By Qalama Institute

KBI Cetak 40 Jubir Pancasila, Jumaili Dipilih Sebagai Presidium

Praya, Qalama.com, Komunitas Bela Indonesia (KBI) adalah gerakan nasional yang berisi anak-anak muda milenial yang peduli Pancasila dan berjuang bersama-sama melawan ujaran kebencian dan hoax, baik yang menyebar didunia maya maupun dunia nyata.

Hal tersebut diungkapkan Koordinator KBI Indonesia Yusep Munawarahman disela-sela pelatihan Juru Bicara Pancasila yang diadakan KBI Pusat bekerjasama dengam Qalama Institute Lombok pada 18-22 Oktober 2018 lalu di Dmax Hotel Praya.

Yusep mengatakan, orientasi KBI adalah mencetak kader-kader muda yang mencintai Indonesia serta mau ikut serta melakukan kampanye-kampanye positif untuk terwujudnya indonesia yang damai dan toleran.

Dikatakanya, ujaran kebencian dan Hoax saat ini hampir menjadi keseharian masyarakat Indonesia terutama di Sosial Media. Karena itu, KBI menginisasi program-program positif seperti memperbanyak perjumpaan kebhinekaan, melatih anak-anak muda bagaimana mengisi dan mengelola media sosial serta memberikan ilmu debat baik di dunia nyata maupun Internet.

“KBI ingin, diantara mainstream generasi muda yang hanya mengkonsumsi dan memproduksi informasi-informasi negatif, ada sekelompok anak muda yang melawannya dengan isu-isu kreatif dan positif” ujarnya.

Berhasil mencetak 40 Kader KBI NTB

KBI berhasil menelurkan 40 Juru Bicara Pancasila yang siap bekerja positif untuk membela Indonesia dan NTB dalam isu-isu kemanusiaan, keadilan, kebebasan dan penanaman faham terkait nilai-nilai yang dikandung oleh Pancasila

KBI Pusat selama 4 hari mulai 18 Oktober sampai dengan 22 Oktober 2018 lalu, sukses melatih 40 orang Juru Bicara tersebut di Hotel DMax Praya Lombok Tengah.

Untuk membekali peserta, KBI Pusat menghadirkan intelektual sekaligus dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. KH. Moqsith Ghazali, MA. Moqsit menyampaikan materi argumen – argumen keagamaan hubungannya dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 45.

Sementara itu untuk materi manajemen media sosial, KBI menghadirkan aktifis Safenet Matahari Timoer dan Ahmad Nurkholis untuk kemampuam menulis dan debat.

Di sesi Rencana Tindak Lanjut, 40 Peserta yang telah resmi menjadi anggota KBI NTB tersebut merencanakan berbagai program lanjutan yang akan didukung langsung oleh KBI Pusat.

Beberapa kegiatan yang berhasil direncanakan antara lain, Kemah Kebhinekaan, Lomba Cerpen dan Vlog serta penanaman 1000 Pohon Mangrove di kawasan Sekotong Lombok Barat. kegiatan-kegiatam ini nantinya akan disatukan dalam event besar bernama Pesona Kebhinekaan Lombok Sumbawa 2019.

Diakhir acara, semua peserta membaca deklarasi Komunitas Bela Indonesia serta menunjuk Ahmad Jumaili sebagai Presidium Komunitas Bela Indonesia NTB periode 2018 – 2022.

By Qalama Institute

Moqsith Ghazali; Generasi Milenial Banyak Yang Gagal Faham Pancasila

Praya, Qalama.com | Intelektual muslim yang juga Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Moqsith Ghazali mengatakan, menurunnya kepercayaan terhadap Pancasila di tengah masyarakat dikarenakan kurangnya pemahaman terhadap Pancasila

Hal tersebut disampaikan Moqsith saat menjadi pembicara pelatihan juru bicara Pancasila yang diselenggarakan Komunitas Bela Indonesia dan Qalama Institut di Lombok, Sabtu (20/10/2018) kemarin

“Ada survei, Generasi muda, terutama generasi milenial masuk dalam kelompok yang ternyata menolak keberadaan Pancasila sebagai idiologi bangsa” terang Moqsith

Selain pemahaman, mereka juga banyak terpengaruh berita bohong, ujaran kebencian utamanya di media sosial.

Moqsith juga menyampaikan hasil survei Wahid Foudation yang menemukan, generasi milenial banyak tidak percaya terhadap Pancasila, karena hampir kesehariannya banyak disuguhkan bacaan dan tayangan berbau radikalisme ditambah terorisme

“Dan gelombang radikalisme sekarang memang memuncak pada usia produktif, karena sangat rentan mudah dipengaruhi, apalagi kalau pemahaman agama termasuk Pancasila masih lemah” katanya

Temuan lain dari penelitian Wahid Foudation, Perguruan Tinggi justru banyak menjadi tempat persemayaman idiologi radikalisme dan terorisme dan termasuk mulai banyak menolak Pancasila sebagai idiologi bangsa dan lebih menyetujui konsep khilafah

Karena itulah untuk mengatasi kondisi tersebut diperlukan gerakan bersama yang melibatkan berbagai tokoh lintas agama, budaya, pemuda termasuk komunitas melakukan sosialisasi mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pancasila

“Pelatihan juru bicara Pancasila yang diselenggarakan KBI termasuk salah satu kegiatan yang penting untuk terus digalakkan, mengatasi menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap Pancasila” tutupnya.

Zogara, peserta pelatihan juru bicara Pancasila dari perwakilan Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) mengatakan, pancasila merupakan idiologi bangsa yang mampu mempersatukan diantara banyak perbedaan.

Karena itulah sudah menjadi kewajiban setiap warga negara dan generasi muda menjaga dan memelihara Pancasila sebagai idiologi bangsa dari ancaman dan rongrongan idiologi lain yang bisa mengancam keberagaman yang ada.

Irma Nurmayanti, perwakilan Jamaah Ahmadiyah menambahkan, agama mengatur kehidupan manusia dengan tuhan, sementara Pancasila merupakan idiologi yang mempersatukan kehidupan masyarakat Indonesia diantara banyak perbedaan dan keragaman yang ada.

Aktivis Solidaritas Perempuan Mataram, Siti Waidatul Hasanah menambahkan, Pancasila sebagai dasar negara yang sangat cocok dan sudah final bagi negara Indonesia, sehingga tidak bisa diganggu gugat.

By Qalama Institute

Komunitas Bela Indonesia Targetkan 1000 Relawan Jubir Pancasila

Lombok Tengah, Qalama.com – Sebagai upaya membumikan nilai dan ajaran Pancasila di tengah masyarakat Indonesia termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Komunitas Bela Indonesia (KBI) kerjasama dengan Qalama Institut menyelenggarakan pelatihan juru bicara Pancasila dengan melibatkan tokoh lintas agama, aktivis sosial media, blogger, jurnalis dan sejumlah komunitas lain

Ilma Sovri Yanti, perwakilan KBI mengatakan, pelatihan juru bicara Pancasila di seluruh wilayah Indonesia melibatkan berbagai komunitas didasarkan atas keprihatinan semakin menurunnya kepercayaan masyarakat Pancasila

“Hal tersebut didasarkan atas hasil riset LSI Deny JA, bahwa tercatat dari kurun waktu 2005 sampai 2018, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Pancasila setiap tahun cendrung menurun hingga 10 persen” kata Ilma di Lombok Tengah, Jum’at (19/10/2018)

Tahun 2018 bahkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Pancasila berada di titik terendah selama 13 tahun terakhir di angka 75,3 persen.

Kalau kondisi tersebut dibiarkan, maka akan bisa menjadi ancaman munculnya ideologi lain yang bertentangan dengan idiologi pancasila dan bisa mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang beragam dan toleran

“Ancaman tersebut bahkan sudah mulai nampak, dengan adanya keinginan dari sekelompok masyarakat ingin mendirikan negara khilafah dan menginginkan NKRI bersyariah” katanya

Padahal mayoritas masyarakat Indonesia tetap menginginkan Pancasila menguat karena hanya Pancasila yang dinilai bisa menjamin keberagaman tetap ada di Indonesia.

Yosef, Sekretaris KBI, pelatihan juru bicara Lombok mengatakan, penurunan dukungan terhadap Pancasila, karena kurangnya sosialisasi Pancasila, masih kurang maksimal, sementara, ancaman kemunculan ideologi baru bergerak dengan massif, dan sangat menghawatirkan Pancasila sebagai ideologi bangsa

Karena itulah, diperlukan gerakan secara masif pula mulai dari akar rumput, dengan melibatkan berbagai tokoh lintas agama, budaya, akademisi, aktivis, penulis dan jurnalis untuk mensosialisasikan Pancasila

“Kami meyakini, mensosialisasikan nilai dan ajaran Pancasila, selain diperlukan keteladanan, juga akan lebih berhasil melalui gerakan sosial dari akar rumput, bukan melalui lembaga pemerintahan yang cendrung kurang berhasil” katanya

Yosep menambahkan, pelatihan juru bicara Pancasila yang dilaksanakan KBI menargetkan bisa mencetak 1.000 juru bicara Pancasila dari berbagai wilayah Indonesia. Karena pelatihan juru bicara Pancasila, selain dilaksanakan di Lombok, juga di seluruh Provinsi lain di Indonesia

Dalam pelatihan nantinya, selain berdiskusi, peserta juga akan mendapatkan pelatihan pembuatan konten kreatif seperti disain grafis, vidio gafis, keterampilan menulis dan media sosial, termasuk melakukan praktik debat.

“Dengan skill yang diberikan, usai pelatihan nanti, peserta diharapkan siap dan bisa menjadi bagian inspirator yang menyebarkan gagasan positif terkait isu toleransi dan keberagaman” ungkapnya.

komunitas-bela-indonesia
By Qalama Institute

Berikut 40 Orang Yang Lulus Seleksi Pelatihan Juru Bicara Pancasila

Praya, Qalama.com | 40 orang dinyatakan lulus seleksi untuk mengikuti Pelatihan Juru Bicara Pancasila Session 10 yang akan diadakan di Lombok pada 19 – 22 Oktober 2018 mendatang. Pelatihan ini dilaksanakan oleh Komunitas Bela Indonesia (KBI) bekerjasama dengan Qalama Institute (QI) Lombok.

Koordinator Program Qalama Institute Turmudzi menjelaskan, Pancasila sebagai nilai dan ideologi bangsa belakangan ini semakin memudar. Hal ini ditandai dengan semakin tingginya tingkat intoleransi ditengah masyarakat. Menguatnya politisasi agama belakangan ini juga turut mempengaruhi harmonisasi yang terbangun lama. Kembali menguatnya sekat-sekat primordial Agama, suku, bangsa dan etnis menjadi sesuatu yang sangat mengkhawatirkan.

Pelatihan Juru Bicara Pancasila lanjutnya, akan mempertemukan kaum muda dari berbagai latar belakang agama, etnis dan suku dalam satu forum yang saling merekatkan. Forum ini diharapkan bisa menjembatani komunikasi serta dapat memperbincangkan keberagaman dan isu-isu kebangsaan secara bersama-sama.

“Tak hanya itu, mereka juga akan dilatih skill penulisan, berdebat serta manajemen media sosial” ungkapnya

Para Alumni Pelatihan Juru Bicara Pancasila ini nantinya oleh KBI akan difasilitasi untuk mengadakan kegiatan-kegiatan lanjutan dalam bentuk lain.

“Harapannya, Komunitas ini nantinya bisa menjadi inspirasi bagi orang lain untuk turut menjaga Indonesia sebagai rumah bersama yang damai” Pungkasnya.

Berikut adalah Nama-Nama Peserta yang Lulus Seleksi Mengikuti Pelatihan Juru Bicara Pancasila KBI Session 10 Lombok

  1. LENI HERLINA
  2. FITRI LKSA
  3. SITI WAIDATUL HASANAH
  4. IRMA NURMAYANTI
  5. NIRMA SULPIANI
  6. AZKIA ROSTIANA RAHMAN
  7. RONY INDRAWAN
  8. AHMAD JUMAELY
  9. HANAPI
  10. BEBIN ADI DARMA
  11. DANU NAYANGGA
  12. KHUSNUL FAIZIN
  13. MASTUR SONSAKA
  14. PANCA NUGRAHA
  15. M. SUHAILI EF
  16. ROZI KUADRAT
  17. KHAZARIL ALFIAN
  18. ROBI KUSUMA
  19. JUDIN NAGANDY
  20. ADRIANUS UMBU ZOGARA
  21. IRSAMDI
  22. SUMAINI
  23. PADIL
  24. FADIL GUNAWAN
  25. ASMAK ABDURRAHMAN
  26. KHAERUL HATAMI
  27. SAPRUL HAIRI
  28. MADE ARI
  29. SRI WAHYUNINGSIH
  30. YEK IMAM
  31. LALU M. TOLKHAH
  32. RATNA NURASLI
  33. GEDE RAHMAT GHAZALI
  34. MASIH IRFAN JAUHARI
  35. MUHAMMAD AFIFUDIN RAHMAT
  36. ABDUL KHALIK
  37. SIRAJUDDIN ABAS
  38. ZIANAWATI
  39. ROHMANIAH
  40. LALU MADE SUKMAJAYADIMAJAYADI
By Qalama Institute

Qalama Institute Akan Selenggarakan Sekolah Harmoni Indonesia

Mataram, Qalama.com | Setelah sempat tertunda karena peristiwa gempa, Qalama Institute bekerjasama dengan Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK-Indonesia) dan Friedrich Ebert Stiftung (Fes) Indonesia jadinya akan menyelenggarakan Sekolah Harmoni Indonesia (SHI) pada 28 September sampai 30 September 2018 mendatang.

Kegiatan yang akan diikuti oleh 35 mahasiswa dari berbagai etnis dan agama ini akan berlangsung di Mataram dan menghadirkan beberapa pembicara nasional salah satunya Yudi Latif, P.hD.

Direktur Qalama institute, Ahmad Jumaili mengatakan, SHI adalah wadah pendidikan dan workshop tata kelola keberagaman dengan segala masalahnya.

Dikatakannya, keragaman budaya, agama, etnis dan bahasa menjadi keniscayaan di Indonesia. Namun acapkali keragaman ini menjadi masalah sosial, mulai dari prasangka hingga konflik kekerasan antar-kelompok. Padahal menurutnya, keragaman harus diterima dan disyukuri.

“Keragaman ini yang membuat hidup kita indah. Ada begitu banyak etnis, bahasa, agama, keyakinan dan kepercayaan di Indonesia, jumlahnya bukan lagi puluhan tetapi ratusan” Kata Jumaili.

Ia menambahkan, karena itu masyarakat perlu dan bahkan harus memiliki kemampuan untuk mengelola perbedaan dan keragaman agar tidak menjadi masalah serius dibelakang hari.

“Sekolah Harmoni ini salah satu yang kita upayakan demi meminimalisasi potensi masalah serius itu” ujarnya.

Sekolah Harmoni Indonesia mengundang para peserta dari beragam kelompok, keyakinan dan agama. Mereka akan diberikan materi yang memiliki perspektif “menerima yang lain” (accept the others) baik melalui kisah-kisah para pendiri bangsa dan budaya nusantara yang serta kajian-kajian aktual dari berbagai sumber.

“Kita berharap, kegiatan ini akan melahirkan pribadi-pribadi yang bisa memberikan inspirasi kebaikan dan kedamaian bagi lingkungan komunitasnya” Pungkasnya.

Bencana-gempa-lombok-shelter-box-ansor
By Qalama Institute

Gp Ansor dan Rotari Indonesia Bangun 350 Shelter Box di KLU

Qalama.com – Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC Gp Ansor) Kab. Lombok Utara (KLU), Rotari Indonesia Dan Pememerintah Daerah (Pemda) KLU sejak tanggal 24 Agustus 2018 lalu melakukan kerjasama membangun Rumah Hunian sementara berupa 350 buah Shelter Box lengkap yang akan digunakan oleh pengungsi Gempa Lombok. Hal tersebut dijelaskan ketua GP ansor KLU Ustad Jalil di Tanjung pada Ahad (26/08) kemarin.

Ia menambahkan, tujuan pendirian shelter box ini agar masyarakat lebih nyaman dan mengantisipasi musim hujan yang akan segera datang sekitar bulan Oktober.

Shelter Box akan disebar di seluruh kecamatan di kabupaten Lombok utara dan akan diperuntukkan bagi masyarakat yang bemar-benar tidak mampu terutama di tengah keluarga yang dihuni lansia, balita, ibu hamil, atau ibu menyusui.

“Ada prioritas korban yang akan mendapatkan fasilitas ini, caranya silakan masyarakat mengajukan bantuan melalui pemerintah dusun dan desa kemudian akan diverifikasi oleh Pemda KLU sesuai dengan kriteria-kriteria yang sudah kami tentukan” Jelas Jalil.

Hingga hari ini, sudah 50 shelter box yang sudah dibangun di Kecamatan Tanjung.

Selain anti banjir, kelebihan lain dari Shelter Box buatan luar negeri ini, bisa dipantau melalui satelit. Sehingga jika setelah diberikan, masyarakat tidak memasangnya,  maka akan terdeteksi satelit dan akan dialihkan ke masyarakat lain yang benar-benar membutuhkan.

“Cara pasangnya mudah, nanti kami dan rotari akan melatih masyarakat bagaimana cara memasangnya” Jelas Jalil.

Selain membangun Shelter Box, GP Ansor KLU juga sedang mempersiapkan pembangunan 100 unit Hunian sementara (Hunatara) yang nantinya langsung akan dijuluki kampung Ansor.

“Kalo yang ini rencananya berlokasi di kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara”. Pungkasnya

By Qalama Institute

Setelah Zulhadi, PMI Kehilangan Lagi Relawan Terbaiknya Di Gempa Lombok

Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Telah berpulang sahabat kami, relawan terbaik kami, Afni Fastabiqul Strata Utama (26 tahun), Relawan Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah yang gugur saat bertugas membantu masyarakat terdampak Gempa Lombok. Afni Fastabiqul Strata Utama meninggal dunia pada Jumat, 24 Agustus pukul 07.30 WITA. Gugurnya Afni Fastabiqul Strata Utama atau yang akrab disapa Tata ini menjadi kali kedua PMI kehilangan relawannya yang tengah bertugas dalam operasi tanggap darurat Gempa Lombok.

Tata bertugas di Lombok sejak 18 Agustus 2018 dan berabung dalam Tim WASH (Water Sanitation Hygiene) PMI untuk bertugas selama 1 bulan di Lombok. Sehari-harinya, almarhum bertugas mengantarkan air bersih dengan mengendarai kendaraan tangki air PMI untuk disalurkan ke masyarakat terdampak gempa di wilayah Lombok Utara.

“Semasa bertugas, almarhum bertugas mendistribusikan air bersih ke warga-warga yang membutuhkan air bersih di sejumlah desa di Lombok Utara,” ujar Koordinator Tim WASH PMI, Sukri, SKM.

Koordinator WASH PMI Sukri menjelaskan kronologi kejadian sebagai berikut:

Jumat pagi pukul 06.15 WITA almarhum sempat dibangunkan oleh seorang rekannya yang bersama-sama menempati Camp WASH PMI di Dusun Lokorangan, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.

“Kami terbiasa setiap pagi saling membangunkan teman-teman untuk sarapan, bersih-bersih, dan bersiap untuk bertugas. Saat dibangunkan, Tata saat itu masih sadar, tapi ia kembali tidur. Saya pikir mungkin dia masih butuh tidur karena toh hari masih pagi,” jelas Sukri.

Pukul 07.19 teman-temannya kembali membangunkan almarhum yang belum juga terbangun, namun saat itu mereka menyadari bahwa almarhum sudah tidak ada respon dan sudah tidak ada denyut nadi. Tim WASH lalu bergegas mengontak Tim Medis PMI yang berada di Posko PMI Rest Area Kayangan untuk meminta ambulans.

Almarhum segera dibawa dengan ambulans PMI dan dirujuk ke Puskesmas Gangga, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Dalam perjalanan menuju puskesmas, tim medis PMI sempat melakukan pijat jantung dan pengecekan ulang respon almarhum, namun sudah tidak ada tanda kehidupan. Tim medis PMI memperkirakan almarhum sudah meninggal sejak di Camp WASH PMI.

Tim dokter di puskesmas kembali melakukan pemeriksanaan, namun menyatakan almarhum sudah meninggal. Puskesmas mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Almarhum dinyatakan meninggal pukul 07.30 WITA.

Hari ini Jenazah Afni Fastabiqul Strata Utama akan dibawa ke Markas PMI NTB di Mataram untuk acara pelepasan resmi dan doa bersama oleh Pengurus dan para relawan. Selanjutnya jenazah akan diterbangkan ke Semarang untuk dimakamkan di kota kelahirannya di Pekalongan Jawa Tengah.

Informasi lebih lanjut: Arifin Muhammad Hadi, Kepala Divisi Penanggulangan Bencana Markas Pusat PMI, 081297777755. Kontak Media: Aulia Arriani, Kepala Biro Humas PMI Pusat, 0816795379.

By Qalama Institute

Lombok yang bhineka!

Ahmad Jumaili
Qalama Institute

Jika anda ingin menyaksikan dan merasakan praktik persaudaraan Islam (Ukuwah Islamiyah), Persaudaraan kebangsaan (Ukhuwah Wathoniyah) dan persaudaraan dalam Kemanusiaan (Ukhuwah Basyariyah/Insaniyah), maka datanglah ke Pulau Lombok. Disini engkau akan menyaksikan betapa 3 macam ukhuwah ini berjalan secara baik penuh kedamaian.

Jauh sebelum bencana Gempa ini melanda kami, di bumi yang dijuluki pulau seribu masjid ini, kami telah hidup berdampingan walaupun beda agama, beda etnis, beda bahasa dan beda ras. Disini ada Islam, Hindu, Budha, Kristen, berbagai aliran kepercayaan seperti Bodha dan Komunitas Wetu Telu. Juga beragam etnis seperti Sasak, Samawa, Mbojo, Bugis, Jawa, Bali, Batak, Betawi dll. Begitupula ormas, disini ada Nahdlatul Ulama, Nahdlatul Wathan, Muhammadiyah, Persis dll.

Kami bukan Taman Mini yang dibikin-bikin, tapi benar-benar miniatur Indonesia yang natural.

Adalah biasa,
Ummat Islam dan Ummat Hindu saling undang acara rowah mulud atau Galungan.

Adalah biasa,
Ummat Kristiani dan Ummat Islam saling undang di acara Natal dan Iedul Fitri.

Adalah biasa,
Anak-anak anak-anak dari berbagai agama sekolah dan bermain di tempat yang sama.

Adalah biasa,
Kami di Lombok, bermuamalah di kampung, di pasar, di pusat-pusat keramaian, saling sapa dan saling penuhi kebutuhan tanpa melihat latar belakang agama…

Maka ketika terjadi bencana…
Persaudaraan kami terasa semakin erat, jalinan persaudaraan kebangsaan dan kemanusiaan terasa semakin kuat. Maka lihatlah, bantuan dan pertolongan untuk korban gempa ini datang dari berbagai penjuru tampa bertanya bantuan ini darimana, agamanya apa, etnis apa, sukunya apa. Karena bantuan tak punya entitas agama.

Saya Bersyukur menjadi Indonesia!
Saya Bersyukur menjadi Lombok yang Bhineka!

Islam-nusantara-berkemajuan
By Qalama Institute

Islam Nusantara yang Berkemajuan

Islam-nusantara-berkemajuan
Fawaizul Umam *Dosen Filsafat Islam Pascasarjana IAIN Jember

Islam itu tunggal, tetapi ekspresi keberislaman senantiasa beragam. Tak pelak, secara konseptual, kita jumpai Islam dengan sekian atribusi. Ada Islam Nusantara, Islam Berkemajuan, Islam Kaffah, Islam Terpadu, Islam Hadhari, Islam Emansipatoris, Islam Transformatif, Islam Liberal, dan lain-lain.

Semua atribusi itu sejatinya absah saja. Logis, karena pluralitas keberislaman memang niscaya. Namun, belakangan ini perdebatan tentang aneka konsep keberislaman itu kembali membuncah. Terutama di jagat maya, pro-kontra berlangsung begitu riuh. Sebagian produktif, tetapi lebih banyak yang kontraproduktif. Alih-alih pengayaan wacana, yang kerap terjadi justru cuma “jual-beli” olok-olok tak berkesudahan antarpenganut.

Tanpa bermaksud menegasi konsep-konsep keberislaman lain, tulisan ini mengetengahkan Islam Nusantara ajuan NU dan Islam Berkemajuan besutan Muhammadiyah dalam suatu formulasi eklektik keberislaman. Gagasan Islam bercitarasa Nusantara dan Islam berspirit kemajuan dipandang paling kontekstual dengan realitas kedisinian bangsa dan tantangan kekinian umat. Selain karena kedua konsep bermuara pada peneguhan marwah Islam sebagai rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin), komitmen kedua ormas dalam mengawal NKRI menjadi starting point mengapa tawaran konsep keberislaman mereka terasa lebih relevan.

Terlebih saat ini, ketika ideologi islamisme transnasional yang bertendensi ekstrem-radikal kian massif mengancam kebhinnekaan sekaligus merongrong NKRI.

Bukan Ide Baru

Sebagai ide, apa yang disebut Islam Nusantara sebenarnya bukan hal baru. Setidaknya sudah sejak 1990-an sejumlah intelektual Muslim seperti Gus Dur telah mewacanakannya lewat gagasan Pribumisasi Islam. Kemudian di paruh awal 2000-an Azyumardi Azra meneguhkannya ulang lewat gagasan tentang Islam yang khas Nusantara sebelum kemudian NU melansirnya pada Muktamar 2015 di Jombang.

Merujuk identifikasi Azra (2010), “Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya, dan agama di Indonesia”. Tegasnya, keberislaman khas Nusantara adalah realitas keseharian yang diejawantahkan umat Islam Indonesia sedari lama; ide Islam Nusantara sekedar mengidentifikasi sekaligus mendefinisikan realitas tersebut yang sudah berlangsung sejak Islam awal kali menyapa kawasan Nusantara.

Secara epistemologis, keberislaman khas Nusantara memang faktual. Islam tidaklah lahir dari situasi vakum budaya. Ia yang semula tunggal, secara historis, telah dimaknai umat ke dalam banyak versi di setiap disparitas tempat, waktu, dan situasi. Dan Islam Nusantara hanyalah salah satu varian pemaknaan atas keislaman yang niscaya oleh konteks kekinian dan kedisinian. Ia melengkapi varian keberislaman lain seperti Islam Persia, Islam Saudi, Islam Mesir, Islam Turki, Islam Tiongkok, dan Islam Amerika. Keragaman itulah yang justru menegaskan bahwa Islam memang senantiasa relevan di setiap waktu dan tempat (shalih likulli zaman wa makan).

Demikian juga ide Islam Berkemajuan. Ia ide lama, bahkan kelahiran Muhammadiyah sendiri dilambari kesadaran tersebut, kesadaran untuk membuat umat Islam maju. Spiritnya lalu diejawantahkan ke dalam ikhtiar melukar umat dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Amal usaha Muhammadiyah di ranah pendidikan, kesehatan, dan ekonomi umat merupakan sebagian dari manifestasi ide besar tersebut.

Mengutip Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Islam Berkemajuan merupakan visi keislaman yang tidak terikat dimensi ruang dan terbatasi waktu, tetapi terkait dengan dimensi gerak, yakni menggerakkan umat Islam dan bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Umat dibebaskan dari segala yang menghambat kemajuan dengan strategi pemberdayaan melalui pendidikan dan pemajuan ilmu pengetahuan.

Simpulnya, Islam Nusantara yang menyimpan kekhasan legacy Nusantara nan kaya berpeluang turut bersumbangsih bagi revivalitas peradaban Islam dalam konteks global. Namun, peluang tersebut rentan sirna jika keberislaman Nusantara itu pada saat yang sama tidak menyematkan spirit berkemajuan di dalamnnya. Islam yang berpikiran maju dan toleran terhadap keragaman adalah prasyarat mutlak untuk menjauhkan umat dari tendensi radikalisme-ektremisme dalam beragama, berbangsa, dan bernegara.

Membendung Islamisme

Keberislaman yang ramah dengan kebhinnekaan seperti diidealisasi Islam Nusantara sekaligus yang berspirit kemajuan sebagaimana dimaui Islam Berkemajuan kini penting direvitalisasi. Penting, khususnya untuk menampik geliat islamisme radikal dan ekstrem yang cenderung selalu bergerak dengan logika “Islam otentik” sekaligus rajin mengeksploitasi keterpurukan umat.

Dengan nalar purifikasi, logika tersebut mengasumsikan bahwa ada Islam “murni” yang tunggal-seragam sehingga secara paradigmatik seluruh varian keislaman di luarnya harus dinegasi. Sementara keterpurukan umat di berbagai sektor kehidupan adalah potensi yang secara teologis kerap dimainkan sebagai sumbu pemantik radikalisme dan ekstremisme.

Logika dan strategi sedemikian lazim dihela kelompok-kelompok islamis untuk terus menggadang-gadang Islam sebagai preferensi sekaligus referensi tunggal dalam setiap aspek kehidupan. Ini ancaman serius bagi kebhinnekaan. Di aspek kehidupan politik, misalnya, mereka rajin mengancang ulang ide kesatuan agama dan negara (din wa dawlah). Ide islam-politik seperti “negara Islam” atau “khilafah” menjadi agenda rutin yang mereka endorse ke ruang publik. Ini membuat NKRI terancam gulung tikar.

Dalam konteks itu, Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan diametral berpunggungan dengan dan karenanya menjadi antitesis dari logika dan strategi “Islam otentik”. Oleh karena itu, NU dan Muhammadiyah haruslah bersinergi menumbuhkan keduanya dalam satu tarikan nafas, mengembangkannya dalam kesadaran religius umat guna menghadang laju islamisme transnasional yang berambisi menyeragamkan keberislaman dan kontraproduktif bagi upaya pemajuan umat.

Disebut-sebut menulangpunggungi moderasi Islam Indonesia, kedua ormas tersebut memang telah berperan mempromosikan pemahaman keislaman berkarakter wasathiyah yang moderat dan toleran. Peran itu patut untuk terus diteguhkan agar Islam tetap menjadi rahmat bagi semua dan NKRI yang menjadikan Pancasila sebagai titik kompromi kebhinnekaan bangsa tetap lestari. Ke sanalah sinergi antarkeduanya mesti diarahkan seraya mulai belajar berhenti membuang-buang energi untuk soal-soal “remahan” seperti kontroversi penentuan awal Idul Fitri dan kepentingan-kepentingan politik elektoral.

*) Fawaizul UmamDosen Filsafat Islam Pascasarjana IAIN Jember
* Tulisan ini pernah dimuat di Jawa Post Jumat, 3 Agt 2018, di Radar Jember Jawa Pos.

By Muhammad Tohri

Liga Santri Nusantara Regional I Resmi Dibuka Oleh Sekda NTB.

Sekda NTB, Kadispora NTB, Polda NTB, dan Panitia Pelaksana

Liga Santri Nusantara (LSN) Region NTB I, melakukan Opening ceremonial Pada rabu tanggal 01 agustus 2018 beberapa hari yang lalu.

Acara tersebut dihadiri langsung oleh beberapa pejabat Provinsi yakni Sekda NTB, Dr. Rosiadi Sayuti dan Kadispora ibu Husnanidiaty Nurdin, serta beberapa jajaran dari kapolda NTB.

Kegiatan liga santri Nusantara (LSN) diikuti oleh 32 club sepak bola dari Ponpes yang tersebar di kota mataram, lombok barat, lombok tengah dan KLU.

Dalam Sambutannya Drs. H. Jamhur M.Pd, ketua RMI-NU NTB yang sekaligus Sebagai Koordinator Regional (Koreg) Bali Nusra I menyatakan bahwa santri kerap kali identik dengan mengaji atau mmbaca kitab, namun melalui LSN ini santri Bisa membuktikan kemampuannya dalam berolaharaga khususnya di bidang Sepak bola.

Ia juga menyampaiakan bahwasanya pembinaan yang minim dan perhatian yg kurang, menyebabkan santri di NTB belum mencapai hasil yang memuaskan, sehingga Pada seri Nasional kemarin, perwakilan Ponpes juara LSN Reg I hanya bertahan sampai 16 Besar.

Kegiatan LSN 2018 kali ini dipusatkan di Lapangan GOR Turide Mataram. Kick off langsung dibuka oleh Sekda Provinsi NTB bapak Rosiady Sayuti.

Dalam pidatonya, Sekda NTB memberikan Motivasi kepada para santri untuk terus menggelorakan semangat olaharaga, serta ia pun menyanggupi bahwa Tiket Ke Seri Nasional nanti akan ditanggung oleh Pemrintah Provisnsi melalui Kadispora NTB.

Dalam wawancara diakhir kegiata Ketua LSN Nusra I, Syukron Hadi ME. Menuturkan bahwasanya LSN bertujuan mencari bibit pemain sepak bola dari kalangan santri, ditambahkan, ia sngat yakin bahwa santri merupakan gudangnya pemain berbakat.

Ia juga cukup bangga, bahwa pembukaan LSN kali ini sangat meriah dibanding dengan LSN tahun tahun sebelumnya, antusias santri luar biasa, serta ditambah dengan dukungan dari pemerintah yang sudah mengijinkan untuk penggunaan Lapangan GOR sebagai pusat LSN, bahkan yang sangat membahagiakan adalah pernyataan sekda NTB yg menyanggupi akan menanggung Tiket Ke seri Nasional.

“Apa yg disampaikan Sekda NTB merupakan angin segar bagi LSN tahun ini, kita berharap dengan dukungan tersebut bisa menambah semangat santri dalam berlomba, serta target kita mampu masuk final di seri Nasional” jelas Syukron.