan Jenggot.

Hari-hari ini, orang yang gagal faham soal kebudayaan ini lantas memiliki imaginasi tentang kehidupan nabi. Tetapi sialnya, yang diimajinasikan hanya budaya-budaya bangsa arab ketika nabi hidup, bukan imajinasi tentang keseluruhan kehidupan nabi. Salah satu contoh, Karena Nabi Muhammad orang arab yang menggunakan Gamis, lantas kita mengikuti gamis, dan itu dianggapnya sunnah, padahal itu budaya saja.

Begitu juga, nabi ketika berkomunikasi menggunakan bahasa arab, lantas ada yang mengatakan sunnah juga menggunakan bahasa arab dengan merubah kamu jadi antum, saudara menjadi akhi-ukhti, bapak-ibu menjadi abi dan ummi.

Karena soal-soal budaya ini tidak dianggap sangat penting dalam islam, maka dalam literatur utama Islam (Alquran dan Assunnah) tidak kita temukan hukum halal-haramnya. Literatur yang banyak membicarakanya justru kitab-kitab fiqh yang kemudian para ulama berdebat soal bagaimana hukumnya.

Yang dititikberatkan oleh keseluruhan ajaran Islam adalah substansi-substansi saja. Dalam soal kewajiban menutup aurat bagi perempuan misalnya, caranya macam-macam, ada yang pakai cadar, jilbab ada juga yang pake kebaya dan carik ala orang Indonesia atau pake pakaian Kimono bagi orang Jepang. Semuanya tujuannya menutup aurat.

Lebih jauh soal menutup aurat, nabi sendiri hanya memberi batasan-batasan sederhana bagi aurat perempuan. Gampangnya, nabi menyebut dua yang tidak termasuk aurat perempuan dan itupun hanya berlaku didalam shalat yaitu muka dan telapak tangan. Nabi tidak menyebutkan bagaimana batasan aurat perempuan ketika di rumah atau disekolah. Batasan-batasan itu, justru hanya bahasan dan perdebatan para ulama, yang tentu saja sangat subjektif tergantung perspektif mereka masing-masing.

Dus, saya tidak anti budaya arab, bahkan santri-santri saya beberapa orang menggunakan cadar tak satupun saya larang. Terlepas dari persoalan lain bahwa cadar semakin identik dengan permainan simbol Wahabisme sama persis dengan politisasi simbol La Ilaha Illallah oleh HTI, saya selalu proaktif memberikan pemahaman pada mereka.

Yang penting sekarang, anak-anak yang sebetulnya sudah bercadar dari SMP atau sekolah sebelumnya itu, dapat memahami substansi Islam dan mengerti duduk persoalan cadar. Saya berharap, merwka menggunakan cadar dengan sadar dan melepas cadar nantinya juga dengan kesadaran.

Hal ini sama pentingnya dengan memberikan jawaban kepada beberapa kawan yang menodong saya “memelihara Wahabi” di pesantren karena ada beberapa siswa SMK saya yang bercadar itu. Dan itu samasekali tak benar dan sudah saya jawab di paragraf-paragraf awal. Wallahul Muwafiq Ila Aqwamit Thariq.

Ahmad Jumaili
Ketua Harian Yayasan Ponpes Sirajul Huda Paok Dandak Desa Durian Janapria

By Qalama Institute

Kejujuran dan Kekayaan Bangsa

Baru-baru ini, sewaktu berada di Bangkok untuk memeriksakan diri, penulis tinggal di Rumah Sakit (RS) Bumrungrad. Nama rumah sakit itu dalam bahasa kita berarti rumah sakit rakyat. Padahal, RS tersebut sebenarnya untuk kalangan atas, bukan untuk rakyat.

Kebanyakan pasiennya orang-orang Arab kaya, yang kini tidak dapat masuk ke Amerika Serikat (AS). Alasannya ternyata karena nama mereka biasanya didahului oleh kata Ahmad atau Muhammad. Hal semacam ini juga dirasakan warga bangsa kita yang memakai nama Arab. Karena orang-orang Arab yang berobat ke AS biasanya orang kaya, ketika mereka berobat ke RS tersebut, Bangkok dan sekitarnya menjadi kaya juga.

Bahkan, RS tersebut kini telah dimiliki orang kaya dari Dubai, kota di kawasan Teluk Arab. Sebagai akibatnya, RS tersebut beserta daerah sekitarnya menjadi ‘daerah Arab’. Mungkin ini adalah harga mahal yang harus dibayar Pemerintah Thailand untuk memperoleh modal para saudagar Arab itu. Restoran-restoran di kawasan itu berpapan nama huruf Arab. Karena penghuni RS yang umumnya orang Arab, nama-nama sekian banyak barang di kawasan tersebut juga nama Arab.

Kita berjalan di kawasan itu rasanya seperti di Beirut, dengan begitu banyak musik Arab yang terdengar, padahal ini Bangkok. Seorang tamu menyatakan pada penulis, di kawasan tersebut ada restoran yang menjual makanan dari daging babi. Tentu saja restoran tersebut bukan untuk melayani orang-orang muslim. Langganannya adalah gadis-gadis muda Thailand penjaja seks yang beroperasi di ”kawasan Arab”. Semua itu dilakukan demi devisa yang diharapkan dari kawasan ini. Di tengah keadaan itu, penulis membaca sebuah majalah ukuran kecil, Reader’s Digest.

Di dalamnya ada sebuah artikel tulisan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy. Yang menarik dari tulisan itu, Sarkozy mengambil hikmah “pelajaran sejarah” dari masa modern AS dan Perancis. Sarkozy berbicara tentang bagaimana kemenangan politiknya diperoleh dari kemampuannya menilai sejarah modern dua bangsa tersebut. Karenanya, dia menunjukkan bagaimana dirinya jatuh bangun di dunia politik Perancis, melalui pengamatan yang teliti atas hidupnya sendiri. Dia mengaku dekat dengan mantan Presiden Jacques Chirac, tapi tidak mau jadi pengikutnya.

Bahkan dia justru menjadi pengikut saingan Chirac dalam Pemilu Perancis. Walaupun pada akhirnya dia menjadi pemimpin kampanye Chirac, dia tetap dapat memelihara independensi dari ketergantungan berlebih pada Chirac. Ini pula yang membuatnya mampu mengalahkan lawan dari kalangan sosialis, Segolene Royal. Lewat artikel itu Sarkozy mengemukakan keranjingannya terhadap AS. Dia menyatakan niat untuk belajar dari cara-cara orang AS dalam menerapkan sistem politik.

Dia kemukakan bagaimana di masa lampau bangsa Perancis mengambil teladan dari sistem politik AS. Beberapa kejadian penting di AS bahkan dinamakannya sebagai sumber inspirasi bagi Bangsa Perancis untuk menjadi pedoman mereka. Bahkan banyak hal yang diekspresikan sebagai “pola Perancis” sebenarnya merupakan pengalaman-pengalaman yang diambil bangsa Perancis dari bangsa AS.

Begitu pun kekagumannya terhadap konstitusi AS. Dari sekian panjang tulisan, ada hal yang dikerjakan oleh bangsa AS tetapi tidak dipaparkan Sarkozy sama sekali. Hal itu adalah batasan-batasan yang dipakai bangsa AS terhadap konstitusi mereka. Presiden ketiga AS, Thomas Jefferson, mengemukakan hak-hak individu dalam konstitusi bangsanya. Pembahasannya terus berlangsung dari zaman hidupnya hingga kini, antara lain tentang hak warga negara untuk kawin dan berumah tangga dengan sesama lelaki atau perempuan (perkawinan kaum homoseks).

Mereka tidak hanya dapat tinggal serumah, tetapi memiliki sejumlah hak seperti waris mewaris dan mempunyai anak. Sebaliknya, menteri keuangan presiden tersebut, yaitu Alexander Hamilton, mengutamakan hak-hak negara bagian (state), seperti Presiden Bush Jr sekarang ini. Kedua pandangan berlawanan itu berdialog tentang konstitusi AS, dari zaman Jefferson hingga sekarang,dalam waktu sekitar dua seperempat abad. Sebenarnya Sarkozy juga dapat belajar dalam mencari garis batas pembahasan bangsa Perancis atas konstitusi mereka.

Yaitu sebagaimana dilakukan Charles de Gaulle terhadap sistem politik Perancis, terkenal dengan nama Konstitusi Republik Kelima. De Gaulle tidak mau membahas sejarah Perancis kalau tidak mengenai kebesaran (grandeur) dan kejayaan bangsa itu. Namun, setelah kematiannya tidak ada lagi yang berbicara tentang seluruh sejarah hidup de Gaulle. Sarkozy, yang juga melupakan betapa hebatnya de Gaulle, mungkin tidak membaca sejarah de Gaulle sebagai pembawa pikiran segar bangsa Perancis.

“Kesepian” de Gaulle ini seperti kesendirian Mao Tse Tung dalam buku Stuart Schram yang menggambarkan Mao senantiasa merasa kesepian dalam hidupnya. Walaupun Mao selalu dikelilingi orang banyak, terutama dari Partai Komunis China (PKC), Mao selalu berujar, “Aku sendirian karena aku bersama rakyat.” Ini pula yang dikemukakan Napoleon Bonaparte menjelang kekalahannya yang kedua. Sejarah ini begitu sering terjadi, hingga manusia hilang dari muka dunia. Hal biasa dalam sejarah hidup manusia, bukan?

Bangkok, 14 September 2007
Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

By Qalama Institute

Takbir yang Salah Kaprah

TAKBIR mengalun memantik kerinduan di kala idul fitri. Takbir memadamkan gejolak dan murka dalam zikir yang tak berkesudahan. Bahkan takbir jadi semacam garis demarkasi antara apa yang bertendensi duniawi dan dimensi ukhrawi dalam sembahyang; sebagai jendela yang menutup segala kebisingan menuju keheningan.

Di sisi lain, cukup ramai sekelompok massa dengan lantang dan bertalu-talu meneriakkan takbir di jalan-jalan. Tak jarang takbir diselipkan dalam ceramah bernada tinggi dan berisi provokasi. Bahkan kerap terjadi persekusi sembari meneriakkan takbir.

Barangkali sekelompok massa tersebut menyadari namun tak sepenuhnya memahami bahwa takbir sebagai semacam doktrin teologis dan supremasi kekuasaan Tuhan. Mereka meneriakkan takbir nyaris dengan penuh keangkuhan dan penghakiman. Bahkan saat mereka melakukan aksi vandal sekali pun.

Dalam kehidupan sosial, terjadi semacam gesekan-gesekan kecil antara mayoritas dan minoritas. Gesekan-gesekan tersebut kadang dimanfaatkan oleh beberapa oknum. Kaum intoleran maupun elit politik yang punya segunung kepentingan. Bahkan keduanya kerapkali bertaut.

Barangkali kaum intoleran adalah mereka yang berangkat dari kedangkalan dan berakhir pada kecurigaan. Keretakan antara melihat realitas idealitas ajaran agama. Akhirnya sikap tersebut bermuara pada persekusi.

Kebangkitan kelompok-kelompok semacam itu tak jarang ditandai dan dimulai dari bagaimana memaknai takbir. Takbir yang diteriakkan saat melangsungkan aksi (persekusi) dengan penuh keangkuhan dan kekerasan. Kaum intoleran yang salah kaprah semacam itu berupaya meneriakkan takbir sebisa mungkin untuk menakut-nakuti.

Lewat takbir, kaum intoleran pada umumnya tengah mengukuhkan superioritas-nya di tengah kehidupan sosial. Seolah-olah mereka adalah pemegang otoritas kebenaran dan kekuasaan tertinggi. Padahal takbir itu memuji Tuhan Yang Maha Besar, bukan malah menegaskan keangkuhan manusia. Pada akhirnya takbir jadi identik dengan demonstrasi dan persekusi.

Dapat dipastikan, takbir yang diteriakkan oleh kaum intoleran bukan lahir dari kemurnian sebagaimana takbir di idul fitri, dalam zikir, atau dalam sembahyang. Melainkan lahir dari ambisi dan nafsu yang nyaris terus dipelihara dan dibungkus oleh simbolisasi kepuritanan.

Pada titik itu, makna takbir pun bergeser dan pada saat yang sama mereduksi kebesaran Tuhan itu sendiri. Takbir yang dibawa untuk kekerasan mengubah makna takbir sebagai pengakuan yang menegaskan kelemahan manusia di hadapan Tuhan. Nabi Muhammad sendiri meletakkan takbir sebagai dasar dalam membangun struktur masyarakat yang egaliter dan tanpa kekerasan.

Takbir sebagai akar perubahan dari jaman dehumanisasi menuju jaman di mana manusia diperlakukan sebagai manusia seutuhnya.

Setelahnya, tak ada satu pun manusia yang diizinkan melecehkan apalagi memersekusi manusia lain hanya lantaran berbeda pandangan dan keyakinan. Kebesaran dan otoritas Tuhan tak akan tertandingi oleh manusia macam apapun.
Reposisi Takbir dan Sikap Kita
Perlu diingat, secara umum ajaran Islam sangat memerhatikan kelompok yang mengalami eksklusi sosial. Ini menjadi semacam dasar doktrin sosial Islam yang tak bisa dilanggar. Sejalan dengan itu, takbir sebagai semacam prinsip bahwa tak ada seorang manusia dan makhluk apapun yang berhak memersekusi serta berlaku ‘semau-maunya’.

Asghar Ali Engineer dalam tulisannya “Tragedi Karbala dalam Perspektif Sejarah” menarik dan mengemukakan sebuah kisah. Ketika Nabi Muhammad SAW memerintahkan Bilal—seorang budak hitam yang dibebaskan—menjadi muazin. “Allahu Akbar,” kata Bilal. Ia meneriakkan kalimat itu, selain untuk memanggil umat Muslim sembahyang, ia juga tengah mengafirmasi dirinya; semua manusia harus diperlakukan sama.

“Allahu Akbar”, kata bilal kedua kali. Tak ada manusia yang berkulit putih atau hitam. Bermata sipit dan bukan. Hidung mancung atau pesek. Yahudi atau Nasrani. Syiah atau Ahmadiyah. Bilal telah merdeka. Tidak ada lagi tuan baginya. Ia dan manusia lainnya berkedudukan setara. Selain Tuhan, hak semua manusia itu sama.

Keberagaman (pikiran) yang diberikan Allah, sebagaimana dalam Qur’an, hanya sebagai media untuk saling mengenal, bukan saling mencurigai dan menjatuhkan. Kita tahu, hanya Allah Yang Maha Besar dan mengetahui apa yang terbaik bagi manusia. Tak ada manusia yang paling tahu apa yang paling benar di dunia. Sebab itu tak ada persekusi dan kekerasan yang dilegalkan atas nama agama.

“Tuhan tak perlu dibela,” menjadi semacam kredo pemikiran Gus Dur yang sangat masyhur. Kalimat tersebut meringkas sekaligus meringkus kita pada ajaran agama yang damai dan menyejukkan.

Sekaligus mengisyaratkan, kalau benar-benar percaya pada Kebesaran Tuhan, maka saya atau kita tak akan memosisikan diri superior, paling tahu atas kebenaran dan pemikiran orang lain sehingga merasa berhak membela agama dan Tuhan.

Artinya bilamana semakin banyak kasus persekusi terjadi, itu menandakan pemahaman dan perenungan terhadap kebesaran Tuhan masih dangkal. Karenanya tidak ada alasan untuk mendiamkan tindakan persekusi. Selain berlawan dengan ajaran Islam, sikap-sikap semacam itu bisa meruntuhkan sendi-sendi kebangsaan kita.

Secara kompleks, dibutuhkan komitmen bersama dalam menyelesaikan setiap persoalan tanpa persekusi, di tataran sosial maupun di tingkat elit, antar lembaga dan organisasi. Meski memang membangun komitmen dengan kelompok intoleran akhir-akhir ini tak mudah. Dibutuhkan keberanian dan ketegasan dalam menghadapinya. Baik lewat penyadaran agama-sosio-kultural, maupun bila perlu dilawan melalui perangkat hukum yang telah disediakan.

Kalau tidak demikian, ancaman kehancuran bisa datang kala orang-orang mulai menganggap bahwa persekusi yang membawa takbir sebagai slogan adalah bagian dari ajaran Islam. Karena itu, secara personal, takbir harus ditarik dan diposisikan kembali sebagai semacam afirmasi bagi kesetaraan manusia. Dengan begitu takbir dapat ditafsirkan dan diwujudkan melalui sikap rendah hati dan jauh dari anarki.

Bilamana takbir dipahami demikian, maka umat Islam khususnya tak akan mudah menghakimi orang. Tak mudah memonopoli kebenaran pikiran dan tindakan. Tak hendak bertalu-talu diteriakkan sebagai simbol keangkuhan. Dan orang-orang tak mudah terjerembap dalam jebakan intoleran.

Sebab itu, selain takbir, ada tasbih, kalimat puji-pujian atas Kesucian Tuhan. Bukankah Kesucian Tuhan menegaskan bahwa tak ada manusia yang layak menganggap dirinya paling suci dan menyucikan?

Oleh: Mohamad Baihaqi Alkawy
Qalama Institute, Aktifis KBI NTB

By Qalama Institute

Sumpah Pemuda dan Disrupsi Bangsa

Sumpah Pemuda adalah kisah konektivitas dan inklusivitas keragaman identitas di awal pembentukan bangsa Indonesia. Ini adalah kisah spektakuler dari perjuangan anak-anak muda dalam mengarungi jalan terjal multi-seleksi, dalam proses adaptasi terhadap tantangan kehidupan hingga tampil sebagai penyintas.

Untuk menggambarkan jalan panjang dan berliku yang dilalui manusia (muda) Indonesia, dari seorang individu menjadi warga bangsa, kita bisa meminjam deskripsi Jonathan Haidt dalam bukunya yang memukau The Righteous Mind : Why Good People are Devided by Politics and Religion (1202).

Kisah ini bermula dari anak-anak jajahan, dengan watak alamiah menyerupai simpanse yang mengutamakan kepentingan pribadi, harus berlomba untuk bisa menjadi “piyayi baru” (bangsawan fikiran) dalam sistem kompetisi masyarakat kolonial yang tidak fair. Pada etape selanjutnya, aneka diskriminasi yang dialami di sepanjang perlintasan menjadi “priyayi baru” mempersambungkan “kepekaan naluriah” (gut feeling) sesama serumpun menjadi semacam lebah yang berkerumun dalam “sarang” komunitas moral primordial (berbasis kesukuan-kedaerahan dan keagamaan). Pada tahap ini, terjadi pula proses perlombaan antara kelompok-kelompok komunal baru. Kemunculan organisasi pemuda-pelajar atas dasar solidaritas kejawaan, Jong Java, membangkitkan reaksi pembentukan organisasi-organisasi “tandingan” seperti Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun (pemuda Sunda), Pemuda Kaum Betawi, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond.

Kebangsaan-kewargaan
Dalam perkembangannya, proses seleksi dalam perlombaan antara kelompok- kelompok komunal ini mengalami proses transendensi karena adanya persamaan kepentingan dalam menghadapi kompetisi dengan musuh bersama yang lebih besar, yakni negara kolonial (“asing”) yang represif dan diskriminatif. Persepsi tentang adanya kepentingan bersama inilah yang mendorong terjadinya proses peleburan aneka komunitas primordial ke dalam suatu “sarang” komunitas moral dalam skala yang lebih luas. Maka, terbentuklah superorgnisme yang sangat gigantis, bernama “kebangsaan-kewargaan” (civic nation).

Jalan Indonesia menuju “kebangsaan-kewargaan” itu berbeda dengan jalan yang ditempuh oleh kecenderungan masyarakat Eropa. Dalam pengalaman Eropa, munculnya nasionalisme dilalui lewat proses sekularisasi dengan memudarnya pengaruh agama dan ikatan primordial lainnya (Rupert Emerson, 1960). Di sini, ketika nasionalisme bangkit, agama dan komunitas kultural lainnya memainkan peran penting. Kemunculan masyarakat sipil dan politik utamanya terlahir dari komunitas agama-budaya, bukan dari komunitas pasar. Jalan menuju nasionalisme kewargaan ditempuh dengan cara pengadaban masyarakat keagamaan dan kesukuan untuk bisa memasuki komunitas moral publik secara damai dan toleran.

Oleh karena itu, di negeri ini, jangan pernah mempertentangkan “kebangsaan” dan “keagamaan”. Komunitas-komunitas keagamaan bisa menjadi tulang punggung integrasi nasional karena kemampuannya mempertautkan keragaman suku dan kelas sosial secara vertikal oleh kesamaan aliran-aliran keagamaan. Dengan satu sentuhan lagi, berupa proses “sipilisasi” (lewat konektivitas dan inklusivitas aneka ormas keagamaan) dalam mengusung moral publik, Indonesia memiliki modal sosial dan modal moral yang bisa diandalkan.

Tentang pentingnya komunitas agama sebagai modal sosial ini mendekati gambaran Robert Putnam (2000) dalam konteks kebangsaan-kewargaan Amerika Serikat. Dalam pandangannya, keterpautan pada kelompok kecil, seperti sesama anggota gereja dan perkumpulan agama yang melibatkan aneka individu dan latar sosial, merupakan modal awal bagi afeksi publik. “Agama-agama membuat orang-orang Amerika menjadi tetangga dan warga negara yang lebih baik”. Bahwa “ramuan aktif yang membuat masyarakat Amerika lebih bajik adalah keterpautan mereka dalam relasinya dengan sesama komunitas agama. Segala hal yang mengikat masyarakat secara bersama ke dalam kerapatan jaringan rasa saling percaya membuat orang-orang kurang mementingkan diri sendiri”. Dan itu merupakan modal sosial yang amat penting bagi integrasi nasional.

Dalam kisah Sumpah Pemuda, proses peleburan ragam komunitas etno-religius ke dalam kesamaan komunitas kebangsaan-kewargaan yang lebih luas dimungkinkan oleh kesanggupan para pemuda untuk melakukan konektivitas dan inklusivitas.

Kemampuan konektivitas bisa dilihat dari keragaman latar sosiogragfis dari peserta Kongres Pemuda II ini. Keragaman kesukuan dan kedaerahan selain tercemin dari kehadiran organisasi-organisasi yang telah disebutkan, turut juga 2 perwakilan dari Papua (Aitai Karubaba dan Poreu Ohee) dan beberapa orang Tionghoa sebagai peninjau (Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie) serta satu orang sebagai wakil dari Jong Sumatranen Bond (Kwee Thiam Hiong). Representasi golongan keagamaan diwakili oleh Jong Islamieten Bond.

Kedatangan peserta dari berbagai wilayah di Tanah Air ini sungguh mengagumkan dalam kondisi ketersediaan infrastruktur perhubungan yang masih sangat terbatas. Sarana transportasi umum yang tersedia baru kapal laut dan kereta api. Meski demikian, keterbatasan konektivitas teknis ini bisa diatasi dengan kerapatan konektivitas mental-kejiwaan. Konektivitas mental-kejiwaan dimungkinkan oleh tersedianya ruang-ruang publik modern yang memfasilitasi perjumpaan antaridentitas. Ruang-ruang publik modern ini terentang mulai dari jaringan persekolahan dan klub-klub sosial bergaya Eropa, terutama di Bandung, Batavia, Surabaya dan kota-kota besar lainnya, yang memungkinkan para pemuda-pelajar dari beragam latar wilayah dan golangan bisa berinteraksi. Kedua, dalam kehadiran jaringan industri pers vernakuler yang memungkinkan diseminasi informasi, pertukaran pikiran, dan promosi agenda bersama.

Konektivitas mental-kejiwaan juga dimungkinkan oleh minat baca dan tingkat erudisi yang tinggi. Keluasan dan kedalaman bacaan memungkinkan para pemuda-pelajar bisa memahami dan menghayati persoalan yang berlangsung di tempat jauh, meski tanpa kehadirannya secara fisik, karena pengetahuan yang diperolehnya dari bahan bacaan. Dengan itu, para pemuda-pelajar bisa mengembangkan sikap empati terhadap nasib mereka yang berbeda identitas, yang memberi kemampuan mencari substansi bersama melampaui perbedaan garis identitas.

Konektivitas dan Inklusivitas
Dimensi inklusivitas dari Sumpah Pemuda tampak dari kesetaraan kesempatan bagi segenap peserta dari berlatar golongan untuk mengeskspresikan diri dan mengambil peran, dengan sama-sama terlibat dan menyepakati agenda dan keputusan bersama. Dalam perjalanannya nanti, semangat inklusivitas yang diwarisi dari jiwa Sumpah Pemuda ini, memungkinkan figur-figur utama Kongres ini memainkan peran besar dalam sejarah Republik. Sugondo Djojopuspito (Ketua Kongres), Muhammad Yamin (Sekretaris), Amir Sjarifudin (Bendahara), Johannes Leimena (Pembantu) menempati posisi-posisi penting seperti di BPUPK, KNIP, dan pos-pos kementerian negara atas dasar prinsip meritokrasi yang non-diskriminatif.

Bahkan Amir Sjarifudin, dengan latar Kristen, bisa menjadi Perdana Menteri. Johannes Leimena dengan latar minoritas ganda (Kristen dan Melanesia) menjadi orang dengan menduduki jabatan menteri (wakil menteri) terpanjang dalam sejarah republik (21 tahun), bahkan beberapa kali menjadi pejabat kepala negara.

Konektivitas dan inklusivitas bukan saja penting bagi integrasi nasional tapi juga prasyarat bagi kemajuan bangsa. Hal ini bahkan berlaku bagi kemajuan di bidang olah raga. Sebuah studi yang dilakukan oleh Simon Kuper dan Stefan Szymanski dalam Soccernomics (2018) menengarai mengapa tim sepakbola Inggris untuk masa yang panjang miskin prestasi di tingkat internasional, meski merupakan tanah leluhur sepak bola. Jawabannya bisa dinisbatkan pada miskinnya konektivitas dan inklusivitas dalam sepak bola di negeri tersebut.

Di Eropa kontinental, jarak antara satu negara dengan negara lain bisa ditempuh dalam 2 jam, yang memudahkan interkoneksi dan rangsangan saling belajar antarnegara. Kehebatan gaya sepakbola suatu negara dengan cepat dipelajari oleh negara lain dalam usaha mencari cara bermain yang lebih unggul. Dari sini muncullah pelatih-pelatih hebat seperti Arrigo Sacchi, Arsene Wenger, dan Pep Guardiola yang mampu meracik resep sepakbola secara sintesis-kreatif hingga melahirkan sepakbola yang efektif, atraktif dan sarat prestasi. Adapun Inggris, sebagai negara kepulauan yang terpisah, kurang terkoneksi dengan perkembangan sepakbola di negara-negara seberang. Untuk masa yang panjang, Ingris terus mempertahankan gaya sepakbola “hit and run” yang sudah kadaluarsa. Baru belakangan, setelah tim-tim Premier League menyewa pelatih-pelatih dari Eropa kontinental, gaya permainan tim sepak bola negeri tersebut mengalami perubahan berarti.

Selain itu, di banyak negara Eropa kontinental, tim sepakbola nasional dikembangkan secara lebih inklusif, dengan merekrut talenta-talenta terbaik dari berbagai lapisan sosial. Di Inggris, tim sepakbola nasionalnya cenderung eksklusif, diisi oleh para pemain dari latar kelas sosial yang sama, yakni “kelas buruh”. Kebanyakan pemain berhenti sekolah pada usia 16 tahun; nyaris tak ada yang pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi. Dengan demikian, potensi talenta terbaik dari kelas-kelas sosial lain tidak terengkuh. Dengan alasan yang sama, kita bisa menjelaskan bahwa salah satu faktor yang membuat bulu tangkis menjadi cabang olah raga yang paling berprestasi di Indonesia adalah karena basis inklusivitasnya yang kuat.

Untuk menjadi kekuatan kolektif yang kohesif, konektivitas dan inklusivitas ini harus dihela oleh kesamaan basis moralitas (shared values). Dalam konteks moral publik, kesamaan itu bisa ditemukan dalam 6 nilai inti dalam matriks moral. Care (peduli terhadap bahaya yang mengancam keselamatan bersama), fairness (keadilan dan kepantasan), liberty (bebas dari penindasan dan pengekangan), loyalty (kesetiaan pada institusi dan tradisi), authority (otoritas yang dihormati bersama), sanctity (hal-hal yang disucikan bersama).

Generasi Sumpah Pemuda memiliki titik-temu nyaris di semua butir matriks moral itu. Mereka sama-sama peduli terhadap bahaya penjajahan. Mereka sama-sama memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Mereka sama-sama mendambakan kemerdekaan dari penindasan dan represi. Mereka sama-sama punya kesetiaan pada bangsa dan tanah air. Mereka sama-sama memimpikan otoritas baru yang berbeda dari otoritas feodal dan kolonial. Mereka juga sama-sama menyucikan satu nilai yang dijunjung bersama, yakni nilai-nilai spiritualitas kegotong-royongan; bahwa persatuan harus diutamakan di atas perbedaan.

Keterpautan pada komunitas moral bersama ini dikukuhkan oleh keterpaduan simbol dan identitas kolektif kebangsaan. Dalam masyarakat mejemuk, memang diperlukan adanya rekonignisi politik dan politik rekognisi yang menjamin kesetaraan hak bagi setiap kelompok etnis, budaya dan agama. Meski demikian, kehadiran aneka kelompok komunal itu tidak boleh dibayar oleh ongkos yang mahal berupa fragmentasi masyarakat. Oleh karena itu, setiap kelompok dituntut untuk memiliki komitmen kebangsaan dengan menjunjung tinggi keyakinan, nilai, norma, simbol dan institusi bersama. Karen Stenner (2005) mengingatkan bahwa politik dan pendidikan multikultural yang terlalu menekankan perbedaan membuat orang tambah rasis, bukan menguranginya.

Bagi generasi Sumpah Pemuda, usaha mempertautkan kebinekaan ke dalam persatuan itu dilakukan lewat pengakuan akan aspek-aspek kesamaan (similarity): kesamaan tumpah darah, bangsa, dan bahasa persatuan. Persatuan juga ditumbuhkan dengan mengupayakan keterpaduan (synchrony), dengan jalan menumbuhkan afeksi publik lewat pengibaran bendera dan lagu kebangsaan yang sama.

Lagu Indonesia Raya yang semula disepelekan pemerintahan kolonial sebagai lagu keroncong yang tak menggugah, terus-menerus dinyanyikan di berbagai kesempatan, sehingga lambat laun menjadi pembangkit emosi kebangsaan yang sama. Semua kerangka kesamaan dan keterpaduan itu makin solid manaka kebijakan kolonial makin represif yang menumbuhkan kesamaan blok nasional. Dengan pekikan yel bersama, “merdeka atau mati”, energi persatuan berhasil merebut kemerdekaan, yang melambungkan anak-anak jajahan sebagai penyintas.

Ancaman disrupsi
Jalan panjang proses menjadi bangsa itu harus kita hayati manakala Indonesia hari ini menunjukkan tanda menghadapi ancaman disrupsi kebangsaan. Meski konektivitas fisik mengalami kemajuan dengan pembangunan infrastruktur perhubungan dan penggunaan sosial media yang sangat intens, namun konektivitas mental-kejiwaan mengalami kemunduran. Dunia persekolahan dan media yang dulu menjadi jendela keterbukaan bagi pergaulan lintas-kultural dan pertukaran pikiran, saat ini mengalami gejala pengerdilan. Pelemahan minat baca dan erudisi menyempitkan daya jelejah pemahaman, yang menumpulkan sikap empati terhadap yang berbeda. Gejala eksklusivitas meluas dengan tumbuhnya pusat-pusat pemukiman, sekolah dan dunia kerja dengan segregasi sosial yang curam.

Komunitas moral bersama mengalami retakan karena memudarnya komitmen untuk menetapkan dan memelihara moral publik. Basis moral organisasi-organisasi sosial-politik tidak begitu jelas. Dari enam nilai dalam matriks moral publik, satu-satunya yang relatif terus diagungkan adalah nilai kebebasan (liberty). Selebihnya, tidak tampak keseriusan mempedulikan apa yang mengancam keselamatan bersama. Sulit menemukan basis sosial yang gigih memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan umum. Terjadi peluluhan loyalitas terhadap institusi-institusi dan tradisi kebangsaan. Penghormatan terhadap otoritas hukum dan kepemimpinan merosot. Keluhuran budi untuk merawat hal-hal yang “disucikan” bersama pudar.

Narasi publik tidak mendorong konvergensi, malah menyulut divergensi. Polarisasi politik yang kian meruncing mengeraskan perbedaan yang menyulitkan perjumpaan. Harus lebih banyak usaha sepacam peristiwa Asian Games yang menumbukan similaritas dan keterpaduan dari keragaman Indonesia. Kompetisi dengan bangsa bangsa lain bukan saja bisa memacu prestasi, tapi juga bisa mentransformasikan konflik-konflik persaingan internal menuju kontestasi dengan “lawan” bersama dari luar. Persepsi tentang kepentingan bersama memang tidak hanya bisa ditumbuhkan lewat nasionalisme negatif-defensif (melawan musuh dari luar), bisa juga dihidupkan lewat nasionalisme positif-progresif (membangun agenda kemajuan, keunggulan dan persemakmuran bersama).

Selain itu, harus lebih banyak ruang-ruang perjumpaan yang memungkinkan warga bisa melintasi batas-batas identitas. Institusi-institusi demokrasi harus ditata ulang dalam kerangka memperkuat persatuan dan keadilan. Kebebasan sebagai hak negatif (bebas dari) harus ditransformasikan menjadi kebebasan sebagai hak positif (bebas untuk), agar segala keragaman dan potensi bisa diolah menjadi sumber kemajuan dan kebahagiaan hidup bersama. Peringatan Sumpah Pemuda harus bisa menangkap apinya, bukan abunya!

Yudi Latif
Pengurus Aliansi Kebangsaan

Kompas, Sabtu, 27 Oktober 2018